Tampilkan postingan dengan label Pelajaran Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran Hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2019

Kematian,Bukan Kekalahan

Kematian,Bukan Kekalahan

Saat masih muda,kira-kira ketika saya berusia 20 an,kematian adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan.Baik kematian yang menimpa keluarga besar saya,apalagi saya.Baik yang menimpa pada yang tua,maupun yang muda.Tapi ternyata kematian itu ada,dekat dan nyata.Walau tak mau membayangkannya,cepat atau lambat kematian akan datang juga.

Hal ini terjadi pada keponakan saya.Dia yang begitu saya sayangi,pergi mendahului saya.Dia meninggal ketika usianya masih begitu muda,sekitar usia 13 tahun saat dia duduk di bangku sekolah setingkat smp.Masih begitu muda,jauh lebih muda dari saya yang berumur 10 tahun lebih tua darinya.

Masih teringat begitu kuat,saat itu saya yang sedang berada di Jakarta sedang begitu lupa dengan yang namanya kematian.Ketika suatu malam seseorang menelepon saya di rumah teman yang saya tinggali tentang dekatnya kematian,saya masih yakin bila kematian itu masih jauh.'Keponakanmu sedang koma,kamu disuruh pulang'.Begitu isi percakapan telpon malam itu.

Esoknya saya langsung bergegas pulang kampung di Cirebon tercinta.Begitu saya tiba,saya langsung mendatangi rumah sakit tempat keponakan saya dirawat.Tak ada dialog di sana,hanya ada pemamdangan memilukan di ruang rawat.Badan yang kaku,nafas yang tersengal,mata yang terpejam,dan lantunan suara Al Quran.Tapi saya masih tetap berfikir dan yakin jika kematian itu masih jauh.

Setelah melalui serangkaian pengobatan yang tak membuat baik keadaan keponakan saya,dokter menyarankan agar keponakan dibawa ke Jakarta,di mana rumah sakit dengan fasilitas lengkap dan memadai tersedia.Masih ada asa.Harapannya,walaupun tak ada obatnya paling tidak ada keajaiban di sana.Lebih-lebih ketika mengetahui usaha kedua orangtuanya,dan juga lantunan banyak doa dari orang-orang yang menengoknya.

Membawa seseorang yang dicintai ke rumah sakit itu rasanya seperti berperang,dan berharap kita yang akan memenangkan peperangan tersebut.Usaha dan doa tak pernah berhenti,semua dijalani tanpa lelah dan keluh.Menunggu berhari-hari di rumah sakitpun tak apa-apa,karena berharap kesembuhan itu masih ada.Hingga pada akhirnya dokter memberitahu jika keponakan saya telah tiada.Saat itu saya benar-benar seperti kalah perang.Entahlah keluarga yang lainnya,yang pasti sedih dan kecewa jadi satu.

Setelah beberapa waltu,akhirnya saya tersadar juga,walau segala usaha seperti sia-sia dan doa serasa tiada guna,kematian tetap bukan kekalahan.Kematian adalah takdir Yang Maha Kuasa,yang cepat atau lambat akan datang kepada kita semua.Teruslah berusaha dan berdoa,karena usaha dan doa yang dilakukan secara maksimal adalah wujud rasa cinta.Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita semua,kalau tidak untuk kitaaling tidak yang terbaik untuk seseorang yang telah pergi meninggalkan kita.

Ya,bila kematian datang menjelang pada siapapun,tak perlu merasa kalah,karena sejatinya kematian adalah teman kita sehari-hari,yang akan datang tepat pada waktunya,seberapapun kita berusaha dan berdoa.

Jumat, 25 Mei 2018

Saya Muslim,Pilih Pelihara Anjing atau Kucing?

Saya Muslim,Pilih Pelihara Anjing atau Kucing?

Dalam ilmu fiqih yang saya pelajari,anjing adalah binatang yang hukumnya najis,bahkan termasuk najis besar atau najis mugholadhoh.Kalau kena najisnya,kita harus mencucinya sebanyak tujuh kali,satu di antaranya harus disertai debu.Tapi entah mengapa dari kecil hingga besar,saya senang sekali sama binatang yang satu ini.Tapi,walau suka saya tak berminat memeliharanya,karena selain repot sama najisnya,saya juga tak mau menelantarkan binatang peliharaan saya,mengingat saya yang orangnya malesan dan terkadang suka jalan-jalan.

Suatu hari,tiba-tiba ada anjing tersesat di belakang rumah.Awalnya anjing itu berteduh di bawah kayu-kayu rumah tetangga.Anjing itu sehat dan gemuk.Bulunya perpaduan coklat dan hitam,dilehernya terdapat kalung yang menandakan kalau anjing itu adalah anjing peliharaan.Sepertinya ia terbiasa diberi makan,sehingga ia tak pandai mencari makan sendiri ketika ia jauh dengan pemiliknya.Lama kelamaan tubuhnyapun menjadi kurus,sangat berbeda dengan keadaan saat ia baru datang dulu.

Karena sering diganggu oleh anak-anak,akhirnya ia mencari tempat baru.Tak disangka,ternyata tempat baru yang anjing itu pilih adalah bagian belakang rumah baca yang biasa digunakan untuk membaca dan belajar anak-anak jika ruang baca utama penuh.Semula saya juga abai akan anjing itu,karena saya yang hanya bekerja sebagai guru honorer dan guru les di desa ini tak mungkin mampu memeliharanya.Perlu biaya besar untuk memberi makan anjing,sementara gaji dan pengjasilan saya cuma bisa untuk makan dan merawat rumah baca saja.

Lama-kelamaan anjing itu semakin kurus,benar-benar kurus karena makan ala kadarnya saja,bahkan mungkin sering tak makan.Memberi makan anjing?,tiba-tiba saja kalimat itu terbersit di fikiranku.Kenapa harus memberi makan anjing?,sementara kucing liar juga banyak berkeliaran di sekitar rumah.Saya bingung,saya harus pilih mana?,harus lebih perduli pada anjing atau kucing?.Setelah berfikir lama,akhirnya saya putuskan untuk lebih perduli pada anjing.Kenapa?,karena di desa tempat saya tinggal hampir semuanya muslim,pasti mereka banyak yang perduli pada kucing.Kalau sama anjing?,hem,kalau rumah mereka didatangi pasti anjing itu akan diusirnya,bukan karena alasan najis saja,tapi visa juga karena alasan takut atau lainnya.

Saya Muslim,pilih pelihara anjing atau kucing?.Akhirnya saya memutuskan,kali ini saya pilih memelihara anjing saja,karena sekarang ini anjinglah yang benar-benar membutuhkan perhatian dan uluran tangan saya.Sebisanya akan saya rawat anjing itu,karena saya tahu ia tak biasa hidup sendiri di dunia luar ini,karena ia terbiasa dirawat dan diberi makan minum oleh pemiliknya terdahulu.Lalu bagaimana dengan najisnya?.Itu bukan masalah,karena saya bisa menghindar semampu saya dari najisnya,toh tempatnya terpisah,makan dan minumpun tak harus disuapi.

Anjing memang najis,tapi bukan berarti kita tak boleh perduli dan merawatnya,karena anjing juga makhluk ciptaan Allah.

                      Anjing yang akhirnya saya pelihara....

