Jumat, 28 April 2017

Membandingkan Diri dengan Diri Sendiri

Membandingkan Diri dengan Diri Sendiri

Dulu,saat saya kecil saya sering sekali membandingkan Diri Sendiri dengan orang lain,terutama dengan teman-teman.Membandingkan kepandaian,kekayaan,kebahagiaan,dan lain sebagainya.Ada saat selalu bahagia saat membandingkan diri dengan orang lain,ada kalanya juga sedih menghinggapi.

Saat saya membandingkan diri dengan anak-anak yang lain yang dapat nilai rendah padahal sudah belajar mati-matian,semnetara saya mendapat nilai bagus atau lebih tinggi tanpa harus lelah belajar seperti mereka.Di sini saya merasa bangga.Saya merasa senang karena berarti saya termasuk anak yang pintar atau minimal beruntung.

Saat saya membandingkan dengan teman saya yang lebih pintar,saya merasa sedih karena saya kalah pintar.Rasanya ingin sekali saya seperti mereka yang lebih pintar dari saya,tanpa mau tahu akan apa yang sudah mereka lakukan.Mereka bekerja keras,sementara saya asik bersantai-santai.

Selalu saja membandingkan diri dengan orang lain sampai saya lupa membandingkan diri dengan diri sendiri.Membandingkan diri dengan diri sendiri?,ya,dengan diri sendiri.

Kenapa saya tidak membandingkan diri saya dengan diri sendiri?,padahal bila itu saya lakukan dari semenjka anak-anak mungkin saya akan lebih berhasil,atau minimal saya sudah maksimal dengan segala usaha dan do'a.Tapi semuanya tidak pernah saya lakukan dari dulu.

Saya lupa membandingkan diri teman-teman saya yang tidak pandai dengan diri mereka sendiri.Bagaimana jadinya kalau mereka tidak belajar,mungkin mereka akan dapat nilai yang lebih rendah.Sudah berjuang dengan belajar saja mereka mendapat nilai kecil,apalagi tidak belajar.Saya juga lupa membandingkan diri  teman-teman saya yang pintar dengan diri mereka sendiri.Apakah mereka akan tetap dapat nilai bagus saat mereka tidak belajar?.

Kenapa saya lupa membandingkan diri saya yang tidak belajar dengan saya yang belajar.Bisa dibayangkan bila saat kecil dulu saya rajin belajar,bisa saja saya mendapat nilai yang bagus,minimal mendekati nilai-nilai yang diperoleh anak-anak yang lebih pintar dari saya.Seharusnya saya harus membandingkan diri saya yang tidak belajar dengan diri saya yang belajar.Bila saja dari dulu saya rajin belajar,Insya Allah saya akan mendapatkan lebih daripada yang sudah saya dapatkan selama ini.

Sayangnya saya terlena,sehingga cuma bisa membandingkan diri saya dengan orang lain yang tidak lebih dari saya demi kesenangan sendiri.Saya lupa membandingkan diri dengan diri saya sendiri.Pantaslah dari dulu saya tak mau berusaha lebih keras untuk menggapai sesuatu yang lebih baik,sehingga hasil yang saya perolehpun tak lebih baik,dibandingkan jika saya berusaha dengan lebih giat lagi.

Selasa, 25 April 2017

Makam P. Suci Manah,P. Sapu Jagat,P. Jagasatru

Makam P. Suci Manah,P. Sapu Jagat,P. Jagasatru

Di kawasan Jagasatru yang tak jauh dari pusat perdagangan ada tiga buah Makam dalam satu area yang yang sering diziarahi oleh para peziarah.Makam tersebut adalah makam P. Suci Manah,P. Sapu Jagat,dan P. Jagasatru.M mereka semua adalah para penyebar Islam sekaligus pejuang.P. Suci Manah sendiri diketahui sebagai pendiri sebuah pesantren di kawasan Graksan Cirebon.

Apabila hendak berziarah ke makam ini,para pengunjung bisa dengan mudah menemukannya,karena ada beberapa angkot yang melewati daerah ini.Dari terminal bisa naik becak atau ojek,atau juga angkot tapi harus dua kali atau satu kali tapi harus berjalan terlebih dulu untuk sampai ke rute angkot.Angkot Jurusan Gunung Sari-Sumber atau Gunung Sari-Ciperna melewati kawasan Makam ini.Kalau dari Perumnas bisa naik angkot jurusan yang lewat daerah Jagasatru.Dari jalan raya atau Pasar Jagasatru letaknya tidak terlalu jauh,hanya beberapa puluh meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Ketiga makam ini ada di sebuah pemakaman yang jumlah makamnya tidak terlalu banyak.Di samping pemakaman ini ada sebuah Musholla yang biasa  digunakan untuk sholat,sehingga para peziarah dari luar kota tidak perlu takut kesulitan mencari tempat sholat.Pada bulan maulid biasanya makam ini semakin ramai dikunjungi oleh para peziarah,karena bertepatan dengan acara maulid di Keraton Cirebon yang banyak didatangi oleh banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia.


Makam P. Suci Manah,P.Sapu Jagat,dan P. Jagasatru 

Makam Ki Lobama

Makam Ki Lobama

Ki Lobama adalah salah seorang ulama yang dipercaya hidup sebelum era Gunung Jati.Nama aslinya sendiri bukanlah Ki Lobama,karena nama ini hanyalah sebagai nama julukan saja.Beliau adalah seorang ulama yang mempunyai banyak ilmu agama,maka karena itulah beliau mendapat julukan Ki Lobama alias Kiai yang loba (banyak) ilmu agama.

Makam Ki Lobama terdapat di Desa Mundu Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon.Dari Kota Cirebon Makam Ki Lobama ini dapat dicapai dengan naik angkot jurusan Gunung Sari-Mundu,atau bila dari terminal bisa naik Elf jurusan Cirebon-Sindang,Cirebon-Losari,atau Cirebon-Babakan.Turun di depan Pasar Mundu,dilanjutkan naik ojek atau jalan kaki.Dari Pasar Mundu letak  makamnya tidak terlalu jauh.

Suasana makam Ki Lobama bernuansa tempo dulu dengan bata-bata tua.Di depan makam ada sebuah pendopo,halaman dan pintu masuk yang unik,sementara di belakang makamnya terdapat sebuah bangunan yang menyerupai candi yang terbuat dari batu bata.

Selain makam Ki Lobama,di pemakaman ini juga banyak terdapat makam lainnya,baik yang sudah tua ataupun baru,termasuk ada juga makam anak dari Sunan Gunung Jati yang bernama Pangeran Brata Kelana.


Makam Ki Lobama 

Jumat, 21 April 2017

Sejarah Para Ardisela

Sejarah Para Ardisela

Ternyata nama Ardisela itu tidak hanya merujuk pada satu orang saja,melainkan merujuk pada beberapa orang berbeda yang menggunakan nama Ardisela ini.Nama Ardisela ini memang ada yang nama asli,nama julukan,atau nama gelar.Nama-nama Ardisela mempunyai kisah tersendiri dan sering kali digunakan sebagai taktik untuk mengelabui pihak Belanda.

Pangeran Alas putra dari Panembahan Girilaya Sultan terakhir sebelum Kesultanan terpecah menjadi dua,diketahui juga mempunyai nama Ardisela.Nama lengkapnya adalah Pangeran Alas Ardisela.Menurut informasi,makam beliau ada di Desa Luwung Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon,satu area dengan makam Pangeran Luwung yang merupakan saudara sepuh sekaligus gurunya dalam berbagai bidang ilmu.

Di Cirebon sekitar tahun 1700 hingga pertengahan 1800 an ada beberapa orang yang menggunakan nama Ardisela.Di Tuk Karangsuwung ada Mbah Raden Ardisela yang merupakan putra Demang Bratanata.Nama kecilnya adalah Raden Rustam,sedangkan nama yang tercatat di Keraton bukan Ardisela atau Rustam.Selain Mbah Raden Ardisela Tuk Karangsuwung,ada juga Kiai Ardisela dan Pangeran atau Raden Ardisela lainnya.Mereka semua adalah orang-orang yang berbeda,ada yang keturunan Syarif Hidayatullah,keturunan Sunan Kalijaga,dan lain sebagainya.

Di Indramayu,tepatnya di Desa Sleman Kecamatan Sliyeg ada makam Ardisela.Ada yang mengatakan jika Makam tersebut hanyalah petilasannya saja,namun ada juga yang meyakini jika makam tersebut benar-benar makam orang yang mempunyai nama Ardisela.Menurut sebagian orang-orang keturunan Pesantren Buntet,Pemijen,Dongkol,dan beberapa pesantren lainnya di Cirebon,makam Ardisela yang berada di Desa Sleman ini adalah makam Kiai Ardisela Buntet,yang tak lain adalah teman seperjuangan dan sekaligus adik ipar Mbah Muqoyim.Di Cirebon sendiri selain nama Raden Ardisela Tuk,ada juga nama Kiai Ardisela Buntet atau Dawuan Sela yang sering disebut oleh sesepuh terdahulu.Kiai Ardisela Buntet inilah yang makamnya ada di Desa Sleman tersebut.Sementara pendapat lain mengatakan makam Kiai Ardisela berada di Tuk Karangsuwung juga,tepatnya berdekatan dengan makam Mbah Muqoyim.Sementara pendapat lain mengatakan jika makam Ardisela yang berada di area yang tidak jauh dari makam Mbah Muqoyim adalah makam Kiai Ardisela Gozali,yang tak lain adalah menantu Mbah Muqoyim.

Dalam buku 'Perlawanan Dari Tanah Pengasingan' hal 16 disebutkan Kiai Ardisela ini menikah dengan adik Mbah Muqoyim yang bernama Nyai Alfan,yang akhirnya dikaruniai dua anak yaitu Kiai Muhamad Imam dan Nyi Kapiyun.Kiai Muhamad Imam sendiri pada akhirnya banyak menurunkan ulama yang turut membantu perkembangan pesantren-pesantren di Cirebon,terutama di Pesantren Buntet dan Benda.Salah satu cicit Kiai Ardisela dengan Nyi Alfan yang dikenal banyak orang sebagai ulama adalah Kiai Anwarudian alias Kiai Kriyan.

Nyai Kapiun putri Kiai Ardisela dan Nyai Alfan ini menikah Dengan Kiai Mas Khanafi Jaha atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah atau Buyut Jaha.Buyut Jaha sendiri sebenarnya orang yang dulunya sering disebut dengan sebutan Ardisela juga,yaitu Ardisela Jaha.Makam Mbah Buyut Jaha ini ada di Desa Sampiran,Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon.

