Jumat, 30 Agustus 2019

Aneka Foto 7

Aneka Foto (7)


Makam Mbah Raden Dikrama dan istrinya.Mbah Raden Dikrama adalah salah seorang teman seperjuangan dan orang kepercayaan Mbah Raden Ardisela.Beliau dikenal sebagai ahli pembuat senjata dan mpu keris.



Salah satu tombak buatan Mbah Raden Dikrama yang disimpan dan dirawat oleh keturunannya.

Rabu, 28 Agustus 2019

Kiai Layaman,Waliyullah yang Tawadhu

Kiai Layaman,Waliyullah yang Tawadhu

Ki Layaman dikenal sebagai seorang yang ahli dalam ilmu agama Islam dan seorang yang sakti mandraguna,sama seperti Buyut Muji ayahnya.Di kalangan masyarakat di sekitarnya saat itu,beliau dikenal sebagai seorang yang tawadhu.Ketawadhuan tersebut lakukan dalam kehidupannya sehari-hari.Hal inilah yang membuatnya dikenal sebagi seorang yang rendah hati dan tidak sombong.

Dalam bidang pekerjaan,Kiai Layaman tidak pernah mau  memandang sebelah mata pekerjaan apapun.Baginya semua pekerjaan adalah sama baiknya,yang penting pekerjaan itu halal.Sehingga walau beliau dikenal mempunyai kemampuan lebih dibanding orang kebanyakan pada umumnya,beliau memilih pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan yang tidak terlalu dianggap bergengsi di kalangan banyak orang.Kiai Layaman memilih pekerjaan sebagai pengurus kuda-kuda milik Kesultanan Kasepuhan Cirebon.Pekerjaan yang dulu dilakukan oleh ayahnya itu dilanjutkan olehnya tanpa rasa sungkan.

Sebagai seorang yang ahli dalam bidang agama dan dikenal sebagai orang sakti yang bisa mengobati aneka macam penyakit,Ki Layaman sebenarnya bisa saja  mendapatkan pekerjaan lain dan memperoleh uang lebih dari keahliannya itu.Kalau mau,beliau bisa saja memanfaatkan kemampuannya tersebut,sehingga beliau tak harus repot-repot bekerja sebagai pengurus kuda yang cukup menguras tenaga.

Kesempatan lain juga bisa diperolehnya,karena para iparnya termasuk orang-orang terpandang dan mempunyai jabatan yang baik di Kesultanan Cirebon.Namun walau kakak dan adik ipar Ki Layaman hampir semuanya mempunyai jabatan,tak sedikitpun beliau mau memanfaatkan peluang tersebut untuk kepentingan pribadinya.Padahal jika mau,tentu sangat mudah baginya untuk melakukan hal tersebut.

Ketawaduan atau kerendah hatian memang begitu melekat pada diri Ki Layaman.Ketawadhuan ini  beliau terapkan dalam kehidupannya sehari-hari,termasuk dalam hal pekerjaan yang belum tentu bisa dilakukan oleh banyak orang pada umumnya.Karena ketawadhuannya ini,di kemudian hari akhirnya beliaupun dikenal sebagai seorang waliyullah yang tawadhu.

Selasa, 27 Agustus 2019

Kolam-kolam Milik Mbah Raden Ardisela

Kolam-kolam Milik Mbah Raden Ardisela

Mbah Raden Ardisela dikenal sebagai orang yang suka memancing ikan,baik itu memancing di sungai,di laut,atau di kolam.Kebiasaan ini sudah beliau lakukan sejak kecil.Ketika beranjak dewasa hingga masa tuanya,kebiasaan itu tetap dilakukannya.

Ketika menjabat sebagai pemangku wilayah atau demang Sindanglaut,Mbah Raden Ardisela membuat kolam untuk memelihara aneka jenis ikan.Selain karena hobi,tujuan pembuatan kolam tersebut adalah upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui bidang perikanan.Kolam atau balong pertama yang beliau buat di Sindanglaut,tepatnya di Desa Cipeujeuh,di kemudian hari lebih dikenal dengan nama Balong Raden yang berada di Blok Peradenan.Untuk mengalirkan air dari sungai di sekitarnya yang letaknya lebih rendah,Mbah Raden Ardisela meminta orang-orang kepercayaannya untuk membendung sungai untuk mengalirkan air ke kolam tersebut.