Jumat, 02 Maret 2018

Keberkahan Itu Misterius

Keberkahan Itu Misterius

Berkah itu berarti bertambahnya kebaikan,kebaikan dalam banyak hal.Tapi kebaikan seperti apa?,itu yang sering kali menjadi pertanyaan.Keberkahan dalam banyak hal tentunya.Keberkahan itu bisa dalam bentuk ibadah,usia,rezeki,keluarga,pertemanan,dan lain sebagainya.

Keberkahan dalam hal ibadah adalah keberkahan yang semakin hari semakin baik ibadahnya,baik secara kualitas maupun kuantitas.Keberkahan seperti ini yang paling utama.Walau demikian,tak banyak orang yang menginginkan keberkahan dalam hal ibadah ini.Padahal keberkahan dalam hal ibadah ini sangat menenangkan.Kita bisa semakin dekat dengan Allah SWT,dengan semakin sering dan semakin baiknya ibadah kita.

Usia yang berkah adalah usia yang paling utama,tak perduli pendek atau panjang usianya.Usia pendek kalau semasa hidupnya digunakan untuk banyak berbuat baik,Insya Allah akan bahagia karenanya.Diberi usia panjang dan bisa memanfaatkannya untuk melakukan banyak hal yang bermanfaat,tentu itu akan baik sekali.Usia pendek atau panjang,kalau berkah akan selalu diisi dengan hal-hal yang baik,baik itu untuk sendiri maupun untuk orang lain.

Keberkahan dalam hal ilmu adalah keberkahan dengan adanya ilmu yang bermanfaat,baik untuk diri sendiri maupun orang lain.Ilmu yang bermanfaat bukan berarti harus menjadi guru saja,menjadi apapun bisa.Yang terpenting ilmu yang dimiliki bisa menebarkan kebaikan untuk sesama.Apabila kita mengamalkan ilmu yang kita miliki untuk kita sendiri atau makhluk lain dalam bentuk apapun,itulah ilmu yang bermanfaat,ilmu yang berkah.

Keberkahan dalam hal rizki tak berarti harus mendapat rizki yang berlimpah ruah sampai berlimpah-limpah,tetapi berkah dalam hal rizki adalah berkah yang berawal dari bagaimana rizki itu didapat dan digunakan dengan cara yang baik.Mau banyak atau sedikit,kalau asalnya dari usaha halal dan diperuntukkan untuk sesuatu yang halal juga,Insya Allah semuanya akan menjadi ladang amal.Rizki seperti itulah yang bermanfaat.

Selain dalam hal ibadah,usia,ilmu,rizki,keberkahan juga ada dalam bentuk lainnya,keberkahan dalam keluarga,pertemanan,dan lain sebagainya.Kita tak bisa serta merta mengklaim bahwa sesuatu yang terjadi itu adalah keberkahan,lebih-lebih apabila menyangkut hal yang terjadi pada orang lain.Keberkahan itu misterius,hanya hati yang ikhlas yang bisa merasakannya dengan baik.Tak perlulah kita menghakimi jika seseorang itu mendapat keberkahan atau tidak,karena yang tahu adalah orang yang bersangkutan dan Sang Pencipta.Kita hanya bisa mengira-ngira dan selalu berbaik sangka.

Oh ya,sebenarnya tulisan ini membawa keberkahan atau tidak ya?.Wallahua'lam.Tetapi semoga saja tulisan ini termasuk tulisan yang penuh keberkahan,sehingga tulisan ini bisa membawa kebaikan dan bermanfaat untuk kita semua.

Selasa, 06 Februari 2018

Pohon Mangga Ajaib dan Sedekah

Pohon Mangga Ajaib dan Sedekah

Suatu hari seorang teman saya berkunjung ke rumah.Karena termasuk teman dekat,sayapun akhirnya mengajaknya ngobrol panjang lebar di halaman belakang rumah.Di belakang rumah itu bukan tempat istimewa,hanya halaman yang banyak ditumbuhi aneka pohon dan aneka semak-semak liar.

Tiba-tiba,mata teman saya tertuju pada sebuah pohon mangga yang nampak tidak berbuah banyak seperti pohon mangga lainnya,padahal saat itu di kota tempat saya tinggal sedang musim buah mangga.Melihat itu dia langsung berkata bahwa mangga itu tidak mau berbuah karena saya tidak mau sedekah.Mendengar ucapan teman saya,saya menjadi tertawa geli dibuatnya.

Semula saya tidak mau menjawab ucapannya atau juga menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada pohon mangga itu.Kenapa?,semua karena ketakutan saya.Takut kenapa?,salah satunya saya takut dicap riya atau sombong.Lalu,apa hubungannya pohon mangga dan masalah riya atau sombong?,ya karena memang pohon mangga itu pohon mangga istimewa.Tapi setelah dipikir-pikir,akhirnya saya menjelaskan juga pada teman saya,bahwa pohon mangga yang nampak take berbuah itu adalah pohon mangga yang hampir semua buahnya saya sedekahkan.

Setelah mendengar ucapan saya,sang teman menjadi terkejut,entah apa yang ada di benaknya.Apakah dia percaya,itu bukan urusan saya.Apakah dia berfikir macam-macam tentang says?,itu juga bukan masalah buat saya.Toh saya hanya berusaha menjelaskan apa yang terjadi dengan pohon mangga itu.Saya hanya ingin teman saya tahu,bahwa pohon mangga itu adalah pohon mangga yang disedekahkan.Dari kejadian ini saya berharap pada saya dan teman saya,semoga di kemudian hari kami tidak mudah mencap sesuatu atau seseorang hanya karena prasangka saja.Itu intinya.

Setelah Kejadian itu,saya agak sedikit berfikir,apa yang sebenarnya terjadi pada pohon mangga saya.Saya perhatikan dari atas sampai bawah,ada apa?.Tiba-tiba mata saya tertuju pada tumpukan genteng yang memenuhi bagian bawah batang pohon mangga.Dengan sigap saya pindahkan genteng-genteng tersebut ke tempat lain.Hampir sebagian tanah di sekitar pohon mangga itu sudah disemen,ditambah lagi genteng-genteng.Mungkin ini penyebab mangga itu tak mau berbuah.

Beberapa bulan kemudian,akhirnya musim buah manggapun tiba.Daun-daun yang menghijau diselingi bunga-bunga dengan bau harumnya yang khas memenuhi pohon mangga itu.Berbeda dengan keadaan sebelumnya.Dari kejadian itu saya jadi berfikir,mungkin saja pohon mangga tersebut stres dan tak tumbuh kembang seperti semestinya karena saya memperlakukannya dengan tidak baik.

Sejak saat itu saya memperlakukan pohon mangga itu dengan baik,agar ia memberikan yang terbaik juga untuk saya.Pohon mangga itu sungguh istimewa,pohon mangga ajaib yang mengajarkan pada saya dan teman saya tentang banyak hal,tentang pentingnya sedekah,tentang larangan berburuk sangka atau menghakimi orang lain tanpa jelas alasannya,tentang larangan berbuat sombong dan riya,juga tentang tabyyun atau konfirmasi.Dan yang terpenting adalah pelajaran tentang akhlak kita terhadap makhluk lain ciptaan Allah,termasuk terhadap binatang dan tumbuhan.