Di daerah Kuningan juga ada makam Ki Ageng Ardisela,tepatnya berada di Desa Cirea,Kecamatan Mandirancan Kuningan.


Di Cirebon nama Ardisela ini ada lebih dari satu namun hanya beberapa saja yang kisah dan makamnya diketahui.Di Blok keradenan Desa Sindangmekar Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon juga ada makam dengan nama Ardisela.Namun sedikit orang yang mengetahuinya.Dukupuntang dulunya memang dikenal sebagai basis perjuangan para pejuang,baik dari keluarga keraton,ulama,dan mayarakat umum lainnya yang hendak menyusun strategi dalam melawan penjajah.

Di Sumedang ada Ardisela yang merupakan seorang ulama yang juga seorang pejuang.Usia dan masa hidupnya diperkirakan tak jauh dengan Ardisela yang lainnya.Nama beliau adalah Pangeran atau Raden Asyrofudin,yang merupakan keturunan Sultan Kasepuhan.Beliau ini dikenal sebagai pendiri Pesantren Ardisela Singa Naga,yang sekarang ini namanya sudah berganti menjadi Pondok Pesantren Asyrofudin.

Di Banyuwangi dan Pekalongan ada juga makam seorang pejuang yang bernama Ardisela,namun entah ada kaitannya dengan Ardisela yang berada di Cirebon,Indramayu,Sumedang,Kuningan atau tidak.Menurut sebuah sumber,saat itu para pejuang yang menggunakan nama Ardisela diketahui jati dirinya dan diminta pergi meninggalkan Cirebon,agar tidak ada lagi pemberontakan yang dilakukan oleh mereka dan para pejuang lainnya.

Senin, 17 April 2017

Belajar dari Mbah Fanani dan Masyarakat Dieng

Belajar dari Mbah Fanani dan Masyarakat Dieng

Ketika Mbah Fanani datang ke Dieng,tak seorangpun tahu siapa beliau,asal usulnya,kedudukannya,dan lain sebagainya.Yang orang tahu adalah Mbah Fanani hidup seorang diri tanpa sanak saudara, tanpa harta atau benda.Melihat Mbah Fanani dengan pakaian ala kadarnya,tak bertempat tinggal dan entah makan dari mana,orang-orang yang melihatnya menjadi iba dan perduli,ketulusan mereka diuji.

Pada akhirnya mereka memberikan tempat berteduh untuk Mbah Fanani,memberinya makan,pakaian dan lain sebagainya,dan tentu saja semua itu mereka lakulan tanpa mengharap apapun,apalagi meminta balasan dari Mbah Fanani.Sungguh sebuah cerita yang indah,di mana orang-orang begitu peduli pada Mbah Fanani yang menurut mereka hanya orang biasa,bukan siapa-siapa dengan segala cerita dan embel-embelnya.

Lambat laun banyak orang mendatangi Mbah Fanani,konon hal ini mereka lakukan karena mereka mengetahui kelebihan-kelebihan beliau.Cerita yang dulu hanya diketahui dari mulut ke mulut dan di kalangan keluarga serta kerabatnya saja,di era internet dan medsos ini ceritanya menjadi begitu cepat menyebar.Mbah Fanani menjadi sebuah fenomena dan semakin banyak saja orang-orang yang berlomba mendatanginya.Mereka yang datang tentu saja dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya.Ada yang bertujuan baik,namun tak sedikit juga yang bertujuan kurang baik.Ada yang sekedar sowan atau bersilaturohim,namun tak sedikit pula yang berharap banyak setelah menemuinya.

Mbah Fanani dan Masyarakat Dieng,sebenarnya mereka sedang mengajarkan kepada kita untuk perduli pada sesama,tanpa memandang status,tanpa memandang asal usul.Menolong orang yang perlu ditolong,perduli pada siapa saja.

Seandainya Mbah Fanani diketahui tak mempunyai kelebihan,masih adakah orang yang mau perduli padanya?,masih adakah orang yang mau mendatanginya untuk sekedar bersilaturohim?,asakah orang yang melakukan hal seperti apa yang dilakukan oleh masyarakat Dieng saat mereka memperlakukan Mbah Fanani,sejak pertama kali Mbah Fanani datang beberapa belas tahun lalu tanpa mereka tahu siapa Mabh Fanani yang sebenarnya.

Sepertinya saya harus banyak belajar pada Mbah Fanani dan masyarakat Dieng.Perduli dan ikhlas.

Minggu, 16 April 2017

Antara Keraton dan Pesantren di Cirebon

Mbah Raden Ardisela (20)

Keraton,bagaimanapun adalah sentral atau pusat peradaban Islam di Cirebon dan sekitarnya.Begitulah peran keraton dari masa ke masa,semenjak keraton Cirebon berdiri hingga beberapa generasi.Namun lambat laun peran keraton sebagai pusat peradaban Islam itu semakin terkikis,hal ini tidak terlepas dari pengaruh dan campur tangan penjajah Belanda dan penjajah dari bangsa lainnya.

Semenjak Belanda semakin turut campur tangan dalam kehidupan keraton,semenjak itu pula peran keraton sebagai pusat penyebaran ajaran Islam semakin redup.Hal ini semakin diperparah dengan banyaknya putra dan putri keraton yang keluar dari lingkungan keraton,terutama para keturunan yang masih perduli pada ajaran Agama Islam dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

Pengaruh Belanda yang masih terlihat hingga kini adalah berupa benda-benda peninggalan Belanda yang memang sangat jauh sekali dengan nilai-nilai Islam.Contoh yang masih ada adalah gambar-gambar di keramik yang terdapat di makam Sunan Gunung Jati.Beberapa keramik khas Belanda tersebut bergambar wanita dengan busana sedikit telanjang,hingga tulisan ini dibuat keramik bergambar tak senonoh itu masih terdapat di tembok bagian luar makam Sunan Gunung Jati.

Banyaknya keturunan keraton yang keluar dari kehidupan keraton memang tak selalu berdampak negatif,karena hal tersebut bisa menjadi berkah tersendiri,baik untuk keraton maupun untuk masyarakat pada umumnya,karena tak sedikit dari keturunan keraton yang akhirnya mendirikan pesantren.Kalaupun dari mereka tidak mendirikan pesantren,paling tidak mendorong dan membantu orang lain untuk mendirikan pesantren.

Pesantren Buntet adalah salah satu contoh pesantren yang didirikan oleh seorang ulama keturunan Syekh Syarif Hidayatullah yang bernama Mbah Muqoyim.Hal ini sebagai bentuk protes dan juga perlawanannya kepada penjajah Belanda yang membuatnya memilih meninggalkan jabatannya sebagai Mufti di Keraton Kanoman.Sementara keturunan Syekh Syarif Hidayatullah lainnya yang bernama Mbah Raden Ardisela membantu perjuangan Mbah Muqoyim dengan sepenuh jiwa.

Ketika terjadi pergolakan di Keraton Kanoman,Mbah Muqoyim beserta para ulama dan santri turut membantu.Putra mahkota yang saat itu diasingkan di luar Jawa akhirnya dikembalikan ke Cirebon dan diberikan kembali haknya.Putra Sultan tersebut hingga kini keturunannya memimpin Keraton Kacirebonan.
Selain Pesantren Buntet,secara bertahap di Cirebon dan sekitarnya sendiri berdiri banyak pesantren yang didirikan oleh ulama-ulama yang masih merupakan keturunan Syekh Syarif Hidayatullah baik dari jalur laki-laki atau perempuan,di mana pesantren-pesantren tersebut tidak saja didatangi oleh santri dari Cirebon dan sekitarnya,tetapi juga dari daerah-daerah lainnya yang terbilang jauh dari Cirebon.Beberapa pesatren tersebut antara lain adalah Pesantren Babakan Ciwaringin,Pesawahan,Tuk Karangsuwung (samping stasiun/dekat makam),Benda Kerep,Gedongan,Kempek,Balerante,dan lain sebagainya.

Walau sudah keluar dari keraton,para putra dan putri keturunan keraton  tetap masih perduli pada keraton beserta dinamika yang menyertainya.Begitu juga dengan para ulama keturunan keraton,mereka masih tetap perduli pada keraton hingga membuat beberapa dari mereka akhirnya kembali bekerja dan merawat  keraton,karena bagaimanapun keraton adalah warisan yang perlu dipelihara dan perlu dijaga kelanjutannya,terutama demi menjaga nilai-nilai ajaran Agama Islam,agar pengaruh negatif penjajah tak semakin merajalela.

Keraton dan pesantren-pesantren yang didirikan oleh ulama-ulama keturunan keraton  benar-benar sudah terpisah sesuai dengan latar belakang dan tujuan masing-masing.Keraton ramai dengan aneka kegiatan budayanya,sementara pesantren ramai dengan aneka kegiatan pendidikan dan keagamaanya.Keraton dan pesantren berjalan sendiri-sendiri namun satu sama lain tetap saling melengkapi.

Makam Buyut Bodri (Kanci)

Makam Buyut Bodri (Kanci)

Selain makam Demang dan makam Sanga,di Kanci juga ada makam lain yang kerap dikunjungi oleh para peziarah,yaitu makam Mbah Buyut Bodri.Nama Buyut Bodri sendiri adalah Pangeran Tunggal Melayu Menurut kisah beliau adalah anak dari Pangeran Kuda Pangrawit yang berasal dari kerajaan Mataram.Saat itu beliau pergi ke arah barat Jawa untuk belajar Agama Islam bersama kedua adiknya,yaitu Nyi Mas Arum Sari (dilkenal juga dengan sebutan Nyi Mas Cempaka Mulya yang makamnya berada di Desa Keraton-Celancang),dan Raden Saputra.

Menurut juru kunci makam,Buyut Bodri hidup sezaman dengan Ki Lobama yang makamnya ada di Mundu Mesigit. Beliau hidup di era sebelum Syarif Hidayatullah.

Untuk mencapai Makam Buyut Bodri tidaklah susah,dari Cirebon naik saja mobil jurusan Sindang Laut dan turun di masjid atau balai desa Kanci Kulon.Dari jalan raya Kanci letak makam Buyut Bodri ini tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Makam Buyut Bodri sendiri terbilang bersih,sudah beratap dan nyaman untuk para peziarah yang hendak berziarah.