Ketika Mbah Muqoyim melarikan diri dari kejaran penjajah di Pesawahan Sindanglaut,Mbah Raden Ardisela menyembunyikan Mbah Muqoyim di kediamannya di Tuk Karangsuwung.Mengetahui jika Mbah Muqoyim suka dengan ikan,kembali Mbah Raden Ardisela membuat beberapa kolam ikan lagi di Tuk Karangsuwung.Sehingga ketika Mbah Muqoyim ingin makan ikan,maka tak perlu repot-repot pergi ke kolam yang ada di Sindanglaut,cukup mengambilnya di Tuk Karangsuwung,di sekitar rumah Mbah Raden Ardisela.

Selain di Peradenan Cipeujeuh Wetan dan Tuk Karangsuwung,Mbah Raden Ardisela juga membuat kolam di daerah Ciburuy Wangkelang.Ketiga kolam tersebut dirawat dengan baik hingga menghasilkan ikan-ikan yang lumayan banyak setiap kali dipanen.Karena kolam ikan dan ikan-ikannya semakin banyak,maka ikan-ikan tersebut tak hanya dinikmati oleh Mbah Raden Ardisela,keluarga dan para pegawainya saja.Setiap kali memanen ikan di kolam,ikan-ikan tersebut pada akhirnya beliau bagikan kepada masyarakat umum,terutama masyarakat yang berada di sekitar kolamnya.Kebiasaan ini beliau lakukan hingga akhir hayatnya.

Sepeninggal Mbah Raden Ardisela,kolam-kolam di Peradenan Cipeujeuh Wetan,Blok Muara Bengkeng Tuk Karangsuwung dan Ciburuy Wangkelang tersebut diwariskan kepada anak cucu dari Nyi Raden Aras dan Nyi Raden Aris.Hingga beberapa generasi,kolam-kolam tersebut masih ada dan dipelihara dengan baik oleh keturunan yang mendapat hak atau bagian waris dari kedua putri Mbah Raden Ardisela tersebut.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Kisah Unik Seputar Ardisela

Kisah Unik Seputar Ardisela

Penulis yang lahir dan besar di Tuk Karangsuwung,di mana ada makam Mbah Raden Ardisela dan makam Mbah Muqoyim berada,seringkali mendapati hal-hal unik berkaitan dengan kisah Ardisela.Ketika berkunjung ke beberapa pesantren atau tempat lainnya yang ada kaitannya dengan kedua tokoh tersebut,hal yang didapati juga tak jauh berbeda.Beberapa hal yang menarik adalah cerita beserta aneka perdebatan karena berbedanya kisah dan pendapat tentang siapa sebenarnya Ardisela ini.Hal ini terjadi sebelum penulis dan banyak orang tahu jika Ardisela adalah nama sekelompok pejuang,sama seperti orang-orang yang bercerita dan berdebat tersebut.Beberapa hal unik yang seeing diceritakan atau menjadi perdebatan di antaranya adalah :

1.Mengenai asal-usulnya

Asal-usul Ardisela ini seringkali jadi perdebatan panjang.Karena di Tuk Karangsuwung dan beberapa pesantren lainnya itu memang terdiri dari banyak keturunan para Ardisela yang berbeda,maka perdebatan itu tak bisa dihindarkan.Yang satu bilang berasal dari Indramayu,yang lain bilang berasal dari Cirebon,sementara yang lain bilang berasal dari Arab alias Timur Tengah.Perdebatan panjang yang tak ada habisnya,bahkan hingga penulis dewasa.Ternyata semuanya benar,karena Ardisela adalah sekelompok pejuang yang berasal dari wilayah berbeda namun mempunyai kesamaan visi dan misi dalam berjuang.