Jumat, 28 April 2017

Membandingkan Diri dengan Diri Sendiri

Membandingkan Diri dengan Diri Sendiri

Dulu,saat saya kecil saya sering sekali membandingkan Diri Sendiri dengan orang lain,terutama dengan teman-teman.Membandingkan kepandaian,kekayaan,kebahagiaan,dan lain sebagainya.Ada saat selalu bahagia saat membandingkan diri dengan orang lain,ada kalanya juga sedih menghinggapi.

Saat saya membandingkan diri dengan anak-anak yang lain yang dapat nilai rendah padahal sudah belajar mati-matian,semnetara saya mendapat nilai bagus atau lebih tinggi tanpa harus lelah belajar seperti mereka.Di sini saya merasa bangga.Saya merasa senang karena berarti saya termasuk anak yang pintar atau minimal beruntung.

Saat saya membandingkan dengan teman saya yang lebih pintar,saya merasa sedih karena saya kalah pintar.Rasanya ingin sekali saya seperti mereka yang lebih pintar dari saya,tanpa mau tahu akan apa yang sudah mereka lakukan.Mereka bekerja keras,sementara saya asik bersantai-santai.

Selalu saja membandingkan diri dengan orang lain sampai saya lupa membandingkan diri dengan diri sendiri.Membandingkan diri dengan diri sendiri?,ya,dengan diri sendiri.

Kenapa saya tidak membandingkan diri saya dengan diri sendiri?,padahal bila itu saya lakukan dari semenjka anak-anak mungkin saya akan lebih berhasil,atau minimal saya sudah maksimal dengan segala usaha dan do'a.Tapi semuanya tidak pernah saya lakukan dari dulu.

Saya lupa membandingkan diri teman-teman saya yang tidak pandai dengan diri mereka sendiri.Bagaimana jadinya kalau mereka tidak belajar,mungkin mereka akan dapat nilai yang lebih rendah.Sudah berjuang dengan belajar saja mereka mendapat nilai kecil,apalagi tidak belajar.Saya juga lupa membandingkan diri  teman-teman saya yang pintar dengan diri mereka sendiri.Apakah mereka akan tetap dapat nilai bagus saat mereka tidak belajar?.

Kenapa saya lupa membandingkan diri saya yang tidak belajar dengan saya yang belajar.Bisa dibayangkan bila saat kecil dulu saya rajin belajar,bisa saja saya mendapat nilai yang bagus,minimal mendekati nilai-nilai yang diperoleh anak-anak yang lebih pintar dari saya.Seharusnya saya harus membandingkan diri saya yang tidak belajar dengan diri saya yang belajar.Bila saja dari dulu saya rajin belajar,Insya Allah saya akan mendapatkan lebih daripada yang sudah saya dapatkan selama ini.

Sayangnya saya terlena,sehingga cuma bisa membandingkan diri saya dengan orang lain yang tidak lebih dari saya demi kesenangan sendiri.Saya lupa membandingkan diri dengan diri saya sendiri.Pantaslah dari dulu saya tak mau berusaha lebih keras untuk menggapai sesuatu yang lebih baik,sehingga hasil yang saya perolehpun tak lebih baik,dibandingkan jika saya berusaha dengan lebih giat lagi.

Senin, 17 April 2017

Belajar dari Mbah Fanani dan Masyarakat Dieng

Belajar dari Mbah Fanani dan Masyarakat Dieng

Ketika Mbah Fanani datang ke Dieng,tak seorangpun tahu siapa beliau,asal usulnya,kedudukannya,dan lain sebagainya.Yang orang tahu adalah Mbah Fanani hidup seorang diri tanpa sanak saudara, tanpa harta atau benda.Melihat Mbah Fanani dengan pakaian ala kadarnya,tak bertempat tinggal dan entah makan dari mana,orang-orang yang melihatnya menjadi iba dan perduli,ketulusan mereka diuji.

Pada akhirnya mereka memberikan tempat berteduh untuk Mbah Fanani,memberinya makan,pakaian dan lain sebagainya,dan tentu saja semua itu mereka lakulan tanpa mengharap apapun,apalagi meminta balasan dari Mbah Fanani.Sungguh sebuah cerita yang indah,di mana orang-orang begitu peduli pada Mbah Fanani yang menurut mereka hanya orang biasa,bukan siapa-siapa dengan segala cerita dan embel-embelnya.

Lambat laun banyak orang mendatangi Mbah Fanani,konon hal ini mereka lakukan karena mereka mengetahui kelebihan-kelebihan beliau.Cerita yang dulu hanya diketahui dari mulut ke mulut dan di kalangan keluarga serta kerabatnya saja,di era internet dan medsos ini ceritanya menjadi begitu cepat menyebar.Mbah Fanani menjadi sebuah fenomena dan semakin banyak saja orang-orang yang berlomba mendatanginya.Mereka yang datang tentu saja dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya.Ada yang bertujuan baik,namun tak sedikit juga yang bertujuan kurang baik.Ada yang sekedar sowan atau bersilaturohim,namun tak sedikit pula yang berharap banyak setelah menemuinya.

Mbah Fanani dan Masyarakat Dieng,sebenarnya mereka sedang mengajarkan kepada kita untuk perduli pada sesama,tanpa memandang status,tanpa memandang asal usul.Menolong orang yang perlu ditolong,perduli pada siapa saja.

Seandainya Mbah Fanani diketahui tak mempunyai kelebihan,masih adakah orang yang mau perduli padanya?,masih adakah orang yang mau mendatanginya untuk sekedar bersilaturohim?,asakah orang yang melakukan hal seperti apa yang dilakukan oleh masyarakat Dieng saat mereka memperlakukan Mbah Fanani,sejak pertama kali Mbah Fanani datang beberapa belas tahun lalu tanpa mereka tahu siapa Mabh Fanani yang sebenarnya.

Sepertinya saya harus banyak belajar pada Mbah Fanani dan masyarakat Dieng.Perduli dan ikhlas.

Minggu, 11 September 2016

Sahabat Terbaik Adalah Uang (Harta)?

Sahabat Terbaik Adalah Uang (Harta) ?

Hem,saya menulis ini karena pengalaman saya saat saya punya uang dan tidak punya uang.Saat punya uang,semua terasa lebih indah dan gampang.Saat tak punya uang,semua terasa suram dan kelam.He he,lebay ya?,tapi memang begitulah yang saya rasakan.

Berulang kali saya jatuh bangun,antara punya uang dan tidak punya uang.Saat punya uang teman menghadang,saat tak punya uang teman menghilang.Dan itu terjadi berkali-kali.Sakitnya tuh di sini (sambil pegang saku yang tepos karena uangnya tak ada).

Uang,uang,uang.Benar-benar benar apa kata pepatah itu.Ada uang banyak yang mengaku saudara,tak ada uang tak ada yang mau mengakui sebagai saudara.Eh,tapi sebentar,pikir-pikir saya itu jarang punya uang,jadi ya hanya sedikit teman yang saya punya.Nasib atau mungkin bawaan lahir,itumah dg alias derita gue.

Tapi untunglah,walau jarang punya uang saya itu mempunyai kakak adik yang baik hati,juga saudara saudari yang begitu perduli.Mereka selalu membantu saya ketika tak punya uang.Tak perlu kode-kode tertentu,tanpa meminta pun mereka suka memberi.Maklum saja,di keluarga kami memang ada tradisi untuk saling memberi.Tak harus banyak,yang penting ikhlas dan saling perduli.