Senin, 10 April 2017

Makam Pangeran Drajat

Makam Pangeran Drajat

Di daerah Drajat Kota Cirebon terdapat sebuah makam yang sebenarnya adalah petilasan dari Pangeran Drajat atau Sunan Drajat yang juga sering diziarahi oleh banyak peziarah dari berbagai daerah,tak hanya dari Cirebon saja.Petilasan Pangeran  Drajat terletak di sebuah pemakaman di belakang masjid yang biasa disebut Masjid Drajat.Selain petilasan Pangeran Drajat,di sini ada makam Nyi Mas Ageng Pancuran dan makam Pangeran Sifat Luhung yang merupakan santri dari Pangeran Drajat yang melanjutkan Syiar ajaran Islam yang sudah dilakukan oleh Pangeran Drajat.

Di makam dengan nuansa warna merah yang berada di tengah-tengah Kota Cirebon ini terbilang bersih dan rapih,sehingga membuat betah dan tenang para peziarah.Di sekeliling bangunan utama makam ini sudah padat dengan makam-makam lainnya.

Untuk mencapai pemakaman ini sangat mudah,dari Terminal Harjamukti Kota Cirebon bisa dicapai dengan ojek atau becak dengan biaya yang tidak terlalu mahal.Beberapa angkot yang melewati makam ini adalah angkot jurusan Gunung Sari-Sumber,Gunung Sari-Ciperna,dan beberapa angkot lainnya.


Makam Pangeran Drajat

Minggu, 09 April 2017

Makam Pangeran Suryanegara

Makam Pangeran Suryanegara

Pangeran Suryanegara adalah seorang ulama dan pejuang yang merupakan putra dari seorang Sultan Kasepuhan.Masa hidupnya beliau habiskan untuk berjuang melawan penjajah Belanda yang suka berbuat semena-mena terhadap rakyat dan juga terlalu banyak campur tangan dalam urusan Keraton Kasepuhan.

Makam Pangeran Suryanegara terletak di kawasan Wanacala,Harjamukti Kota Cirebon.Makam beliau dapat ditempuh melewati jalan antara Cirebon-Kuningan.Untuk mencapai Makam ini tidaklah susah,karena letaknya yang strategis dan tidak terlalu jauh dari jalan umum.Untuk mencapai lokasi ini para peziarah bisa naik Elf atau bus jurusan Cirebon-Kuningan,atau angkot jurusan Gunung Sari-Ciperna.Turun di Wanacala,dilanjutkan dengan jalan kaki beberapa puluh meter saja dari jalan raya.

Komplek pemakaman Pangeran Suryanegara terbilang bersih,rapih dan rindang.Suasana bangunan jaman dahulu berpadu dengan bangunan masa kini.Makamnya sendiri berada di sebuah bangunan yang dikelilingi makam-makam lainnya, baik itu Makam keluarga,keturunan,maupun makam lainnnya yang berada di luar bangunan.


Makam Pangeran Suryanegara


Makam-makam lain yang berada di sekeliling Makam utama

Makam Mbah Kiai Ta'rifudin (Pemijen-Asem)

Makam Mbah Kiai Ta'rifudin (Pemijen-Asem)

Mbah Ta'rifudin adalah seorang ulama sekaligus pejuang yang dianggap sebagai waliyullah oleh banyak orang.Beliau adalah pendiri Pesantren Pemijen Desa Asem Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon.Masa hidup beliau bersamaan dan berjarak tidak jauh dengan Mbah Muqoyim dan Mbah Raden Ardisela.

Mbah Kiai Ta'rifudin sendiri dikenal sebagai ulama yang mempunyai menantu yang juga dikenal sebagai ulama-ulama  saat itu.Beliau tercatat sebagai mertua beberapa Kiai di Cirebon di tahun 1800 an,seperti Mbah Sholeh Pesantren Benda,Mbah Raden Raksa Tuk Karangsuwung,dan beberapa ulama lainnya di Cirebon.Beliau adalah leluhur para kiai di Pesantren Buntet,Benda Kerep,Kempek,Gedongan,dan Pemijen sendiri.

Mbah Ta'rifudin dikenal sebagai ulama yang tidak mau bekerjasama dengan Penajajah.Beliau juga dikenal sebagai seorang ulama tasawuf yang tidak suka dengan kehidupan dunia.Pesantren yang didirikannya pun jauh dari kesan mewah,bahkan setelah seabad lebih kepergiannyapun pesantrennya tetap tak jauh berubah,masih tetap sederhana.

Makam Mbah Kiai Ta'rifudin atau yang biasa dikenal dengan nama Mbah Ta'rif berada di Desa Asem.Dari Cirebon Makam ini bisa dicapai dengan naik Elf jurusan Cirebon-Sindang Laut.Setelah berhenti di Cipeujeuh,bisa dilanjutkan dengan naik mobil jurusan Sedong atau ojek ke Desa Asem.

Makam Mbah Kiai Ta'rifudin seperti makam orang kebanyakan.Tak ada kesan mewah atau istemewa.Ada bangunan tapi bukan menaungi makamnya,melainkan di sisi makamnya saja yang biasanya digunakan untuk orang-orang yang berziarah berteduh agar tidak kepanasan dan kehujanan.Pada hari-hari tertentu makamnya banyak diziarahi orang dari berbagai kalangan,terutama para ulama dan santri.


Makam Mbah Ta'rif 

Selasa, 04 April 2017

Guru Culun Rindu Mengajar Di Sekolah

Guru Culun Rindu Mengajar Di Sekolah

Hampir setahun ini saya hanya mengajar di lembaga kursus ( he he,aslinya tempat les kecil,tapi biar keren ya bilangnya tempat kursus),dengan murid dari anak taman kanak-kanak hingga mahasiswa dan orang dewasa.Murid yang saya ajar tidak terlalu banyak setiap bulannya,hanya belasan orang.Tapi kalau yang pernah les di tempat saya Alhamdulillah sudah lima puluh orang lebih.Ada yang berhenti karena memang sudah selesai program yang diikutinya,tapi ada juga yang berhenti karena alasan lainnya.

Sebagai seorang guru yang pernah malang melintang mengajar di berbagai sekolah dengan banyak murid tiap kelasnya,rasanya rindu juga dengan suasana keramaian kelas dengan aneka tingkah polah murid-murid.Lama-lama jadi kepikiran juga.Ternyata guru culun yang satu ini rindu mengajar kembali di sekolah.

Sudah beberapa sekolah yang didatangi,tapi semuanay sedang tak ada quota alias jumlah gurunya sudah penuh.Sebenarnya ada sekolah yang menawarkan saya untuk mengajar juga,tapi karena jadwalnya bentrok akhirnya tak berlanjut.Maklum saja,karena selain mengajar les saya juga menjaga rumah baca yang Alhamdulillah seringkali banyak pengunjungnya.Saya hanya punya waktu mengajar di hari  Senin,Selasa dan Rabu saja.Sementara hari Kamis,Jum'at dan Sabtu mengajar di tempat les sendiri sambil menjaga rumah baca.

Saat rindu mengajar di sekolah tiba biasanya saya akan mengingat kenangan di sekolah-sekolah tempat mengajar.Fb,twitter,instagram dan medsos lainnya terkadang semakin menambah rasa rindu saya pada sekolah-sekolah tempat saya mengajar dulu.

Guru culun rindu mengajar di sekolah,rindu akan suasana yang dulu pernah dirasakannya.

Senin, 03 April 2017

Makam Tuk Karangsuwung dan Makam Gajah Ngambung

Makam Tuk Karangsuwung dan Makam Gajah Ngambung

Tuk Karangsuwung yang saat itu lebih dikenal sebagai Tuk atau Depok diketahui sebagai tempat tinggal sementara Mbah Muqoyim di mana murid dan juga sahabatnya yang bernama Mbah Raden Ardisela tinggal dan menetap.Di akhir masa hidupnya,akhirnya Mbah Muqoyim dimakamkan di pemakaman Tuk Lor Desa Tuk Karangsuwung,Kecamatan Lemahabang.Ada yang berpendapat jika pemakaman ini dahulu merupakan petilasan atau tempat tinggalnya.Di pemakaman Tuk Lor  juga terdapat makam keluarga dan keturunannya.Salah seorang yang bernama Kiai Ardisela dari kelompok Ardisela juga ada yang dimakamkan di dekat Mbah Muqoyim.

Bila Makam Mbah Muqoyim dan keluarga dan keturunannya berada di Tuk Lor,maka Makam Mbah Raden Ardisela berada di Tuk Kidul,di mana dulunya pemakaman ini merupakan tempat tinggal Mbah Raden Ardisela bersama Nyai Maemunah (Nyai Muntreng) istrinya dan anak-anaknya,dan juga beberapa makam orang kepercayaannya.

Pada perkembangan selanjutnya kedua makam ini menjadi pemakaman umum.Bila pemakaman Tuk Lor sebagai tempat pemakaman umum untuk orang dari desa Tuk Karangsuwung dan juga luar desa,maka pemakaman Tuk Kidul dikhususkan untuk warga masyarakat Tuk Karangsuwung saja,atau warga luar Tuk Karangsuwung yang masih mempunyai jalur keturunan dengan Mbah Raden Ardisela,kerabat atau sahabatnya.

Dahulu keluarga besar para kiai Pesantren Buntet juga banyak yang dimakamkan di Tuk Karangsuwung,satu area dan berdekatan dengan makam Mbah Muqoyim.Kebiasaan ini berlangsung hingga masa Mbah Muta'ad.Karena letaknya yang terlalu jauh,maka pada akhirnya para kiai dan keluarga besarnya memilih untuk membuka pemakaman baru,yaitu di kawasan pemakaman Gajah Ngambung di kawasan Pesantren Buntet.Mbah Kiai Abdul Jamil yang merupakan putra dari Mbah Muta'ad adalah sesepuh pertama yang dimakamkan di pemakaman Gajah Ngambung tersebut.Sejak saat itu keluarga besar Pesantren Buntet akhirnya tak lagi dimakamkan di Desa Tuk Karangsuwung,namun di pemakaman Gajah Ngambung.

Makam Buyut Muji

Makam Buyut Muji dan Mbah Saptaregga

Syekh Abdul Muhyi atau yang biasa dikenal sebagai Buyut Muji adalah seorang ulama dan pejuang yang gigih dalam membela rakyat.Nama beliau dikenal luas oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya.Tak aneh bila akhirnya makam beliau sering dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai kota.