2.Mengenai pekerjaannya

Apasih profesi atau pekerjaan Ardisela?.Mengenai hal ini juga selalu dibahas hingga tak selesai-selesai.Ada yang bilang ulama atau kiai,ada yang bilang pemangku wilayah atau demang,atau lainnya.Profesi para Arsisela itu nyatanya bermacam-macam,ada yang pemangku wilayah,ulama atau kiai,ahli senjata,ahli pengobatan atau ahli hikmah,dan profesi lainnya.

3.Mengenai istrinya

Hal lain yang sering diperdebatkan adalah nama istri Ardisela.Siapakah istri Ardisela itu?,ada yang bilang adik Mbah Muqoyim,ada yang bilang keponakannya,ada yang bilang anaknya,ada yang bilang bukan ketiganya.Ternyata semuanya benar.Yang menikah dengan adik Mbah Muqoyim adalah Kiai Ardisela yang menikah dengan adik Mbah Muqoyim yang bernama Nyai Alfan.Yang menikah dengan keponakannya adalah Ardisela Jaha atau Buyut Jaha,beliau menikah dengan keponakan Mbah Muqoyim,yaitu Nyai Khafiun binti Kiai Ardisela.Yang menikah dengan anak Mbah Muqoyim adalah Kiai Gozali yang biasa disebut Kiai Ardisela Gozali.Beliau menikah dengan Nyai Fatimah,putri Mbah Muqoyim dari istri yang tinggal di Tuk Karangsuwung.Sementara yang menikah dengan wanita yang tidak ada kaitannya dengan Mbah Muqoyim adalah Mbah Raden Ardisela,dan Ardisela lainnya.

4.Mengenai silsilahnya

Ada yang bilang Ardisela itu satu,tapi banyak kiai atau keturunan para Ardisela yang mempunyai silsilah yang berbeda.Di sebuah catatan milik kiai dari Losari,Kiai Ardisela adalah keturunan Sunan Kalijaga dan Ardisela yang satunya tertulis sebagai menantu Kiai  Ardisela.Sementara kiai lain memegang silsilah jika Kiai Ardisela adalah keturunan Sunan Gunung Jati.Hal ini tentu saja menimbulkan kebingungan.Mengapa satu orang tapi ayah atau silsilah jalur laki-lakinya berbeda-beda.Setelah diketahui jika Ardisela yang sezaman dengan Mbah Muqoyim adalah nama sekelompok pejuang,barulah orang-orang sadar jika silsilah yang dipegang oleh masing-masing keturunan adalah benar.Kalau ada yang mempunyai silsilah yang berbeda dalam satu keluarga,itu karena antara keturunan para Ardisela satu sama lain saling menikah.

5.Mengenai keluarga dan anak keturunannya

Setiap keturunan Ardisela yang berbeda mencatat nama istri,anak,dan keturunan yang berbeda.Nama anak keturunan Ardisela yang satu dengan nama keturunan Ardisela yang lainnya tentu saja berbeda-beda.Yang satu mencatat istri dengan dua anak,sementara yang lainnya lebih dari dua.Yang satu mencatat satu laki-laki dan satu perempuan,yang satu lagi mencatat semua anaknya perempuan,yang lain mencatat anaknya laki-laki saja,sementara yang lainnya mencatat anaknya berbeda lagi.Karena hal ini,anak keturunan Ardisela yang satu dengan Ardisela yang lainnya sering saling klaim dan saling menghina.Sungguh sangat disayangkan,karena hal yang tidak terpuji terjadi karena ketidaktahuan akan sejarah.Karena tidak ingin ada saling klaim dan saling  menghina itulah yang akhirnya memutuskan penulis meneliti Ardisela secara mendalam selama bertahun-tahun hingga akhirnya tahu jika 'Ardisela di era Mbah Muqoyim adalah sekelompok pejuang dengan orang yang berbeda'.