Kapan saya punya uang?,dipikir-pikir ya jarang. Punya uang juga selalu pas-pasan saja,ya pas gajian itu.

Saat tak punya uang itu rasanya sedih sekali,sampai-sampai saya berfikir jika uang adalah sahabat terbaik.Ya,sahabat terbaik adalah uang.Dengan uang mau apapun gampang.Uang atau harta,itu yang banyak dipuja oleh manusia,termasuk oleh aku ini.Tapi sepertinya uang tak mau berteman dengan saya,jadilah saya seperti ini,hidup tanpa uang.Dari sini saya tidak yakin jika sahabat terbaik adalah uang,karena uang sendiri tidak mau bersahabat dengan saya.

Bacanya jangan serius sekali ya,karena saya juga menulisnya tidak pakai kata serius.

Kamis, 28 Juli 2016

Meminta Rizki Yang Berkah

Meminta Rizki Yang Berkah

Namanya hidup,setiap makhluk hidup terutama manusia pasti tak lepas dari yang namanya Rizki.Hampir setiap manusia menginginkan Rizki,tak hanya sedikit tapi seringkali meminta dalam jumlah yang banyak dan berlebih.

Rizki yang banyak apalagi sampai berlebih itu memang asik dan enak.Banyak hal yang kita bisa dapatkan atau kita nikmati.Dengan Rizki yang banyak kita bisa mencukupi aneka kebutuhan kita,mulai dari kebutuhan primer,sekunder hingga tersier.Dengan Rizki yang banyak kita bisa melakukan banyak hal,sekalipun dengan biaya yang tidak sedikit untuk memperolehnya.

Rizki yang banyak apalagi berlebih itu !e!yang asik dan enak.Makanya hampir semua orang ingin mempunyai rizki yang banyak dan berlebih.Berbagai macam cara pun dilakukan agar bisa mendapatkan rizki yang banyak dan berlimpah.Tak hanya dengan usaha halal,terkadang usaha harampun dilakukan demi mencapai apa yang diinginkan.

Betulkah rizki yang banyak dan berlebih itu asik dan enak?,betulkah dengan rizki yang banyak kita bisa memperoleh banyak hal?.Jawabannya pasti iya.Tapi betulkah rizki yang banyak dan berlebih itu bisa mendatangkan kedamaian hidup?.Jawabannya tentu saja tidak.Terkadang rizki yang banyak tak selalu mendatangkan kedamaian dalam hidup karena rizki yang diperoleh dan dimiliki tidak ada keberkahan di dalamnya.

Rizki yang bisa mendatangkan kedamaian dalam hidup adalah rizki yang berkah,yaitu rizki yang didapat dengan cara halal,digunakan untuk keperluan halal,digunakan untuk kepentingan yang bernilai ibadah,juga yang diterima dengan rasa ridho dan ikhlas.

Sedikit atau banyak,rizki yang berkah akan mencukupi.Sedikit atau banyak rizki yang berkah akan mendatangkan kebaikan.Sedikit atau banyak rizki yang berkah akan mendatangkan kebahagian ydi dunia dan akhirat.Rizki yang berkah tergantung kepada orang yang memilikinya.Bagaimana kita mendapatkannya,bagaimana kita menggunakannya.

Meminta rizki yang banyak memang tidak dilarang,tapi meminta rizki yang berkah itu lebih utama.Rizki yang banyak namun tidak berkah hanya akan mendatangkan bencana,rizki sedikit ataupun banyak asal berkah pasti mendatangkan bahagia.Seberapapun banyaknya rizki kita,bila tidak berkah tak akan membuat kita tenang.

Dulu saya juga sering meminta rizki yang banyak dan berlimpah,karena saat itu saya beranggapan kalau orang yang mempunyai harta banyak atau berlimpah itu hidupnya akan  bahagia.Tapi kalau sekarang saya hanya meminta rizki yang berkah,karena ternyata rizki yang berkah lah yang bisa mendatangkan bahagia yang sesungguhnya.Hal ini sudah dialami oleh banyak orang yang saya temui.Orang yang mempunyai rizki yang berkah itu dijamin bahagia,sedikit ataupun banyak tak jadi masalah,yang penting bisa mendatangkan kebaikan.

Minggu, 24 Juli 2016

Sedekah Secara Terang-Terangan

Sedekah Secara Terang-Terangan

Sedelah secara terang-terangan itu berat sekali karena banyak sekali godaannya juga cobaannya.Godaan dan cobaan itu tak hanya datang dari dalam diri sendiri tetapi juga dari luar,baik itu dari syetan maupun manusia lainnya.Makanya banyak orang yang memilih sedekah secara sembunyi-sembunyi,sesuai dengan hadist Nabi Muhammad saw.

Salahkah sedekah secara terang-terangan?,tentu saja tidak.Secdekah secara samar atau secara sembunyi-sembunyi itu sama baiknya,yang penting niat di hatinya.Yang penting saat sedekah itu jauhkan diri dari sifat Riya,sum'ah,ujub,atau takabur.

Sedekah secara terang-terangan itu bukan hal mudah,karena kita harus bisa melawan semua sifat buruk yang ada dalam diri kita.Tapi sedekah secara terang-terangan itu banyak faedahnya,pahala juga bisa jadi berlimpah-limpah.Faedah dan pahala yang didapat akan berlimpah jika sedekah yang dilakukan itu dilakukan dengan ikhlas sekaligus untuk mengajak orang lain untuk turut serta melakukan sedekah seperti yang dilakukan oleh kita.

Berikut hal-hal yang perlu di perhatikan saat kita melakukan sedekah secara terang-terangan.

Riya (berharap pujian)

Sedekah secara terang-terangan itu rawan dengan pujian orang.Kalau tidak waspada bisa-bisa kita justru berharap pujian dari orang lain tersebut.Yang semula berharap ridho Allah SWT saja terkadang bisa berbelok mengharap pujian orang,lebih-lebih yang niat awalnya sudah berharap pujian dari orang.Yang terpenting adalah luruskan niat,karena semua amal ibadah kita hanya berharap ridho Allah SWT.

Sum'ah (berharap popularitas)

Riya dan sum'ah itu saling berkaitan.Kalau Riya berharap pujian,maka sum'ah berharap kepopuleran atau ketenaran.Memang tak sedikit orang yang berharap namanya dikenal oleh banyak orang.Semoga yang bersedekah tidak tergoda untuk menjadi populer di kalangan masyarakat umum karena sedekahnya.Sedekah karena Allah,untuk Allah.Karena kekayaan yang kita miliki juga berasal dariNya.

Ujub (bangga)

Ujub atau bangga terhadap diri sendiri.Karena merasa bisa bersedekah seseorang malah datang sifat ujubnya.Apalagi setelah melihat sedekahnya lebih banyak atau lebih sering dari sedekah orang lain.Bangga kalau dirinya bersedekah,bangga kalau dirinya kaya,dan lain sebagainya hingga melupakan karunia Allah SWT.

Takabur (sombong)

Sifat sombong adalah sifat yang paling dibenci oleh Allah SWT,semoga kita semua dijauhkan dari sifat ini.Jangan sampai Sedekah kita itu malah mendatangkan kesombongan pada diri kita,memandang orang lain lebih rendah dari kita,melihat orang lain tidak lebih baik dari kita,naudzubillah mindzalik.Sedekah itu tujuan utamanya untuk menolong orang lain atau turut serta dalam menegakkan ajaran Agama Islam.S semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong ini.