Makam Buyut Muji terletak di Desa Dawuan Kecamatan Tengah Tani Kabupaten Cirebon.Dari Cirebon Makam beliau bisa dicapai dengan angkot jurusan Cirebon Plered,mobil minibus atau bus  jurusan Cirebon Indramayu,Cirebon Jakarta,atau Cirebon Bandung.Dari jalan raya tidak terlalu jauh,bisa dijangkau dengan ojek,becak atau berjalan kaki.Letaknya berada hanya beberapa ratus meter dari masjid Nurul Hidayah Dawuan,kalau berjalan kaki pun tak akan memakan waktu lama,lebih kurang hanya lima menit saja.Kalau bingung tanya saja warga sekitar,maka dengan senang hati mereka akan memberitahukannya.

Tak jauh dari makam Buyut Muji,ada juga makam Mbah Saptaregga yang masih merupakan keluarga yang lebih tua dari Buyut Muji.Letak kedua makam ini  berdekatan dan berjarak hanya beberapa meter saja,dipisahkan oleh jalan setapak yang membelah areal pemakaman.Kedua makam ini dikelilingi oleh tembok yang tidak terlalu tinggi dan dinaungi atap genting,sehingga para peziarah bisa nyaman berziarah kapanpun.


Makam Buyut Muji


Makam Mbah Saptarengga


Makam Syekh Magelung Sakti

Makam Syekh Magelung Sakti

Syekh Magelung Sakti adalah salah satu ulama yang dianggap sebagai Waliyullah.Beliau hidup sezaman dengan Syarif Hidayatullah.Nama sebenarnya bukan Magelung Sakti,nama ini diberikan karena beliau mempunyai rambut yang tidak bisa dipotong oleh siapapun.Ketika bertemu dengan Syarif Hidayatullah,barulah rambutnya bisa dipotong.

Saat hidup Syekh Magelung Sakti tidak menikah dan tidak mempunyai keturunan.Cintanya pada Nyi Mas Gandasari tidak mendapat balasan,karena Nyi Mas Gandasari lebih memilih untuk menghabiskan waktu,tenaga dan apa yang dia punya dalam hidupnya hanya untuk Allah swt.Keduanya akhirnya  hanya menikah secara batin saja.

Saat wafat Syekh Magelung Sakti dimakamkan di Desa Karang Kendal Cirebon Utara,tak jauh dari Makam Sunan Gunung Jati.Makamnya tidak terlalu jauh dari jalan Cirebon Indramayu.Dari Cirebon bisa dicapai dengan naik angkot jurusan Cirebon Celancang,mobil Elf jurusan Cirebon Indramayu,atau bus Cirebon Jakarta yang melewati jalur Karang Ampel.

Hampir tiap hari selalu saja ada peziarah yang berkunjung ke makam Syekh Magelung Sakti ini.Bagi peziarah yang ingin menginap,di area makam ini juga disediakan pondokan dengan nuansa tradisional yang dulunya merupakan pondokan untuk para murid beliau.


Gapura Makam Syekh Magelung Sakti

Senin, 20 Maret 2017

Makam Pangeran Angka Wijaya

Makam Pangeran Angka Wijaya

Pangeran Angka Wijaya adalah seorang pangeran yang merupakan keturunan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.Beliau dikenal sebagai seorang yang penyebar ajaran Islam sekaligus seorang seniman yang banyak menghasilkan karya seni yang Mansyur pada masanya.Dengan seni itulah beliau berdakwah.

Selain nama Pangeran Angka Wijaya,orang-orang dahulu hingga kini banyak juga yang menyebutnya dengan nama Pangeran Losari.Hal ini terjadi karena beliau tinggal menetap hingga wafat di kawasan Losari,perbatasan Jawa Tengah Jawa Barat.

Makam Pangeran Angkaw Wijaya berada di Losari Jawa Tengah,tak jauh dari sungai yang menjadi perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.Apabila dari Cirebon,makam ini letaknya ada di kiri jalan yang bisa dicapai dengan angkutan jurusan Cirebon-Losari.Sementara kalau dari Brebes atau Tegal,makam Pangeran Angka Wijaya berada di sebelah kanan jalan raya Nasional.

Dari terminal Losari makam Pangeran Angka Wijaya ini bisa ditempuh dengan naik ojek atau berjalan kaki.Makam ini terbilang bersih dan terawat,sehingga membuat nyaman para peziarah yang datang.Tempat menginap dan wc untuk para tamu juga tersedia,sehingga bagi peziarah bisa menginap jika menghendakinya.

Selasa, 28 Februari 2017

Jalan-Jalan ke Cirebon Yuk!

Jalan-Jalan ke Cirebon Yuk!

Jalan-jalan ke Cirebon Yuk!,Kotamadaya dan Kabupaten Cirebon ini sekarang memang sedang menjadi pilihan wisata baru kaum urban di Indonesia.Di kota empal gentong ini banyak sekali aneka obyek wisatanya loh,mulai dari wisata alam,budaya,sejarah,belanja,kuliner,dan lain sebagainya.Cek foto-foto berikut ini ya...


                                     1.Cirebon Selatan

Cirebon Selatan yang merupakan pusat ibu kota Kabupaten Cirebon menyimpan aneka obyek wisata alam yang menawan.Di sini ada perbukitan,danau atau Situ,hutan mini Plangon,dll


Perbukitan Dukuh Puntang,selain bukit ada juga sumber air panasnya loh..
Plangon yang dihuni banyak kera yang jinak dan agak jahil
Telaga Remis perbatasan Cirebon dan Kuningan.Selain wisata air,di sekitar sini dikenal juga dengan wisata kulinernya,tepatnya di Cikalahang
Pemandangan Gunung Ciremai,walau dari kejauhan kelihatan keindahannya.Kalau mau lebih indah bisa lanjut ke Kuningan untuk mendaki gunungnya
   
                                                   
2.Cirebon Timur

Di antara bagian wilayah di Cirebon,kawasan Cirebon Timur memang belum tergarap secara optimal dan maksimal,padahal di sini ada perbukitan,situ dan laut yang menawarkan wisata alam yang menawan.Selain wisata alam ada wisata kota tua,Kampung Nelayan Mundu,Bandengan Kanci,Gebang, dan Losari,dll



Setu Patok yang terletak di Kecamatan Mundu,terlihat indah saat di musim hujan.Kalau kemarau seringkali airnya surut tak bersisa


Sebuah bukit di Sedong,yang letaknya tidak terlalu jauh 
dari Setu Pengasinan atau Situ Sedong


Kota Tua Sindang Laut dan sekitarnya (Pabrik Gula,stasiun kereta,dll)


Kampung Nelayan Mundu


Keraton Gebang yang letaknya tidak terlalu jauh dari Kampung Nelayan Gebang


3.Cirebon Barat

Cirebon Barat menawarkan obyek wisata sejarah dan ziarah.Salah satu andalannya adalah kawasan Trusmi yang menyediakan aneka batik khas Cirebon.Selain itu ada juga obyek wisata alam air panas Gempol dan perbukitan di kawasan Palimanan dan sekitarnya

4.Cirebon Utara

Di Cirebon Utara terkenal dengan wisata ziarah dan sejarahnya.Salah satu obyek wisata ziarah dan sejarah yang banyak dikunjungi adalah Makam Sunan Gunung Jati,
Syekh Nurjati,dan Syekh Magelung Sakti.Selain wisata ziarah dan sejarah,ada juga Kampung Nelayan,dll



 Makam Sunan Gunung Jati 


Bukit Jati atau Gunung Jati,selain berziarah ke makam Syekh Nurjati bisa sekalian melihat laut dari puncak bukitnya


5.Kota Cirebon

Di Kota Cirebon obyek wisatanya antara lain adalah Keraton Kasepuhan,Keraton Kanoman,Keraton Kacirebonan,Gua Sunyaragi,Kota Tua,Cirebon Waterland,Taman Kera Kalijaga,Pantai Kejawanan,dll


Keraton Kasepuhan


Gedung BAT,salah satu gedung tua di area Kota Tua Cirebon

6.Wisata Budaya,Belanja dan Kuliner

Cirebon juga terkenal dengan wisata budaya,belanja dan wisata kulinernya.Aneka kegiatan budaya seringkali digelar di sini,antara lain muludan,grebeg syawal,festival,karnaval,dll.
Aneka batik,cindera mata,oleh-oleh khas Cirebon bisa dijumpai di pasar,supermarket,atau toko oleh-oleh.Kuliner andalan Kota Cirebon antara lain nasi Jamblang,nasi lengko,empal gentong,docang,cireng petis,sekoteng,dll


Suasana pasar malam dalam acara muludan atau perayaan Maulid Nabi Muhammad saw di Alun-alun Keraton Kasepuhan


Nasi Jamblang yang berbungkus daun jati,lauknya tinggal pilih

Jumat, 27 Januari 2017

Sumur Ketandan Kasepuhan Cirebon

Sumur Ketandan Kasepuhan Cirebon

Sumur Ketandan adalah sebuah sumur tua yang sudah berusia ratusan tahun.Letak sumur ini berada di dekat alun-alun Keraton Kasepuhan Cirebon,tepatnya berada di depan pusat jajan dan  makan Kasepuhan.Sumur Ketandan ini dibuat oleh Pangeran Cakra Buana,yang tak lain adalah uwak (kakak dari ibu) Syarif Hidayatullah.

Sumur Ketandan merupakan tempat ketiga yang menjadi tempat  persinggahan Pangeran Cakra Buana ketika hendak belajar Agama Islam dan mendirikan Keraton Pakungwati.Persinggahan pertama adalah Gunung Cangak atau Balong Biru yang sekarang ini letaknya berada di daerah Cirebon Girang. Persinggahan kedua adalah Gunung Jati saat beliau belajar Agama Islam pada Syekh Nurjati.Dan Persinggahan ketiga adalah Sumur Ketandan dan akhirnya beliau membuka Keraton Pakungwati.

Sumur Ketandan dibuat setelah Pangeran Cakra Buana melalui serangkaian permintaan petunjuk kepada Allah swt melalui aneka ikhtiar dzikir dan doa.Setelah sumur ini dibuat,tempat di sekitar sumur ini sering dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat Pangeran Cakra Buana,terutama apabila beliau kelelahan setelah mencari rebon atau udang kecil di laut.