6.Mengenai kisah hidupnya

Karena berbeda asal usul,pekerjaan,silsilah,istri,anak keturunan dan beberapa hal lainnya,tentu saja kisah hidupnyapun berbeda-beda.Hal inilah yang sering membuat banyak orang menjadi bingung.Kisah hidup yang berbeda ini sering diceritakan oleh para orangtua,bahkan oleh para kiai ketika sedang berceramah.Hal ini terjadi selama puluhan tahun.Contohnya yang dikhauli adalah Ardisela Tuk,yang diceritakan Ardisela lainnya.Yang jadi panitia,anak keturunan,jamaah hanya bisa manggut-manggut sambil merasa kebingungan.Ketika yang diceritakan tentang perjuangannya hampir semua tak terlalu masalah,karena semuanya adalah pejuang,tapi ketika bercerita mengenai anak keturunannya,barulah banyak yang bertanya-tanya.Mau interupsipun tidak bisa,karena dalam ceramah atau tabligh biasanya tak ada tanya jawab.

7.Mengenai makamnya

Ada banyak makam Ardisela dan tersebar di banyak tempat atau wilayah berbeda.Di Tuk Karangsuwung saja ada beberapa makam Ardisela.Ada yang di Muara Bengkeng,ada juga yang dekat Mbah Muqoyim.Sementara yang lainnya ada yang di Sleman Indramayu,Cirea Kuningan,Sumedang,Banyuwangi, dan lain sebagainya.Karena belum tahu sejarah Ardisela,banyak orang yang mengira jika makam-makam Ardisela yang banyak tersebut adalah petilasan atau tempat persinggahan Kiai Ardisela.Setelah tahu sejarahnya,barulah orang-orang itu tahu jika makam tersebut adalah asli dan benar adanya.
Kalau nama asli Ardisela sudah diketahui dan diberitahukan kepada banyak orang,biasanya sebutan Ardisela ini sudah tidak terlalu sering diucapkan lagi,bahkan seringkali sudah dilupakan.Sebutan makamnya hanya disebut dengan nama makam tokohnya langsung tanpa tambahan Ardisela,baik itu di depan ataupun di belakangnya.Contohnya adalah makam Ardisela yang berada di Keradenan,Dukuh Puntang Cirebon.

Rabu, 14 Agustus 2019

Kiai Hasan,Sang Kiai Penyabar

Kiai Hasan,Sang Kiai Penyabar

Kiai Hasan adalah anak pertama dari dua bersaudara,putra dari Kiai Muhammad dan Nyai Ning.Adiknya bernama Kiai Husain.Hasan dan Husain,dua nama yang diambil dari nama cucu Nabi Muhammada SAW.Tak banyak informasi tentang ayah atau ibu dari Kiai Hasan ini,namun yang pasti ayah Kiai Hasan ini termasuk kiai dan ibunya juga putri seorang kiai atau ulama juga.

Kiai Hasan kecil berguru kepada beberapa guru mengaji,salah satu guru yang diketahui secara pasti adalah Kiai Anwarudin atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Krian,ulama Keraton Kasepuhan yang paling dikenal saat itu.Tak diketahui di mana Kiai Hasan belajar pada Kiai Krian,apakah di sekitar Kasepuhan di dekat Kiai Krian tinggal,Pesantren Benda Kerep,ataukah di Pesantren  Buntet,karena selain dikenal sebagai ulama Keraton Kasepuhan,Kiai Krian juga diketahui turut mengajar para santri di kedua pesantren tersebut.

Setelah dewasa Kiai Hasan menikah dengan Nyai Nurhanid dan dikarunia seorang putri bernama Nyai Mukhsinah.Beliaupun memulai langkahnya sebagai guru mengaji di sekitar rumahnya di Jati Sari Plered.Di sini beliau mendirikan Pesantren yang biasa disebut Pesantren Jati Sari,sebuah pesantren yang hingga kini masih berdiri dan diteruskan oleh anak keturunanya.Saat mengajar santrinya inilah akhirnya Kiai Hasan diminta menikah lagi dengan adik dari Kiai Maksum,santri senior yang diajarnya.Dari istri keduanya ini Kiai Hasan dikaruniai seorang putra bernama Kiai Ibrohim.