Khouf (ketakutan)

Ternyata takut dalam bersedekah secara terang-terangan juga kerap kali datang pada orang yang hendak melakukan sedekah secara terang-terangan.Bisa jadi takut menjadi riya,sum'ah,ujub atau takabur.Atau bisa juga karena takut mendapat cap dari orang lain atau masyarakat bila kita adalah orang yang suka pamer,sombong,dan lain sebagainya.

Sedekah secara sembunyi-sembunyi itu baik,sedekah secara terang-terangan juga baik.Semua kembali kepada niat masing-masing orang yang bersedekah.

Semoga saat kita bersedekah selalu diniatkan karena Allah SWT,bukan karena makhluk ciptaanNya.Mengharap dan mendapat ridho Allah itu lebih indah dibandingkan mengharap dan mendapat pujian dari makhluk ciptaanNya.

Sabtu, 21 Mei 2016

Tergoda Uang Kembalian Lebih

Tergoda Uang Kembalian Lebih

Entah sudah berapa puluh kali saya mendapat uang kembalian lebih,mulai dari nominal kecil sampai nominal yang besar.Hal sepele namun sebenarnya sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan,baik untuk orang yang memberikan kembalian atau juga saya yang mendapat kembalian.

Bisa dibayangkan kalau orang yang memberi kembalian tersebut sedang butuh sementara kembalian yang diberikan kepada kita lebih.Kalau sedikit mungkin tak terlalu berpengaruh,tapi kalau besae pasti akan besar juga pengaruhnya.Kalau jarang mungkin juga tidak terlalu bermasalah,tapi bagaimana kalau sering?.Orang yang mengembalikan kembalian lebih juga kan punya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Uang kembalian lebih tersebut sering saya dapatkan dari pedagang,supir atau kenek,tukang ojek,petugas loket,kasir dan lain sebagainya.Walau sedikit tapi terkadang menggoda,apalagi kalau banyak.Lebih-lebih kalau saya menerima uang kembalian lebih tersebut bertepatan saat saya sedang tidak punya uang alias sedang bokek.Benar-benar menggoda iman.Tapi syukurlah,hingga saat ini saya berhasil melewati godaan tersebut dan kembali mengembalikan uang kembalian yang lebih tersebut kepada orang yang berhak.

Sedikit atau banyak jika kita tahu uang kembalian yang kita terima itu lebih namun kita diam saja,pura-pura tidak tahu,atau justru memanfaatkan kesempatan tersebut,itu sama artinya kita mencuri uang milik orang lain.Naudzubillah min dzalik.Semoga saja kita dihindarkan dari hal-hal demikian,karena hal tersebut benar-benar merugikan orang lain.

Sedikit atau banyak,tetap saja namanya uang kembalian yang lebih adalah uang haram karena jelas-jelas bukan hak kita.Saat kita mendapat uang kembalian kurang juga terkadang kita menjadi kesal,marah,sedih,menggerutu,mencaci dan lain sebagainya.Hal itu jugalah yang dirasakan orang yang mengembalikan uang kembalian yang lebih kepada kita.Jadi jangan sekali-kali kita memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Kamis, 19 Mei 2016

Sholatku Kewajibanku,Bukan Kebutuhanku

Sholatku Kewajibanku,Bukan Kebutuhanku

Saya itu sangat iri sekali sama orang-orang yang sudah melaksanakan sholat lima waktu dengan baik dan benar.Saya lebih iri lagi jika melihat orang yang sholat lima waktunya di masjid atau mushola.Saya tambah iri lagi bila melihat orang yang sudah melaksanakan sholat wajib lima waktunya dengan baik,ditambah pula sholat sunah dan mengerjakan ibadah-ibadah lainnya.

Saya memang orang yang suka iri pada orang yang sudah menjadikan sholat sebagai kebutuhan hidupnya seperti makan dan minum yang tak bisa lagi ditinggalkan atau dinanti-nanti.Saya benar-benar iri pada orang yang suka memgerjakan sholat tepat pada waktunya,bahkan di awal waktu dengan berjamaah pula.Saya benar-benar iri pada orang seperti itu dengan sebenar-benarnya iri.

Tapi saya cuma bisa iri tapi tanpa bisa melakukan seperti apa yang mereka lakukan.Atau mungkin sebenarnya saya ini bisa tapi sayanya memang tidak mau melakukan hal tersebut karena berat.Rasanya saya memang belum bisa dan juga belum ada kemauan untuk melakukan kebaikan seperti yang mereka lakukan.Mudah bagi mereka,namun begitu berat bagi saya.Semua karena tak ada niat,kalaupun ada niat hanya sebatas di bibir saja.

Sampai saat ini saya masih menganganggap sholat sebagai kewajiban yang menjadi beban,bukannya menganggap sholat sebagai kewajiban sekaligus juga sebagai kebutuhan.Ya,sholatku masih sebatas kewajibanku,bukan kebutuhanku.Pantaslah bila hingga saat ini masih saja terasa begitu berat untuk melaksanakan ibadah yang satu ini.

Selasa, 17 Mei 2016

Aku Berlindung Kepada Allah Dari Segala Perbuatan Yang Merugikan Orang Lain

Aku Berlindung Kepada Allah Dari Perbuatan Yang Merugikan Orang Lain

Hampir setiap hari selalu saja disuguhkan dengan aneka berita atau cerita tentang orang-orang yang suka menyakiti atau merugikan orang lain.Ada yang suka mencaci orang lain,menghina,menipu,merampas hak orang lain,berghutang tapi tidak bayar,mencuri milik orang lain,merampok,memperkosa,membunuh,dan aneka perbuatan yang merugikan orang lainnya.Sungguh-sungguh perbuatan tidak terpuji yang patut kita hindari.

Perbuatan yang menyakiti atau merugikan orang lain adalah perbuatan yang membuat orang lain terluka,tersiksa,merana,bersedih,dan menangis.Tak jarang bukan hanya orang yang dirugikan saja yang merasakan hal yang tidak menyenangkan,tetapi terkadang juga orang yang ada di sekitarnya ikut merasakan hal yang sama.Orangtua,saudara,dan orang-orang yang mencintainya,ikut juga merasakan hal yang dirasakan oleh orang yang disakiti atau dirugikan tersebut.

Ketika kita menyakiti atau merugikan orang lain,tak hanya kepada Allah swt saja kita harus meminta ampunan atau maaf,tetapi kita juga harus meminta maaf pada orang yang kita sakiti atau kita rugikan.Pertanyaannya adalah,apakah orang yang disakiti atau dirugikan tersebut mau menerima maaf kita?,sementara kita sendiri ketika disakiti atau dirugikan oleh orang lain juga tidak mudah untuk memaafkan orang yang menyakiti atau merugikan kita.

Menyakiti atau merugikan orang lain adalah sesuatu yang sangat tidak ingin saya lakukan.Semoga saja saya bisa terhindar dari perbuatan yang menyakiti atau merugikan orang lain tersebut,karena saya memang tak ingin menyakiti atau merugikan orang lain.Saya tahu rasanya disakiti,saya tahu rasanya dirugikan.Saya tahu perasaan orang lain yang disakiti,saya juga tahu perasaan orang lain yang dirugikan.