Kamis, 26 Januari 2017

Tuk (Depok),Tempat Musyawarah Para Pejuang

Tuk (Depok),Tempat Musyawarah Para Pejuang

Tuk yang dulu masih merupakan bagian dari Desa Karangsuwung dan yang lebih dikenal dengan sebutan Depok (merupakan kependekan dari kata wong gede ngelompok atau padepokan),memang sudah sejak lama dijadikan sebagai tempat pertemuan untuk melakukan musyawarah yang diselenggarakan oleh para pembesar Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman,ulama dan pejuang.Dari tempat inilah lahir aneka strategi dakwah dan rencana perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Saat Mbah Raden Ardisela dan Mbah Muqoyim masih hidup,kedua orang inilah yang menjadi penggerak utama pertemuan untuk melakukan musyawarah.Ketika Mbah Raden Ardisela dan Mbah Muqoyim sudah tak ada,Tuk tetap menjadi tempat musyawarah para ulama dan pejuang,termasuk oleh para keturunan Mbah Raden Ardisela dan Mbah Muqoyim yang memang secara turun temurun mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk memimpin.

Awalnya Tuk adalah tempat yang aman dan tak mudah diendus oleh pihak penjajah sebagai tempat pertemuan para pembesar Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman,para ulama dan pejuang lainnya.Tetapi lama-kelamaan pihak penjajah akhirnya berhasil mengetahui juga keberadaan Tuk sebagai basis perjuangan untuk melawan mereka.Semenjak itulah pihak musuh mulai mengawasi Tuk dengan ketat.Saat pemberontakan terjadi,hampir setiap orang yang keluar masuk wilayah ini dicurigai dan diinterogasi.Para penduduk atau tamu yang hendak berkunjung ke wilayah ini diperiksa dengan ketat,terutama para lelakinya.

Lambat laun akhirnya Tuk tak lagi dijadikan sebagai tempat musyawarah para pejuang dari berbagai wilayah.Kalaupun ada pertemuan,biasanya hanya dihadiri oleh ulama dan pejuang yang berada di sekitarnya saja.Pesantren-pesantren yang baru bermunculan pada akhirnya menggantikan posisi Tuk sebagai tempat musyawarah.Di era tahun 1900 an M,Tuk nyaris menjadi tempat berbahaya untuk para pejuang,karena pengawasan yang dilakukan oleh penjajah begitu ketat,baik terhadap keluarga Tuk maupun para tamu yang keluar masuk daerah ini.

Selasa, 24 Januari 2017

Depok,Tuk Karangsuwung Tempo Dulu

Depok,Tqquk Karangsuwung Tempo Dulu

Tuk,begitu nama daerah yang dulu menjadi bagian dari Desa Karangsuwung ini.Setelah dimekarkan dan terpisah dari Desa Karangsuwung,nama wilayah ini berganti nama menjadi Tuk Karangsuwung.Nama Tuk merujuk pada sebuah sumber mata air yang keluar dari celah-celah tanah dan bebatuan yang biasa disebut Tuk,sebuah sumber mata air yang dibuat oleh Mbah Raden Ardisela sekitar tahun 1800 an Masehi.

Sebelum dikenal sebagai Desa Tuk Karangsuwung,wilayah ini juga biasa disebut Depok.Nama Depok diambil dari singkatan yang berarti orang gede (de) berkelompok (pok),dan dari sinilah nama Depok muncul.Orang-orang gede atau besar di sini dikenal sebagai para pejabat kesultanan,pemangku wilayah,ulama dan para pejuang,yang menjadi motor penggerak dakwah dan perjuangan.Mereka berkelompok untuk membicarakan strategi dakwah Islam agar tetap bisa berkembang di era penjajahan Belanda,sekaligus berusaha mengadakan perlawanan terhadap penjajah yang suka berbuat semena-mena.

Orang-orang gede yang dimaksud adalah Mbah Raden Ardisela,Mbah Muqoyim,keluarga dan teman-teman mereka berdua.Di bawah komando kedua tokoh inilah pendidikan Islam terus berlanjut di tengah-tengah penjajahan yang begitu melarang pendidikan yang berbau agama.Aneka perlawanan terhadap penjajah juga disusun di sini dan dilakukan di seputar wilayah tiga Cirebon.Berbagai perang kecil dan besar demi membela rakyat yang tertindas terjadi berulang kali.

Setelah era Mbah Raden Ardisela dan Mbah Muqoyim berakhir,berlanjut ke generasi selanjutnya yang masih merupakan orang-orang terdekat Mbah Raden Ardisela dan Mbah Muqoyim,sebut saja Raden Rangga Nitipraja (keponakan sekaligus menantu Mbah Raden Ardisela),Raden Muhamad dan Kiai Gozali (menantu Mbah Muqoyim),Mbah Muta'ad (cucu mantu Mbah Muqoyim),Mbah Takrifudin Pemijen (menantu Kiai Mas Khanafi Jaha / cucu mantu Kiai Ardisela Buntet),dan lain sebagainya.

Nama Depok memang nama sebutan yang diberikan untuk Desa Tuk Karangsuwung tempo dulu.Selain berarti singkatan dari kata wong gede ngelompok atau berkumpulnya orang-orang besar,ada juga yang berpendapat jika nama depok ini disematkan karena di Tuk ini dulunya ada padepokan yang dijadikan tempat menggembleng para santri untuk berjuang.Lambat laun nama Depok sudah tidak dikenal lagi dan hanya beberapa orang saja yang masih menyebutnya sebagai Depok,itupun hanya orang-orang tua saja.Masyarakat umum sekarang ini lebih mengenal Depok sebagai Tuk Karangsuwung,sesuai nama resmi desa setelah berdiri menjadi desa sendiri dan terpisah dari Desa Karangsuwung,yaitu menjadi Desa Tuk Karangsuwung.

Makam Mbah Khanafi Jaha

Makam Mbah Khanafi Jaha

Mbah Mas Khanafi atau Buyut Jaha adalah seorang ulama,pejuang,dan seorang yang diyakini oleh banyak orang sebagai Waliyullah.Beliau seorang Syarif atau Habib bermarga Yahya.Buyut Jaha adalah menantu dari Kiai Ardisela Buntet yang menikah dengan putrinya yang bernama Nyai Khafiun binti Kiai Ardisela Buntet.Mbah Mas Khanafi adalah sahabat Mbah Raden Ardisela Tuk,yang sama-sama berjuang dalam menyebarkan ajaran Agama Islam sekaligus gigih melawan Penjajah Belanda.

Makam Mbah Mas Khanafi Jaha teletak di Desa Sampiran Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon.Makam beliau ini dapat dijangkau dengan mudah.Perjalalan ditempuh dari Kota Cirebon dengan menggunakan angkot jurusan Sumber dan turun di Jembatan Merah Arumsari atau Kantor Kecamatan Talun.Dari sini perjalanan bisa dilanjutkan dengan ojek menuju lokasi makam yang lokasinya tidak terlalu jauh dari petilasan Mbah Kuwu Cakra Buana atau yang biasa disebut Cirebon Girang.

Letak makam Mbah Khanafi Jaha sendiri berada di sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi,dengan bangunan tembok bata tanpa semen yang mengelilingi makam utamanya.Bangunannya tidak beratap yang terkadang membuat peziarah agak kerepotan bila hujan datang.Jalan kecil menanjak yang menuju makam ini tidak terlalu bagus dan sedikit berbahaya,sehingga perlu kehati-hatian untuk melewatinya.

Seperti makam para ulama dan wali lainnya,makam Mbah Khanafi Jaha juga ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu,terutama hari Kamis,Jumat dan hari-hari besar umat Islam.Apabila ingin berkunjung ke makam ini,ada baiknya siang atau sore hari,karena kalau malam gelap dan tidak ada penerangan.Hal ini dikarenakan beberapa kali dipasang listrik selalu saja mati dan tidak pernah menyala lagi,sehingga tak ada penerangan bila malam tiba.


Kamis, 22 Desember 2016

Sumur Jimat Tuk Karangsuwung

Sumur Jimat Tuk Karangsuwung

Selain sumber air Muara Bengkeng yang sudah dikenal dengan airnya yang dipercaya sebagai obat untuk berbagai macam penyakit dan aneka khasiat lainnya,ternyata di Desa Tuk Karangsuwung juga terdapat sumber air lain yang sudah cukup tua dan dipercaya mempunyai khasiat tertentu.Sumber mata air tersebut biasa disebut belik atau Sumur Jimat.

Letak Sumur Jimat ini berada di dekat perbatasan Desa Tuk Karangsuwung dan Desa Leuwidingding Kecamatan Lemahabang.Apabila dari Lemahabang,sumur ini letaknya sebelah kiri,hanya beberapa puluh meter saja dari perbatasan kedua desa tersebut.Sumurnya terletak di belakang rumah penduduk yang merupakan keturunan dari sang pembuat sumur tersebut,dekat sungai kecil yang dulu digunakan sebagai irigasi.

Sumur Jimat Tuk Karangsuwung sampai sekarang masih ada dan terpelihara dengan baik.Bentuk sumur ini tak berbeda dengan sumur-sumur lainnya,bulat dengan tembok bata yang disemen.Konon katanya baru beberapa tahun belakangan saja (setelah tahun 2000 M) sumur ini bisa ditembok seperti sumur-sumur lainnya,karena dulu selalu saja temboknya ambruk tanpa tahu sebabnya.

Orang yang mengambil air dari Sumur Jimat ini tak hanya datang dari Desa Tuk Karangsuwung saja,banyak juga orang dari luar desa yang mengambil air dari sumur ini.Air yang diambil ada yang digunakan untuk acara nujuh bulan,membuat aneka barang dari besi (pandai besi),mengobati penyakit,dan lain sebagainya.Mereka yang datang ada yang karena tahu dari mulut ke mulut,namun tak sedikit pula yang datang karena konon katanya mereka bermimpi untuk mengambil air dari Sumur Jimat ini.

Dahulu Sumur Jimat ini digunakan untuk aneka keperluan.Selain untuk keperluan sehari-hari juga biasa digunakan untuk menyiram keris yang dibuat oleh Mpu Keris yang bernama Mbah Raden Dikrama.Dan Mbah Raden Dikrama inilah yang diyakini sebagai orang yang membuat Sumur Jimat Tuk Karangsuwung ini.Mbah Raden Dikrama adalah seorang mpu yang merupakan sahabat sekaligus orang kepercayaan dari Mbah Raden Ardisela.

Selasa, 20 Desember 2016

Masa Muda dan Masa Tua Mbah Raden Ardisela

Mbah Raden Ardisela (14)

Raden Rustam atau Raden Ardisela adalah anak seorang demang,yaitu putra Mbah Raden Demang Bratanata yang masih keturunan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).Beliau dianugerahi kepandaian dan kecakapan dalam berbagai bidang,baik itu dalam bidang  keilmuan,kemasyarakatan,politik,dan lain sebagainya.Hal ini tidak aneh lagi,karena sebagai anak seorang demang beliau mendapatkan pendidikan yang cukup baik dan memadai dari orangtuanya,baik itu dalam bidang pendidikan agama,seni,ketatanegaraan,atau ilmu-ilmu lainnya.