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman dalam mengajar,Kiai Hasanpun semakin dikenal oleh berbagai kalangan saat itu.Semakin lama akhirnya semakin banyak pula ulama Cirebon dan sekitarnya yang mempercayai dan menitipkan anaknya untuk dididik oleh Kiai Hasan.Beberapa santrinya yang di kemudian hari dikenal sebagai ulama di Cirebon di antaranya adalah Kiai Jauhari (Pesantren Balerante),Kiai Harun (pendiri Pesantren Kempek),Kiai Hanan (Pesantren Babakan),Kiai Abas (putra Kiai Abdul Jamil Pesantren Buntet),Habib Syekh (Pesantren Jagasatru),dan beberapa ulama lainnya.Setelah wafatnya Kiai Krian,Kiai Hasanlah yang sering menjadi rujukan para ulama Cirebon pada saat ada masalah dalam urusan agama yang tidak terpecahkan.

Selain dikenal sebagai ulama yang pandai,Kiai Hasan juga dikenal sebagai ulama yang penyabar.Hampir tak pernah ada orang yang  melihat bila beliau pernah marah atau menunjukkan rasa kesalnya di hadapan orang lain.Karena kesabarannya yang sangat kuat itulah yang membuat beberapa orang penasaran dan ingin sekali melihat Kiai Hasan marah.Berbagai carapun dilakukan.Suatu saat seorang santrinya berulah dengan maksud agar Kiai Hasan marah,namun ulah santrinya itu tak membuahkan hasil juga.Di lain waktu seorang penjahit dengan sengaja membuat baju pesanan Kiai Hasan yang tak sesuai dengan keinginanya,namun bukannya marah tetapi beliau malah tetap memakai baju tersebut tanpa sedikitpun menunjukkan ekspresi kesalnya.

Kiai Hasan Sang Kiai Penyabar,begitulah kesan yang diberikan oleh para santri dan orang-orang yang pernah berhubungan langsung dengannya.

Sabtu, 10 Agustus 2019

Aneka Foto (6)

Aneka Foto (6)


Muara Benteng yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Muara Bengkeng.Kolam berisi air buatan Mbah Raden Ardisela yang didoakan oleh Mbah Muqoyim agar bisa memberi manfaat.Letaknya berada di depan/utara Masjid Mbah Raden Ardisela.



Sumur Jimat Tuk Karangsuwung dibuat oleh Mbah Raden Dikrama sang empu keris dan senjata.Beliau adalah sahabat sekaligus orang kepercayaan Mbah Raden Ardisela.Sumur ini terletak di perbatasan Desa Tuk Karangsuwung dan Leuwidingding.

Aneka Foto (5)

Aneka Foto (5)



Masjid Mbah Raden Ardisela Tuk Sida Parta,Tuk Karangsuwung,Lemahabang,Cirebon.


Mushola yang didirikan oleh Mbah Muqoyim yang dulunya berada di tengah-tengah Pesantren Tuk.Sekarang masuk blok Kamer/Gang Kiai Kamali,Lemahabang Kulon,Lemahabang,Cirebon.

Aneka Foto (4)

Aneka Foto (4)


Makam Mbah Muqoyim di Tuk Karangsuwung,Lemahabang.Beliau adalah guru sekaligus teman seperjuangan Mbah Raden Ardisela.


Makam Mbah Muta'ad,cucu mantu Mbah Muqoyim yang tak lain adalah teman seperjuangan Raden Rangga Nitipraja.Makamnya berada tak jauh dari makam Mbah Muqoyim.


Makam Mbah Takrifudin pendiri Pesantren Pemijen,Asem Lemahabang.Beliau adalah teman seperjuangan sekaligus besan dari Raden Rangga Nitipraja.