Ya Allah,aku berlindung kepadaMu dari segala godaan syetan yang terkutuk.

Aku berlindung kepada Allah swt dari perbuatan yang menyakiti atau merugikan orang lain.

Sabtu, 14 Mei 2016

Iman Dan Taqwa Yang Naik Turun Dan Berubah-Ubah

Iman Dan Taqwa Yang Naik Turun Dan Berubah-Ubah

Iman dan taqwa itu turun naik dan berubah-ubah,ada saatnya kita sangat beriman dan bertaqwa,ada kalanya kita tidak sangat beriman atau bertaqwa atau.Ada saatnya iman dan taqwa kita begitu teguh dan kokoh,ada saatnya juga iman kita begitu lemah dan rapuh.Ada saatnya iman kita naik,ada saatnya iman dan taqwa kita turun.

Iman dan taqwa kita itu memang selalu berubah-ubah.Semua bisa terjadi sesuai keadaan jiwa dan raga kita,lingkungan kita,ilmu yang dimiliki,pekerjaan atau perbuatan yang dilakukan dan lain sebagainya.Iman dan taqwa tak bisa diam dalam satu posisi,karena kita sebagai manusiapun selalu berubah.Iman dan taqwa selalu mengikuti pelakunya sendiri.

Bagi orang yang sholeh sendiri,iman dan taqwa juga selalu naik turun dan berubah-ubah.Apalagi bagi orang awam seperti saya yang jauh dari kata sholeh.Bagi orang sholeh mungkin iman dan taqwanya lebih banyak naiknya dibandingkan turunnya,atau lebih banyak diam di posisi tertentu karena memang sudah beristiqomah atau terus-menerus melakukan kebaikan yang sama dalam waktu yang lama.

Bagi orang awam atau jauh dari kata sholeh,naik turun dan berubah-ubahnya iman dan taqwa mungkin hal yang biasa yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-harinya.Hari ini iman dan taqwa naik,besok atau lusa sudah turun lagi.Sekarang naik tinggi,beberapa saat kemudian turun lagi,bahkan bisa sampai ke titik terendah.Iman dan taqwa orang-orang awam memang sering sekali berubah-ubah.Kadang iman dan taqwanya begitu baik,kadang begitu buruk,kadang biasa-biasa saja,kadang luar biasa.

Sebagai orang awam yang jauh dari kategori sholeh,saya sendiri merasakan hal demikian,di mana iman dan taqwa saya selalu naik turun dan berubah-ubah.Iman dan taqwa saya naik turun dan berubah-ubah tak hanya dalam hitungan hari,tapi juga dalam hitungan jam,menit bahkan detik.Yang saya bisa pertahankan sementara ini adalah semoga saja iman dan taqwa ini tidak hilang tanpa bekas.Naik turun dan berubah-ubah tak mengapa,yang penting asal tidak musnah dari jiwa dan raga ini.Dan semoga saja pada akhirnya nanti iman dan taqwa ini bisa naik terus dan kalaupun berubah adalah berubah ke arah yang lebih baik,bukan malah sebaliknya.

Bahagia Itu Berbeda-Beda

Bahagia Itu Berbeda-Beda

Benarkah bahagia itu berbeda-beda jenisnya?,benarkah setiap orang itu mempunyai bahagia yang berbeda dalam hidupnya?.Kalau menurut saya sih iya dan semua tergantung kembali kepada orang-perorang tersebut.Antara satu orang dengan yang lainnya pasti berbeda dalam hal yang menyebabkan dironya bahagia saat hidup di dunia ini.

Ada orang yang bahagia karena ilmu,maka dia akan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menuntut ilmu.Terkadang dia tak sayang dalam mengeluarkan harta bendanya demi memperoleh aneka ilmu.Apapu akan dilakukan agar ilmu bisa didapat,karena ilmu telah membuatnya merasa bahagia.

Ada orang yang bahagia karena harta,maka dia akan menghabiskan sebagian besarnya untuk mengumpulkan harta kekayaan,membangun rumah atau istana megah,membeli kendaraan mewah,mengumpulkan aneka perhiasan dan barang berharga,menabung harta dalam jumlah besar,melebarkan sayap usaha ke mana-mana dan lain sebagainya. Terkadang orang seperti ini akan mnghabiskan banyak waktunya untuk mencari harta,tak jarang juga orang yang melakukan hal-hal terlarang untuk mencapai harta benda yang diinginkannya.

Ada orang yang bahagia karena kekuasaan atau jabatan.Maka dia akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk meraih kekuasaan atau jabatan tersebut,semua karena agar dia bisa berkuasa secara luas dan bisa memproleh jabatan tinggi.Terkadang orang-orang seperti ini sampai mau melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama,bahkan tak jarang yang sampai merugikan sesama.

Ada orang yang bahagia dengan kepandaiannya,ada orang yang bahagia dengan kebodohanya,ada orang yang bahagia dengan kemiskinanya,ada juga orang yang bahagia saat hidup ala kadarnya.Ada orang yang bahagia dengan wajah rupawan,ada orang yang bahagia hidup terkenal,ada orang yang bahagia dengan berpesta pora,ada orang yang bahgia dengan berkeliling ke tempat-tempat yang indah,ada orang yang bahagia melihat orang bahagia,ada juga orang yang bahagia melihat orang susah,dan sederet bahagia-bahagia lainnya.

Bahagia itu memang berbeda-beda,berbeda jenisnya,berbeda  caranya,berbeda memperolehnya,berbeda sumbernya,berbeda rasanya,dan berbeda pula jalan untuk mewujudkannya.Dan saya,saya adalah orang yang termasuk bisa bahagia kalau saya pintar,banyak harta,punya kuasa,punya segala yang diinginkan,dan bahagia karena al-hal lain yamg ada dindunia ini,yang tak pernah merasa tercukupi dan dicukupi.Hingga akhirnya hampir saja saya melupakan Tuhan Semseta Alam,Allah swt.

Ya Allah,ternyata bahagia itu sederhana dan bisa diperoleh oleh siapa saja dengan cara mencintaiMu.MencintaiMu dengan sepenuh hati adalah bahagia yang nyata.Tapi sayang,belum juga saya bisa mencintaiMu dengan sepenuh hati.Masih saja saya mencari bahagia yang lain,bahagia yang bersifat duniawi,bukannya mencintaiMu dengan setulus hati.

Belajar Menahan Amarah

Belajar Menahan Amarah

Marah itu datangnya dari syetan,marah itu ibarat api.Marah yang tak terkendali bisa membuat orang yang mengalaminya bisa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,hal-hal berbahaya,bahkan hal-hal yang merugikan baik untuk orang lain maupun untuk dirinya sendiri.

Dalam sebuah hadist dijelaskan jika marah memang sangat berbahaya jika tidak bisa mengelolanya.Di dalam hadis tersebut dijelaskan bagaimana kita bersikap bila marah sedang menguasai jiwa.Apabila sedang marah dianjurkan untuk membaca istighfar atau taawudz,bila masih marah maka ambillah wudhu.Teti jika masih marah juga maka sebaiknya kita melanjutkan membaca Al Qur'an atau sholat agar amarah segera mereda.