Saat muda Mbah Raden Ardisela termasuk orang yang suka berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya.Berkelana adalah termasuk hal yang juga sering dilakukan oleh leluhurnya seperti Pangeran Alas Ardisela,Pangeran Pakis dan Pangeran Sutangkara.Karangsuwung dan Tuk Karangsuwung adalah beberapa nama tempat yang pernah dibuka olehnya,setelah beliau mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya.

Setelah menikah dengan Nyai Maemunah (Nyai Muntreng),beliau diberi kepercayaan untuk memimpin sebuah wilayah di kawasan Sindanglaut dan sekitarnya sebagai demang.Jabatan demang ini beliau emban hingga usianya mendekati tua.Di kemudian hari jabatan demang ini diteruskan ke tangan menantu sekaligus keponakannya yang bernama Raden Rangga Nitipraja.Setelah dirasa cukup usia dan ingin lebih banyak berkecimpung dalam dunia dakwah,semua jabatan itu beliau tinggalkan.Karena hal ini pula yang membuat Mbah Raden Ardisela di kemudian hari lebih dikenal sebagai ulama atau kiai.

Di usia tuanya Mbah Raden Ardisela benar-benar habiskan waktunya untuk mendekatkan diri pada Allah swt dengan berkecimpung dalam dunia dakwah.Di dekat tempat tinggalnya sendiri ada beberapa lembaga pendidikan agama berupa pesantren yang dikelola olah para ulama seperti Mbah Muqoyim gurunya,atau Kiai Gozali menantu dari Mbah Muqoyim yang melanjutkan pesantren yang pernah didirikan oleh Mbah Muqoyim tersebut.Namun sayangnya,pesantren-pesantren tersebut sudah tak berdiri lagi di era tahun 1900 an karena berbagai macam sebab.

Mbah Raden Ardisela,Sang Pemimpin dan Pejuang

Mbah Raden Ardisela (23)

Mbah Raden Ardisela,pada awalnya beliau adalah seorang pendiri Desa Karangsuwung.Di kemudian hari beliau dipercaya pemimpin beberapa wilayah desa atau yang dulu lebih dikenal dengan sebutan Kademangan.Beliau adalah demang yang memimpin wilayah Sindanglaut.Sebagai pemimpin beliau dikenal sebagai pemimpin yang dicintai rakyat yang dipimpinnya.Hal ini terjadi karena beliau dikenal dengan sifat dan sikapnya yang perduli dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.

Saat beliau memimpin wilayah,penjajah sedang merajalela dengan sikapnya yang merugikan rakyat dengan aneka perilakunya yang kejam.Sebagai pemimpin beliau tidak tinggal diam.Bersama Mbah Muqoyim,Kiai Ardisela dan para pejuang lainnya,Mbah Raden Ardisela melakukan aneka perlawanan,baik secara langsung dengan senjata maupun secara tidak langsung melalui bidang pendidikan.

Ketika usianya sudah tak muda lagi dan anak-anaknya sudah besar,Mbah Raden Ardisela menyerahkan kepemimpinannya itu kepada ponakan sekaligus menantunya yang bernama Raden Rangga Nitipraja yang menikah dengan Nyi Raden Aris putrinya.Perjuangan terus berlanjut,bahkan hingga di usia senjanya.
Mbah Raden Ardisela,beliau adalah sang pemimpin dan pejuang.

Minggu, 18 Desember 2016

Mbah Raden Ardisela dan Jabatannya

Mbah Raden Ardisela (33)

Sebelum menjadi demang,Mbah Raden Ardisela dikenal sebagai seorang kuwu yang memimpin desa baru yang dibukanya,yaitu Desa Karangsuwung.Desa Karangsuwung ini semula adalah sebuah tempat yang angker dan tak ada orang yang mau tinggal di daerah ini.Setelah kedatangan Mbah Raden Ardisela,tempat ini menjadi ramai.Kuwu adalah jabatan pertama Mbah Raden Ardisela dalam bidang kepemimpinan.

Setelah beberapa lama menjadi kuwu di Karangsuwung,selanjutnya Mbah Raden Ardisela diangkat menjadi seorang pemimpin wilayah atau yang biasa disebut demang.Jabatan demang ini beliau emban dalam waktu yang cukup lama.Kademangan yang dipimpinnya adalah wilayah yang berada di bawah kekuasaan Keraton Kasepuhan Cirebon,sehingga secara tidak langsung beliau bekerja di bawah naungan Kesultanan Kasepuhan Cirebon.

Setelah usianya dirasa cukup tua,kepemimpinan Kademangan Sindanglaut ini  ia serahkan kepada keponakan dan menantunya.Kepemimpinan Kademangan Sindanglautpun segera diganti oleh demang yang baru yang di kemudian hari nama demang ini lebih dikenal dengan sebutan Rangga.Kepemimpinan kademangan ini beliau serahkan pada keponakan sekaligus menantunya sendiri yang menikah dengan Nyi Raden Aris anaknya,yaitu Raden Rangga Nitipraja.Ada beberapa alasan mengapa Mbah Raden Ardisela mempercayakan kelanjutan kepemimpinan kepada Raden Rangga Nitipraja,selain karena hubungan keponakan dan menantu,juga karena Raden Rangga dilihat mampu dan cakap untuk melanjutkan kepemimpinan tersebut.

Tugas sebagai pemimpin wilayah besar tanggung jawabnya itu mampu diselesaikan oleh Mbah Raden Ardisela dengan baik.Walau tugasnya tidak sedikit dan tidak mudah,perjuangannya melawan penjajah tetap tak dilupakan dan terus berlanjut.Seperti biasanya,Mbah Raden Ardisela berpura-pura bekerjasama dengan pihak penjajah,sementara beliau tetap menyusun aneka strategi untuk mengusir penjajah dari tanah Cirebon.Hal ini beliau lakukan bersama Mbah Muqoyim dan ulama lainnya.

Jumat, 09 Desember 2016

Menguak Misteri Nama Mbah Raden Ardisela yang Sebenarnya

Mbah Raden Ardisela (3)

Mbah Raden Ardisela,nama itu masih saja menyimpan misteri bagi sebagian orang,baik itu bagi keturunannya,para ulama serta santri,penduduk sekitar makam,para peziarah dan lain sebagainya.

Berbagai macam cara untuk mengungkap nama Mbah Raden Ardisela selalu saja terbentur aneka masalah,mulai dari keluarga yang memang sengaja menyembunyikannya dengan berbagai alasan,hingga orang lain yang terkadang suka mengambil keuntungan dari misteri ini.

Bagi anak cucunya,merahasiakan nama Mbah Raden Ardisela yang sebenarnya selama masa penjajahan adalah sebagai sebuah keharusan,karena mereka khawatir akan keselamatan keluarga mereka sendiri.Hal ini  dikarenakan Mbah Raden Ardisela yang gencar melawan penjajah Belanda selalu menjadi incaran untuk ditangkap seperti halnya Mbah Muqoyim.Bila diberitahu dan dibuka nama beliau yang sebenarnya,maka keturunan Mbah Raden Ardisela akan menerima akibatnya.Hal inilah yang selalu menjadi pertimbangan pihak keluarga untuk menyembunyikan nama Mbah Raden Ardisela yang sebenarnya.

Waktu berlalu,hingga pada akhirnya anak dan cucu Mbah Raden Ardisela tiada karena meninggal dunia tanpa sempat memberitahukan nama Mbah Raden Ardisela yang sebenarnya kepada keturunannya.Hingga zaman penjajahan Belanda berakhir,Nama Mbah Raden Ardisela tetap tak juga diketahui dan masih menjadi misteri.

Siapakah Mbah Raden Ardisela sesungguhnya?,sebenarnya ada beberapa orang yang mengetahuinya,baik dari keturunan Mbah Raden Ardisela sendiri maupun dari pihak yang bukan dari keturunan Mbah Raden Ardisela.Namun hal itu tetap mereka sembunyikan dengan berbagai alasan.Ada yang beralasan karena memang tak perlu memberitahukannya agar anak cucunya tidak selalu mengagung-agungkan nama beliau atau membanggakan leluhur secara berlebihan,ada yang beralasan karena keselamatan keluarga,setia pada Mbah Raden Ardisela dan menjaga rahasia tersebut,namun ada juga yang melakukan hal itu karena ingin mengambil keuntungan dari keadaan tersebut.

Tetapi pada akhirnya nama Mbah Raden Ardisela harus diketahui oleh keturunannya dan juga orang lain,hal ini agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran atau ketidakpastian,kesalahpahaman,dan juga agar nama beliau tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin memanfaatkan nama Mbah Raden Ardisela yang memang sudah banyak dikenal oleh masyarakat secara luas tersebut.

Mbah Raden Ardisela dan Pesantren-Peantren di Cirebon Timur

Mbah Raden Ardisela (12)

Mbah Raden Ardisela adalah seorang pemimpin yang benar-benar perduli pada dunia pendidikan.Ketika beliau menjabat sebagai demang,beliau bantu ulama-ulama mendirikan pesantren dan melindunginya dari serangan penjajah Belanda.Berbagai cara beliau lakukan agar keberadaan pesantren-pesantren tersebut tetap bertahan.Seolah-olah mau bekerja sama dengan pihak penjajah adalah salah satu strategi beliau agar tidak dicurigai dan tak menjadi incaran pihak musuh.

Selain membantu Mbah Muqoyim dalam mendirikan dan menjaga kelangsungan Pesantren Buntet,masih ada beberapa pesantren lain yang didirikan di masa Mbah Raden Ardisela menjabat sebagai demang atau sesudah beliau  tak lagi menjadi demang.Pesantren-pesantren yang didirikan saat Mbah Raden Ardisela masih hidup antara lain adalah Pesantren Tuk (didirikan oleh Mbah Muqoyim),Pesantren Pesawahan (didirikan oleh Mbah Ismail adik dari Mbah Muqoyim),Pesantren Pemijen (didirikan oleh Mbah Ta'rif yang tak lain adalah menantu dari Kiai Mas Khanafi Jaha / besan dari Raden Rangga Nitipraja dan Nyi Mas Aris binti Mbah Raden Ardisela).