Jumat, 09 Agustus 2019

Aneka Foto (3)

Aneka Foto (3)



Kitab tulisan tangan milik Raden Kalyubi Abdullah,yang merupakan warisan dari leluhurnya.Kitab ini berisi catatan ilmu fikih,tauhid,dan lain-lain (foto atas).Beberapa catatan kaki yang ditulis oleh anak cucu Mbah Raden Ardisela yang terdapat di kitab ini (foto bawah)





Mbah Raden Ardisela,Mbah Raden Arungan dan Nyi Raden Katijem

Mbah Raden Ardisela,Mbah Raden Arungan dan Nyi Raden Katijem

Mbah Raden Ardisela dan Mbah Raden Arungan adalah dua kakak beradik yang sama-sama putra dari Mbah Raden Demang Bratanata.Sebagai kakak dan adik,hubungan keduanya terbilang begitu dekat.Dari segi usia,usia keduanya terpaut cukup jauh dan diperkirakan lebih dari sepuluh tahun.Mbah Raden Arungan adalah anak kedua,sedangkan Mbah Raden Ardisela adalah anak kesepuluh dari sebelas bersaudara.Walau usia keduanya terpaut cukup jauh,namun hubungan keduanya terbilang dekat.

Bila Mbah Raden Ardisela bertempat tinggal di Karangsuwung dan Tuk Karangsuwung,maka Mbah Raden Arungan bertempat tinggal di Gebang.Hubungan kakak beradik ini sering dikisahkan oleh keturunan keduanya secara turun temurun.Lebih-lebih anak keduanya ada yang menikah,yaitu antara putri Mbah Raden Ardisela yang bernama Nyi Raden Aris dan anak Mbah Raden Arungan yang bernama Raden Rangga,yang di kemudian hari lebih dikenal dengan nama Raden Rangga Nitipraja.

Di dalam sebuah catatan kitab tua yang kebetulan selamat dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab,terdapat kisah yang menjelaskan tentang kepergian cucu Mbah Raden Ardisela dan Mbah Raden Arungan yang bernama Raden Sulaeman beserta anak dari Raden Niti Atmareja kakaknya.Dalam catatan itu Raden Sulaeman pergi ke Gebang Udik.Kunjungan itu dilakukan untuk melayat seseorang yang disebut mama,yang diduga adalah paman dari Raden Sulaeman dan Raden Nitiatmareja,anak Mbah Raden Arungan yang meninggal dunia.

Selain dekat dengan kakaknya yang bernama Mbah Raden Arungan,Mbah Raden Ardisela juga diketahui dekat dengan kakak perempuannya yang bernama Nyi Raden Katijem.Bila Mbah Raden Arungan tinggal di Gebang,Nyi Raden Katijem tinggal tak jauh dengan Mbah Raden Ardisela di Tuk Karangsuwung.Keduanya tinggal di desa ini hingga akhir hayatnya.Keturunan dari keduanya banyak yang bertempat tinggal di desa Tuk Karangsuwung,Sindanglaut dan sekitarnya secara turun temurun hingga saat ini.

Sujud Terakhir Kiai Ilyas Abdussalam

Sujud Terakhir Kiai Ilyas Abdussalam

Kiai Ilyas bin Kiai Abdussalam adalah putra dari Kiai Abdussalam dan Nyai .....Beliau adalah menantu dari Kiai Mu'thi bin Mbah Mutaad,suami dari putrinya yang bernama Nyai Fatonah.Dari pernikahannya dengan Nyai Fatonah ini Kiai Ilyas Abdussalam dikarunia sembilan anak,yaitu Kiai Arsyad,Nyai Naimah,Nyai Siti Aminah,Kiai Aqib,Kiai Abdullah,Nyai Aisyah,Nyai Khodijah,Nyai Saodah dan Nyai Fatimah.Masa hidup Kiai Ilyas Abdussalam banyak dihabiskan di Pesantren Buntet bersama istri dan anak-anaknya,dekat dengan keluarga besar Mbah Mutaad dan Mbah Muqoyim lainnya.

Saat usianya tak lagi muda,ada beberapa masalah yang berkaitan dengan prinsip hidupnya,baik itu berkaitan dengan masalah keluarga maupun dengan lingkungan sekitarnya,terutama kaitannya dengan masalah tarekat.Sepupu istrinya yang bernama Kiai Abas Abdul Jamil yang dikenal sebagai sesepuh Pesantren Buntet sempat menasihatinya agar Kiai Ilyas Abdussalam lebih lunak dan fleksibel dalam menghadapi aneka masalah,namun Kiai Ilyas Abdussalam yang dikenal tegas ini tetap pada pendiriannya.