Jika marah,tidak semua orang sempat ingat atau bahkan tidak mau melakukan hal-hal yang dianjurkan oleh Rosulullah saw.Tak sedikit orang yang cenderung meluapkan amarahnya,hingga tak jarang menimbulkan aneka masalah yang mengikutinya.Bahkan terkadang masalah yamg ditimbulkan justru lebih besar dan berbahaya dari masalah sebelumnya.

Menahan amarah itu perlu belajar dan belajarnya harus dimulai dari kecil.Belajar menahan amarah adalah belajar sepanjang waktu selama nyawa masih dikandung badan.Hampir setiap hari kita pasti dihadapakan pada aneka masalah yang membuat kita marah.Kalau tak bisa mengendalikannya bisa-bisa fatal akibatnya.

Saat sedang sendiri atau bersama orang lain,marah selalu saja datang menghampiri dan tak kenal kompromi.Sebenarnya marah tidak dilarang asal tepat waktunya dan tak berlebihan dalam meluapkannya.Kalau terlalu sering marah akan berbahaya,tapi kalau tak pernah marah juga bisa berbahaya.Semua karena memang ada hal-hal di mana kita harus marah.

Sebagai seorang manusia saya juga tak luput dari yang namanya marah.Sering kali saat marah saya juga berlebihan dalam meluapkannya.Hal inilah yang akhirnya saya sesali.Mengapa saya harus  marah?,mengapa saya berlebihan dalam saat marah?.

Semoga saja kita bisa mengendalikan amrah kita,sehingga tidak ada hal-hal yang bisa merugikan dan menyakitkan bagi kita maupun orang lain.

Kamis, 12 Mei 2016

Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan Di Bawah

Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan Di Bawah

Memberi adalah sebuah tuntutan yang diperintahkan oleh Allah swt,sedangkan meminta adalah suatu hal yang sangat tidak dianjurkan oleh Allah swt.Di dalam hadis Nabi Muhammad juga dijelaskan tentang baiknya orang yang memberi dibandingkan orang yang meminta,yang dianalogikan sebagai tangan yang di atas (pemberi) dan tangan yang di bawah (yang diberi/ yang mminta-minta).

Dalam kehidupan sehari-hari pasti tidak akan terlepas dari yang namanya memberi dan menerima.Kalau memberi,memberilah dengan ikhlas.Kalau menerima,menerimalah dengan ikhlas juga.Kalau meminta?,kalau meminta ya seperlunya saja,memintalah sesuatu ketika kita memang benar-benar tak punya atau tak mampu sementara kita betul-betul sangat membutuhkannya.Kalau punya dan mampu,kenapa harus meminta?.

Karena ingat hadis ini,makanya saya jarang meminta kepada orang lain dan sebisa mungkin saya memenuhi kebutuhan saya sendiri hingga ke perihal yang sekecil-kecilnya.Kalau meminta,paling sering ya meminta pada ayah dan ibu saya,atau terkadang sama adik atau kakak,itupun kalau saya sedang benar-benar membutuhkannya dan tidak ada jalan lain selain meminta.Dan saat memintapun saya tak mau meminta dalam jumlah yang banyak,seperlunya saja,sesuai kebutuhan yang sangat dibutuhkan saat mendesak itu.

Tak meminta-minta dalam memenuhi kebutuhan ini saya terapkan sekali dalam kehidupan saya.Saat ingin membuat yayasan,perpustakaan atau kegiatan lainnya,sebisa mungkin saya juga tidak mau meminta-minta.Alhamdulillah,walau tak meminta-minta,akhirnya saya bisa juga mewujudkan cita-cita saya.Walau harus bersusah-susah dulu,akhirnya banyak cita-cita yang terwujud.

Saat menyadari bila apa yang telah kita lakukan atau kita korbankan itu bisa kita wujudkan menjadi apa yang seperti kita harapkan,rasanya pasti akan senang sekali.Lebih-lebih bila apa yang kita lakukan itu adalah hasil jerih payah dan dari keringat sendiri tanpa harus meminta-minta dari orang lain,senangnyapun berkali-kali lipat.Kalau tak bisa memberi yang penting tidak suka-meminta-minta.Syukur-syukur bisa memberi tanpa harus meminta-minta.

Tangan di atas memang lebih baik dari tangan di bawah.Jadi kalau masih bisa dipenuhi sendiri,mengapa harus meminta pada orang lain?.

Selasa, 10 Mei 2016

Hati-Hati Saat Meminta Sumbangan

Hati-Hati Saat Meminta Sumbangan

Saat di pesantren dulu saya pernah diberi cerita oleh guru saya tentang seorang mualaf.Sang mualaf adalah seorang yang kaya dengan beragam bidang usaha.Menurut ustadz saya,sang mualaf yang kaya ini sering didatangi oleh banyak peminta sumbangan yang mengataskan lembaga atau kegiatan tertentu,yang tentu saja dengan alasan mengembangkan ajaran agama Islam.

Di antara peminta sumbangan,ada yang meminta sumbangan untuk tempat ibadah,kegiatan atau acara hari besar Islam,dan lain sebagainya.Lama-lama sang mualaf menjadi kesal dan salah kaprah dalam orang-orang Islam.Menurutnya orang-orang Islam sangat suka meminta,dan hal ini membuatnya menjadi kembali berpaling daei ajaran Islam karena tak mau terlalu banyak orang Islam yang meminta sumbangan padanya.Terbukti,setelah dia kembali menjadi non muslim,tak ada lagi peminta sumbangan yang sering menyambamgi rumahnya untuk meminta sumbangan

Mualaf yang kaya atau yang miskin memang harus diperlakukan secara khusus dan jangan diperlakukan seperti orang Islam lainnya yang memang sudah lama menjadi muslim,bahkan sudah Islam sejak lahir.Hibur mereka,dampingi mereka,ajar dan didik mereka,jangan justru sebaliknya.Jangan membuat mereka malah bertambah bebannya,jangan menambah persoalan mereka,jangan menambah kesedihan mereka,dan jangan menambahi mereka dengan aneka hal yang membuat mereka menjadi gundah gulana atau atau kesal dan benci karenanya.

Sebagai manusia pasti kita butuh atau mempunyai keinginan terhadap sesuatu.Kalau memang tidak mampu tak perlulah dipaksakan karena memang dampaknya tidak baik.Lakukan saja semua sesuai kemampuan,tak perlu memaksakan diri bila memang tak mampu,apalagi kalau mengakibatkan dampak buruk bagi orang lain.

Sebagai seorang yang beragama kita memang sering kali ingin melakukan berbagai kegiatan yang membutuhkan dana yang tak sedikit,membangun aneka bangunan untuk orang banyak yang dananya juga harus banyak.Untuk itulah kalau sampai harus meminta sumbangan sebaiknya kita harus hati-hati dalam meminta sumbangan tersebut,jangan sampai kejadian di atas terjadi lagi pada orang-orang di sekitar kita.Ada baiknya mengumpulkan sumbangan dari orang-orang sekitar saja,atau orang-orang yang ingin turut serta dan sudah nampak keinginanya untuk menyumbangkan harta bendanya.

Ingat saja hadis yang menjelaskan tentang tangan di atas (yang memberi) itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah (yang meminta).Ingat juga semboyan yang sudah ada di negeri ini sejak dari dulu,yaitu semboyan yang menyebutkan dari kita,oleh kita dan untuk kita.