Dari pesantren-pesantren tersebut kemudian melahirkan pesantren-pesantren baru yang didirikan beberapa tahun kemudian setelah Mbah Raden Ardisela dan Mbah Muqoyim wafat.Pesantren-pesantren tersebut satu sama lain masih mempunyai keterikatan,baik itu karena hubungan guru dan murid,hubungan keluarga atau juga hubungan perkawinan.Pesantren yang didirikan kemudian adalah Pesantren Benda Kerep (didirikan oleh Mbah Soleh putra dari Mbah Muta'ad),dan Gedongan (didirikan oleh Mbah Said,menantu Mbah Muta'ad),dan Pesantren Dongkol (didirikan oleh Kiai Yusuf (cucu mantu dari Kiai Takrifudin).

Sabtu, 22 Oktober 2016

Guru Culun Dan Murid Polos

Guru Culun Dan Murid Polos

Pindah ke Cirebon,ganti suasana juga ganti keadaan.Terakhir mengajar di Bogor,saya mengajar anak-anak sma yang penuh dinamika dan romantika.Anak-anak yang sudah mengerti cinta dan segala seluk beluknya.Di Cirebon kembali saya harus mengajar semua usia,mulai anak-anak hingga orang tua.

Anak-anak yang polos yang kadang membuat saya jadi baper alias bawa perasaan.Mereka yang kadang bicara semaunya dan berfikir omongannya tak berpengaruh apa-apa.Untunglah,sebagai seorang bujangan lapuk saya sudah terbiasa dengan aneka problematika perjombloan.Jadi omongan apa saja sudah tak terlalu berpengaruh untuk kehidupan saya.Yang penting senang dan tak kehabisan uang.

Sekali waktu ada anak yang bertanya tentang usia saya,saya jawab usia saya seusia ayah atau uwak kamu,jadi tanya saja ayahmu berapa usianya.Setelah pulang,keesokan harinya dengan senyum sumringah anak itu menyebutkan usia saya,usia yang tentu saja tidak lagi muda untuk ukuran jomblo pada umumnya.

Di lain waktu ada anak yang bertanya pada saya,kenapa setua ini saya belum menikah,katanya saya aneh.Seusia saya di mana orang lain sudah menikah dan mempunyai anak yang sudah besar,saya malah masih betah sendiri.Saya jawab sekenanya saja dengan jawaban suka-suka yang gak ada hubungannya dengan pertanyaan.He he,kalau dipikir-pikir,benar juga tuh omongan anak.Saya memang aneh,tapi sayangnya tidak ajaib.

Ya,begitulah kalau guru culun bertemu murid polos,omongan yang tidak penting jadi keluar semua.Karena pertanyaannya tidak penting,maka jawabannya juga tidak penting.Kata pepatah sih sebelas dua belas.Sebenarnya nulis kisah ini juga tidak penting,tapi karena tak ada bahan menarik yang bisa ditulis,maka saya menulis kisah yang tidak penting ini.

Sabtu, 17 September 2016

Mimpi Tinggal Di Dua Rumah Sewa Yang Membuat Susah

Mimpi Tinggal Di Dua Rumah Sewa Yang Membuat Susah

Beberapa kali saya pernah bermimpi tentang rumah sewa.Dalam mimpi tersebut saya tinggal di dua rumah sewa sekaligus.Padahal saat itu saya hanya tinggal di satu rumah sewa.Karena tinggal di tempat yang berbeda,maka otomatis saya kesulitan untuk membayar kedua rumah sewa tersebut.Benar-benar mimpi yang menyebalkan,karena terjadi berulang kali dan benar-benar mengaduk emosi,walau itu cuma mimpi.

Dalam dunia nyata saya hendak pindah rumah,yaitu mau pulang kampung.Otomatis rumah sewa tersebut harus saya tinggalkan.Karena belum begitu yakin akan kehidupan di kampung halaman,maka mau tidak mau saya tinggalkan barang-barang saya di rumah sewa,dengan harapan apabila tidak betah di Kampung saya bisa kembali ke tempat semula.

Waktu tak bisa diputar ulang,ternyata arti mimpi tersebut adalah benar-benar pertanda bila saya akan mengalami kesulitan dalam membayar rumah sewa tersebut.Mau tinggal di kampung teringat akan kehidupan di kota yang serba mudah.Mau kembali ke kota rumah di Kampung juga tak bisa ditinggalkan begitu saja.Sementara kalau mau membawa pindah barang-barang ke kampung juga tak bisa,karena uang tabungan sudah ludes semua untuk memperbaiki rumah tinggal di kampung yang mau dijadikan rumah usaha.

Dalam mimpi,dalam nyata,susahmya benar-benar terasa.Dalam mimpi tak tahu jalan keluarnya,dalam dunia nyata juga sulit menyelesaikannya,karena ketika saya cari uang dengan cara berhutang ke sana kemari juga tidak dapat.Nasib,nasib.Sudah dikasih tahu tapi tidak mengerti,ya begini ini jadinya,pusing tujuh keliling.Pindah ke kota tidak mungkin,tinggal di kampung rasa pusing.

Selasa, 13 September 2016

Rumah (Keraton) Raden Rangga Nitipraja

Rumah (Keraton) Raden Rangga Nitipraja

Rumah atau orang sekitar Tuk Karangsuwung hingga awal kemerdekaan menyebutnya sebagai keraton milik Raden Rangga Nitipraja,terletak di timur Masjid Al Karomah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Mbah Ardisela.Letak rumah atau Keraton ini tidak jauh dari sungai dan rel kereta api.

Dahulu rumah milik keturunan Kesultanan Cirebon yang menjabat sebagai pemimpin suatu wilayah memang sering disebut sebagai keraton.Namun bentuknya tentu saja tidak sama dan tidak sebesar Keraton Kesultanan.

Walau Raden Rangga Nitipraja beserta anak-anaknya sudah tiada,namun rumah atau keraton ini masih terawat dengan baik.Lambat laun selama bertahun-tahun semakin tak terurus,semua ini karena kepemilikannya dimiliki perorangan dan tak berpenghuni.Pada akhirnya rumah ini dirobohkan dan diganti dengan rumah biasa.Konon katanya rumah ini dihancurkan karena menjadi tempat tinggal jin yang suka menggangu orang.Beberapa orang pernah merasakan kejahilan akibat ulah jin yang menghuni rumah ini.

Dahulu kala,konon menurut cerita para sesepuh Desa Tuk Karangsuwung,jika berada di jalan keraton dan hendak masuk ke halaman keraton,orang-orang harus berjalan kaki.Sepeda atau kendaraan lain tidak boleh digunakan,ditinggal di depan atau dituntun begitu memasuki jalan menuju rumah atau keraton milik Raden Rangga Nitipraja ini.Semua hal tersebut dilakukan sebagai penghormatan atau sopan santun masyarakat terhadap Raden Rangga Nitipraja yang dulu dikenal sebagai seorang pemimpin wilayah yang juga sebagai seorang panglima perang yang kerap memimpin perang melawan Penjajah Belanda,melanjutkan jejak Mbah Raden Ardisela dan Mbah Muqoyim.

Walau sudah berumur seabad lebih,sebenarnya rumah atau keraton milik Raden Rangga Nitipraja ini masih kokoh dan hanya terlihat kerusakan di beberapa tempat.Semua karena material atau bahan bangunan yang digunakan terbilang bagus dan bermutu.Mulai dari bata temboknya yang besar dan kuat,kayu jati untuk kusen,genting dan lain sebagainya.Sayangnya karena ketidaktahuan keturunannya tentang benda-benda bersejarah,maka rumah yang menyimpan banyak sejarah ini akhirnya dirobohkan.

Sekarang ini sulit sekali menemukan jejak rumah atau keraton milik Raden Rangga Nitipraja tersebut.Selain karena sudah dibongkar sekitar tahun 2010 an M,bahan bangunan yang dulu digunakan untuk membangun rumah ini sudah digunakan kembali untuk membangun rumah baru oleh anak keturunannya.

Minggu, 11 September 2016

Sahabat Terbaik Adalah Uang (Harta)?

Sahabat Terbaik Adalah Uang (Harta) ?

Hem,saya menulis ini karena pengalaman saya saat saya punya uang dan tidak punya uang.Saat punya uang,semua terasa lebih indah dan gampang.Saat tak punya uang,semua terasa suram dan kelam.He he,lebay ya?,tapi memang begitulah yang saya rasakan.

Berulang kali saya jatuh bangun,antara punya uang dan tidak punya uang.Saat punya uang teman menghadang,saat tak punya uang teman menghilang.Dan itu terjadi berkali-kali.Sakitnya tuh di sini (sambil pegang saku yang tepos karena uangnya tak ada).

Uang,uang,uang.Benar-benar benar apa kata pepatah itu.Ada uang banyak yang mengaku saudara,tak ada uang tak ada yang mau mengakui sebagai saudara.Eh,tapi sebentar,pikir-pikir saya itu jarang punya uang,jadi ya hanya sedikit teman yang saya punya.Nasib atau mungkin bawaan lahir,itumah dg alias derita gue.

Tapi untunglah,walau jarang punya uang saya itu mempunyai kakak adik yang baik hati,juga saudara saudari yang begitu perduli.Mereka selalu membantu saya ketika tak punya uang.Tak perlu kode-kode tertentu,tanpa meminta pun mereka suka memberi.Maklum saja,di keluarga kami memang ada tradisi untuk saling memberi.Tak harus banyak,yang penting ikhlas dan saling perduli.

Kapan saya punya uang?,dipikir-pikir ya jarang. Punya uang juga selalu pas-pasan saja,ya pas gajian itu.

Saat tak punya uang itu rasanya sedih sekali,sampai-sampai saya berfikir jika uang adalah sahabat terbaik.Ya,sahabat terbaik adalah uang.Dengan uang mau apapun gampang.Uang atau harta,itu yang banyak dipuja oleh manusia,termasuk oleh aku ini.Tapi sepertinya uang tak mau berteman dengan saya,jadilah saya seperti ini,hidup tanpa uang.Dari sini saya tidak yakin jika sahabat terbaik adalah uang,karena uang sendiri tidak mau bersahabat dengan saya.

Bacanya jangan serius sekali ya,karena saya juga menulisnya tidak pakai kata serius.