Suatu hari Kiai Ilyas Abdussalam pergi ke Pesantren Benda Kerep guna menemui saudaranya yang tak lain adalah putra dan putri dari Mbah Soleh.Setelah selesai silaturohim,Kiai Abdussalam yang pergi bersama istri dan putri bungsunya itupun berpamitan pulang.Perjalanan dari Pesantren Buntet ke Benda Kerep dan sebaliknya ditempuh dengan cara berjalan kaki melewati Kanggraksan.Sebuah perjalanan yang melelahkan namun umum dilakukan oleh orang yang hidup di awal tahun 1900 an hingga masa kemerdekaan.

Ketika sampai di Kanggraksan beliau mampir di rumah saudaranya di Kanggraksan selama beberapa jam.Ketika hendak melanjutkan perjalanan pulang,entah mengapa beliau memutuskan untuk tak pulang ke Pesantren Buntet tapi pergi ke Tuk Karangsuwung,ke rumah anak dan menantunya yang tinggal di Blok Muara Bengkeng.Setelah mengantarkan anak dan istrinya pulang ke Pesantren Buntet,beliau melanjutkan perjalanan ke Tuk Karangsuwung seorang diri.

Di Tuk Karangsuwung ini Kiai Ilyas tinggal di rumah Nyai Siti Aminah anaknya,yang menikah dengan Raden Kalyubi keponakannya sendiri,putra dari Nyai Ruhilah adiknya yang menikah dengan Raden Abdullah Raksa.Di sini beliau merasa betah karena jauh dari hiruk pikuk aneka masalah,terutama permasalahan tarekat yang sedang memanas di Pesantren Buntet dan Benda Kerep.Selain Nyai Aminah,di dekat Tuk Karangsuwung ini tinggal juga dua putri Kiai Ilyas lainnya,yaitu Nyai Naimah yang menikah dengan Kiai Abu dan tingal di Dongkol Asem,serta Nyai Khodijah yang menikah dengan Kiai Sahid dan tinggal di Lemahabang,dua tempat yang saat itu masih merupakan pesantren dengan banyak santri.

Di Tuk Karangsuwung ini Kiai Ilyas Abdussalam menghabiskan masa tuanya untuk beribadah.Kiai Ilyas Abdussalam sangat gemar berpuasa dan melaksanakan sholat sunah.Selain suka puasa dan sholat sunah,beliau juga dikenal sebagai orang yang suka berbagi kepada fakir miskin.Saat tinggal di Pesantren Buntet atau di Tuk Karangsuwung,kebiasaan ini tak berubah.Ketika hendak makan beliau seringkali mencari atau mendatangi orang yang kemungkinan belum makan.

Saat sakit,Kiai Ilyas Abdussalam tak sedikitpun mau merubah kebiasaannya dalam beribadah.Suatu hari,Kiai Ilyas melaksanakan sholat sendirian.Tak dijelaskan apakah sholat wajib atau sunah,namun yang pasti beliau begitu lama saat bersujud.Ketika anaknya memanggil,Kiai Ilyas tetap diam dalam sujudnya.Setelah beberapa lama,barulah anak menantunya memberanikan diri menghampirinya.Kiai Ilyas tetap tak bergerak.Barulah anak menantunya sadar jika ternyata Kiai Ilyas Abdussalam sudah meninggal,itu adalah sholat sekaligus sujud terakhir Kiai Ilyas Abdussalam.

Ada dua pemakaman  yang terdapat di Tuk Karangsuwung,yaitu pemakaman Tuk Lor dan Tuk Kidul.Walau sebagai keturunan Mbah Muqoyim yang makamnya ada di Tuk Lor,namun anak dan menantu Kiai Ilyas Abdussalam memutuskan untuk memakamkannya di Tuk Kidul.Hal ini karena beliau tinggal bersama anak menantunya di Muara Bengkeng yang tak jauh dari makam Tuk Kidul.Akhirnya beliaupun dimakamkan satu blok dengan keluarga besar Raden Abdullah Raksa yang tak lain adalah adik ipar sekaligus besannya itu.