Sabtu, 07 Mei 2016

Otak Yang Berdosa Pada Orang Lain

Otak Yang Berdosa Pada Orang Lain

Ternyata otak yang ada fikiran di dalamnya itu juga bisa mempunyai dosa pada orang lain.Kok bisa?,ya jelas bisa.Makanya kita mesti hati-hati dengan bagian tubuh yang satu ini,karena kalau tidak hati-hati maka mungkin otak ini menjadi penyebab dosa yang bertumpuk di jiwa dan raga kita.

Lalu,seperti apa sih dosa otak pada orang lain itu?.Saat kita berfikir buruk tentang orang lain dan apa yang kita fikirkan itu tidak terbukti,di situlah dosa kita bermula.Di saat kita meremehkan,menghina,menghujat,mencaci,membenci,dan aneka hal buruk lainnya yang tak diungkapkan secara langsung atau hanya di fikiran saja,di situlah otak kita berdosa.

Setiap detik,setiap menit,setiap hari,setiap waktu,otak ini bisa berbuat dosa tanpa kita sadari.Kalau dulu mungkin orang hanya berdosa yang disebabkan otak atau fikirannya setelah bertemu dengan orang lain,maka sekarang ini tanpa bertemu dengan orang lainpun otak kita dengan mudah berbuat dosa.Apalagi di era media penyiaran dan media online seperti sekarang ini,nampaknya hampir tiada hari otak ini tanpa berbuat dosa.

Walau sedang sendiri,sekarang ini dengan mudahnya kita bersalah atau berbuat dosa pada orang lain.Saat kita berfikir buruk tentang orang lain,maka otak kita secara otomatis sudah berbuat dosa pada mereka.Saat melihat atau mendengar secara lamgsung,atau melihat dan mendemgar cerita orang di tv,radio,media online dan lain sebagainya,sering kali otak ini langsung berfikir negatif juga.Komentar negatif selalu saja bermunculan di otak.

Apakah Anda semua pernah melakukan hal ini?,mungkin pernah,tapi mudah-mudahan jarang dan tidak terlalu sering melakukannya karena tidak ada manfaatnya.Saya sendiri juga termasuk orang yang otaknya suka berbuat salah dan dosa kepada orang lain.Semoga saja orang yang pernah saya sakiti diberi ampunan oleh Allah swt.Begitu juga dengan saya sebagai pelakunya,mudah-mudahan saya dimaafkan oleh orang yang saya dholimi walau hanya sebatas di fikiran saya.Dan semoga saya juga diampuni oleh Allah swt,karena otak ini yang membuat saya banyak berbuat dosa.

Minggu, 01 Mei 2016

Dzikir Lisan,Dzikir Fikiran,Dan Dzikir Hati (Jiwa)

Dzikir Lisan,Dzikir Fikiran,Dan Dzikir Hati (Jiwa)

Ternyata dzikir itu mempunyai kategori atau jenis dalam pelaksanaannya.Ada dzikir lisan,dzikir fikiran,dan dzikir hati atau jiwa.Lalu manakah yang bagus?,semuanya bagus dan semuanya harus dilaksanakan sesuai dengan kemampuan.Hal itulah yang saya tahu,hal itulah yang saya kira,itu pulalah yang ingin saya sering lakukan walau hanya kadang-kadang.

Dzikir pertama adalah dzikir lisan,yaitu mengingat Allah swt dengan menyebut namanya berulang kali dengan lisan atau ucapan.Dzikir lisan bisa diucapkan dengan tanpa suara,dengan suara pelan,atau dengan suara keras.Dzikir lisan harus dilakukan oleh setiap orang Islam dalam rangka mengingat Tuhannya.

Dzikir yang kedua adalah dzikir fikiran,yaitu mengingat Allah swt dengan berdikir keagungan Tuhan melalui berbagai macam cara,tetapi semuanya tentu saja yang menggunakan akal filoran kita.Misal saat melihat alam,maka kita langsung mengingat Allah swt karena betapa maha besarnya Allah swt.Saat mendapat nikmat,saat mendapat musibah,dan lain sebaginya.

Dzikir yang ketiga adalah dzikir dengan hati atau jiwa.Kalau dzikir dengan hati atau jiwa,otomatis dzikir lisan dan fikiran juga pasti dilakukan.Makanya,dzikir dengan hati atau jiwa itu adalah tingkatan yang paling susah untuk dilaksanakan.

Banyak orang yang sudah melakukan dzikir lisan dan fikiran,tapi tetap  masih banyak yang masih melakukan aneka perbuatan yang dilarang meaki sudah melakukan kedua jenis dzikir ini.Tapi kalu sudah melakukan dzikir denga hati atau jiwa,Insya Allah tak lagi mau melakukan perbuatan terlarang karena selalu ingat pada Allah,cinta pada Allah,dan takut pada Allah.

Semoga saya dan juga para pembaca sekalian bisa berdzikir setiap hari,minimal dzikir lisan dan fikiran.Syukur-syukur bisa dzikir dengan hati atau jiwa yang memang teramat susah untuk dikerjakan oleh banyak manusia awam pada umumnya.Seperti saya contohnya,kalau saya mau berdzikir lisan saja sudah untung,karena dzikir lisanpun untuk saya itu teramat berat untuk mengerjakannya.Sampai saat ini saya berfikirnya masih sebatas mending mau berdzikir walau sedikit juga,dari pada tidak berdzikir sama sekali.

Sabtu, 30 April 2016

Merasa Diri Lebih Baik Padahal Jauh Dari Baik

Merasa Diri Lebih Baik Padahal Jauh Dari Baik

Baik,lebih baik,paling baik,mana yang sedang dirasakan oleh kita  terhadap orang lain?.Apakah kita merasa diri kita baik,lebih baik,atau paling baik?,atau justru merasa tidak baik sama sekali?.

Banyak sekali orang yang merasa dirinya baik,lebih baik,atau bahkan paling baik jika dibandingkan dengan orang lain.Sebagai manusia saya juga pernah merasakan hal-hal tersebut.Perasaan yang manusiawi namun perlu diperbaiki.Perasaan-perasaan tersebut bisa membawa kepada kebaikan sekaligus juga bisa membawa kepada keburukan.Karena hanya merasa,tapi tidak tahu kenyataannya seperti apa.

Merasa diri baik karena pada kenyataannya baik adalah baik.Merasa diri baik padahal kenyataannya tidak baik adalah tidak baik.Merasa diri tidak baik padahal kenyataannya baik adalah tidak baik.Merasa diri tidak baik dan kenyataannya tidak baik adalah baik,tetapi ada yang perlu diperbaiki agar menjadi baik.

Merasa diri baik dan menganggap orang lain juga baik itu baik.Merasa diri  baik dan menganggap orang lain tidak baik adalah tidak baik.Merasa diri lebih baik dan menganggap orang lain tidak lebih baik adalah tidak baik.Merasa diri paling baik sementara menganggap orang lain sebatas baik,tidak lebih baik,atau bahkan tidak baik adalah sesuatu yang benar-benar tidak baik.

Merasa dan merasa,kalau hanya merasa semua orang juga bisa.Merasa diri lebih baik padahal jauh dari baik adalah benar-benar perbuatan yang tidak baik,perbuatan yang sangat sia-sia.