Raden Rangga Nitipraja,Sang Panglima Perang

Raden Rangga Nitipraja,Sang Panglima Perang

Saat masih muda dan sebelum diangkat menjadi demang,Raden Rangga Nitipraja secara diam-diam juga suka melakukan perlawanan terhadap Penjajah Belanda.Hal ini beliau lakukan bersama-sama paman sekaligus mertuanya yaitu Mbah Raden Ardisela yang memang berpolitik seolah-olah mendukung pihak Belanda namun pada kenyataannya justru membenci dan melawan para penjajah tersebut.Hal ini dilakukan hingga beliau diangkat menjadi demang dan rangga atau setingkat wedana.

Dalam beberapa kali peperangan yang dilakukan oleh Mbah Raden Ardisela dan Mbah Muqoyim sang pendiri Buntet Pesantren ketika melawan Penjajah Belanda,Raden Rangga Nitipraja seringkali tampil di depan.Hal ini tentu saja karena keberanian dan kecakapan Raden Rangga Nitipraja sebagai seorang yang berjiwa pemimpin.Beliau tidak takut mati karena bila mati dalam melawan penjajah maka surga balasannya.

Bekerja sebagai seorang Wedana atau Rangga yang sering kali bertemu dengan banyak orang,tentu saja membuat perjuangan Raden Rangga Nitipraja bukannya tanpa resiko.Hal ini karena beliau sudah dikenal banyak orang dan mudah dikenali,termasuk oleh pihak penjajah.Saat berperang beliau harus berhati-hati agar jati dirinya tidak diketahui oleh pihak musuh.

Semangat juang yang dimiliki oleh Raden Rangga Nitipraja ini memang tak lepas dari didikan Mbah Raden Arungan ayahnya,juga para leluhurnya yang memang selalu berjuang melawan penjajah.Semangat juang ini sudah ditanamkan oleh orangtua dan juga leluhurnya sejak kecil.Sebagian besar keluarga dan leluhurnya senantiasa berjuang melawan penjajah dan dikenal sebagai pejuang yang pantang menyerah.

Minggu, 04 September 2016

Raden Gula (Raden Abdullah Raksa)

Raden Gula (Raden Abdullah Raksa)

Sekitar awal tahun 1900,selain dikenal dengan sebutan nama Raden Duloh,Raden Abdullah Raksa jugs dikenal dengan sebutan Raden Gula.Nama ini diberikan oleh banyak orang bukan karena Raden Abdullah semanis gula,pengusaha pabrik gula,punya perkebunan tebu atau lainnya.Nama ini diberikan karena setiap ada panen tebu dan ada iring-iringan pesta panen tebu atau yang lebih dikenal dengan sebutan bancakan,pihak pabrik gula yang saat itu dikuasai Belanda selalu mengirimkan gula untuk Raden Abdullah Raksa sebagai syarat kelancaran selama proses penggilingannya.

Selain harus memberikan gula,setiap iring-iringan pesta panen tebu di Pabrik Gula Sindang Laut pasti selalu melewati Desa Tuk Karangsuwung, tempat di mana Raden Abdullah Raksa tinggal.Apabila tidak melewati desa ini,maka selalu saja ada masalah atau halangan  yang dihadapi oleh pihak pabrik gula,entah itu terjadi kerusakan mesin, kekurangan air,atau lainnya.Oleh karena itu pihak pabrik selalu saja melewati desa ini.

Apabila lewat Desa Tuk Karangsuwung,maka suara musik atau tetabuhan iring-iringan pengantin tebu biasanya akan dihentikan.Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghormati leluhur masyarakat Desa Tuk,di mana di desa ini terdapat dua makam sesepuh desa,yaitu Mbah Ardisela dan Mbah Muqoyim.Apabila belum atau sudah melewati desa ini,biasanya alat musik akan ditabuh sekeras-kerasnya.

Semula pihak pabrik gula pernah juga melanggar kebiasaan ini.Karena melanggar,kejadian tak diinginkan pun sering kali terjadi yang ujung-ujungnya tentu saja merugikan pihak pabrik gula.Oleh karena itu,pihak pabrik gula akhirnya tak pernah lagi melanggar hal tersebut selama Raden Abdullah masih hidup.Kebiasaan ini terjadi hingga masa kemerdekaan.Setelah masa kemerdekaan,pabrik gula Sindang Laut tak lagi memberikan gula dan musikpun sering kali ditabuh,meskipun sedang melewati Desa Tuk Karangsuwung.Hal ini terjadi selain karena Raden Abdullah sudah tiada juga karena pabrik gula sudah diserahkan kepada pemerintah Indonesia.

Raden Gula alias Raden Abdullah Raksa saat itu memang sengaja hendak memberikan pelajaran pada Penjajah Belanda yang ada di Sindang Laut dengan cara menggunakan kemampuannya agar mereka tetap mau menghormati ulama,meskipun ulama tersebut sudah tiada,terutama Mbah Muqoyim dan beberapa ulama lainnya yang kebetulan makamnya berada di sisi jalan yang dilalui oleh iring-iringan pabrik gula yang sedang berpesta.

Kamis, 01 September 2016

Persahabatan Mbah Raden Ardisela dan Raden Dikrama

Persahabatan Mbah Raden Ardisela dan Mbah Raden Dikrama

Semasa hidupnya Mbah Raden Ardisela yang bertugas sebagai pemimpin wilayah mempunyai banyak saudara dan juga teman.Beberapa saudara dan teman-temannya ada yang tinggal tak jauh dari tempat kediamannya,bahkan akhirnya ada juga yang menjadi besan karena pernikahan anak-anak mereka.
Tak hanya saudara-saudaranya yang dekat,teman-temannyapun begitu dekat dengan beliau,bahkan tak jarang karena kedekatan mereka tersebut satu sama lain tak ubahnya seperti saudara sendiri.

Selain Mbah Muqoyim yang tak lain sebagai guru dan juga sahabatnya,Mbah Buyut Jaha (Kiai Mas Khanafi) dan Pangeran Suryanegara sahabat sekaligus teman seperjuangannya,salah satu sahabat dekat Mbah Raden Ardisela lainnya adalah Mbah Raden Dikrama.Karena kedekatan antara Mbah Raden Ardisela dan Mbah Raden Dikrama ini,Keduanya tinggal tak berjauhan.Sama seperti sahabat lainnya,Mbah Raden Ardisela dan Mbah Raden Dikrama juga bersahabat erat dan saling bahu membahu dalam berjuang melawan penjajah.

Tak diketahui secara pasti asal-usul Raden Dikrama ini,ada yang mengatakan beliau berasal dari Aceh,namun ada juga yang berpendapat bila beliau berasal dari Demak atau Yogyakarta.Di kemudian hari,keturunan Mbah Raden Dikrama ini ada juga yang menikah dengan keturunan dari Mbah Raden Ardisela.

Selain dikenal sebagai sahabat dan juga orang kepercayaan Mbah Raden Ardisela,Mbah Raden Dikrama juga dikenal sebagai pembuat keris atau biasa disebut mpu.Beliau dilenal sebagai mpu keris yang handal.Keris buatan Raden Dikrama ini diyakini mempunyai kekuatan tertentu sehingga keris-keris buatannya ini tidak boleh digunakan sembarangan.Keris-keris buatan Raden Dikrama banyak diwariskan kepada anak cucunya,sedang keris buatannya yang dibuat untuk Mbah Raden Ardisela banyak diwariskan kepada anak dan keturunan Mbah Raden Ardisela sendiri.

Selain keris buatannya,salah satu peninggalan Mbah Raden Dikrama yang masih ada hingga sekarang adalah Sumur Jimat yang dulunya biasa digunakan untuk membasuh keris-keris buatannya sendiri tersebut.

Sebelum meninggal,Mbah Raden Dikrama ingin dimakamkan dekat dengan makam Mbah Raden Ardisela.Karena permintaannya disetujui,akhirnya hal ini diikuti juga oleh keturunannya yang lain.Akhirnya mereka banyak yang  dimakamkan di pemakaman Mbah Raden Ardisela,yang semula diniatkan sebagai pemakaman keluarga saja.Walau demikian,akhirnya hanya anak keturunan mereka yang menikah dengan keturunan Mbah Raden Ardisela saja yang boleh dimakamkan di dalam area pemakaman utama,hal ini mengingat pemakaman Mbah Raden Ardisela ini semula memang hanya untuk keluarga besar Mbah Raden Ardisela saja.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Pesantren Roudlotul Hidayah (Sindang Laut-Cirebon)

Pesantren Roudlotul Hidayah (Sindang Laut-Cirebon)

Pesantren Roudlotul Hidayah adalah sebuah pesantren yang didirikan oleh K.H Ikhsan sekitar tahun 1998.Pesantren ini terletak di perbatasan antara Desa Tuk Karangsuwung dan Desa Sindang Laut Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon.Pesantren yang bangunannya banyak menampilkan nuansa warna hijau ini berada di bawah Yayasan Bakhrul Ulum Sindang Laut.

Nama Pesantren Roudlotul Hidayah sendiri cukup dikenal di kalangan masyarakat Desa Sindang Laut dan sekitarnya.Warga Desa Sindang laut memang sangat bangga dan mendukung sekali  dengan keberadaan pesantren ini.Kiprah Pesantren Roudlotul Hidayah ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Desa Sindang Laut,Tuk Karangsuwung,Lemahabang dan sekitarnya.

Santri yang belajar di pesantren ini tak hanya berasal dari Cirebon,namun ada juga yang datang dari Indramayu,Kuningan dan beberapa kota lainnya.Mereka ada yang menjadi santri dan bersekolah di sekolah yang ada di bawah naungan Yayasan Bakhrul Ulum,namun ada juga yang tinggal di pesantren ini namun bersekolah di sekolah lain yang ada di sekitar Kecamatan Lemahabang seperti SMA,SMK dan lain sebagainya.

Yayasan Bachrul Ulum Sindang Laut sendiri saat ini menaungi Pesantren Roudlotul Hidayah,TPA,RA,MD,dan MTS.Jumlah keseluruhan murid atau santri sekitar seratus lima puluh orang lebih.Santri sendiri terdiri dari santri yang menetap dan juga santri yang pulang pergi atau santri kalong.

Para santri yang menetap di Pesantren Roudlotul Hidayah ini biasanya mengikuti aneka kegiatan seperti di pesantren lainnya,yaitu kegiatan yang dimulai dari pagi hingga malam hari.Aneka pengajian rutin digelar di pesantren ini,mulai dari pengajian Al Qur'an hingga aneka kitab kuning.Selain pengajian untuk para santri,pesantren ini juga mengadakan pengajian untuk masyarakat umum yang bisa dihadiri oleh siapa saja,baik tua maupun muda,pria ataupun wanita.