Senin, 08 April 2019

Kademangan Sindanglaut di Era Mbah Raden Ardisela

Kademangan Sindanglaut di Era Mbah Raden Ardisela

Sebagai wilayah kademangan,Kademangan Sindanglaut termasuk wilayah yang cukup luas.Saat dijadikan wilayah Kawedanaan (penghubung antara kantor camat dan bupati),Kawedanaan Sindanglaut meliputi Kecamatan Lemahabang,Karangsembung dan Astanajapura.Sementara itu Kecamatan Lemahabang di mana Kawedanaan Sindanglaut berada meliputi beberapa wilayah yang sekarang ini sudah  menjadi kecamatan sendiri karena sudah terjadi pemekaran,yaitu Kecamatan Lemahabang,Kecamatan Sedong (perbatasan Cirebon dan Kuningan),dan Kecamatan Susukan Lebak.

Era tahun 1700 an akhir,Sindanglaut yang sudah berdiri sejak era Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati ini termasuk ke dalam daerah yang tidak terlalu ramai.Hal ini dikarenakan Sindanglaut yang letaknya jauh dari pantai tidak terlalu mudah dijangkau oleh angkutan air yang menjadi andalan transportasi kala itu.Di akhir tahun 1700 an atau awal 1800 M,lambat laun Sindanglaut berubah dan semakin maju.Lebih-lebih ketika Mbah Raden Ardisela memimpin Kademangan Sindanglaut.

Mbah Raden Ardisela memegang jabatan untuk memimpin wilayah Cirebon bagian timur.Daerah-daerah kecil di sekitarnya biasanya akan melapor aneka hal atau masalah kepada Mbah Raden Ardisela terlebih dulu,sebelum akhirnya dilaporkan kepada Sultan Kasepuhan yang menjadi atasan dari Mbah Raden Ardisela yang bertugas sebagai pemangku wilayah atau Demang Sindanglaut.

Beberapa hal yang dilakukan oleh Mbah Raden Ardisela untuk membangun Sindanglaut di antaranya adalah melalui usaha peningkatan di bidang perekonomian dan pendidikan.Usaha peningkatan di bidang ekonomi adalah dengan cara membuka persawahan baru untuk ditanami padi atau tanaman lainnya.Selain bidang pertanian,bidang perikanan juga turut menjadi perhatian Mbah Raden Ardisela.Bidang perikanan ini tak terlepas dari hobi memancing yang sangat digemari oleh Mbah Raden Ardisela.Selain perikanan laut,perikanan darat yang dipelihara di kolam-kolam juga turut digalakkan.Mbah Raden Ardisela sendiri bahkan mencontohkannya secara langsung dengan membangun beberapa kolam ikan,seperti yang ada di Tuk Karangsuwung,Peradenan Cipeujeuh,dan Ciburuy Wangkelang,di mana ikan-ikan hasil panennya sebagian besar dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Dalam bidang pendidikan,Mbah Raden Ardisela mendorong berdirinya pesantren-pesantren dikarenakan sistem pendidikannya yang bersifat merakyat,sehingga sistem pendidikannya bisa diakses oleh semua kalangan masyarakat.Pendidikan pesantren memang berbeda dengan pendidikan yang dikelola oleh pemerintahan penjajah yang hanya diperuntukkan untuk keluarga penjajah dan segelintir kaum bangsawan saja.

Agar masyarakat merasa aman dan pendidikan dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa gangguan dari penjajah,Mbah Raden Ardisela tetap mempertahankan cara berpolitiknya yang selalu berpura-pura mau bekerjasama dengan pihak penjajah.Padahal di pesantren-pesantren tersebut Mbah Raden Ardisela dan para ulama terus mengkader para santri yang siap berjuang membela negeri.

Di era Mbah Raden Ardisela ini Kademangan Sindanglaut kembali menggeliat dan berkembang dengan baik dalam bidang ekonomi maupun bidang pendidikan dan keagamaan.Hal ini tak lepas dari usaha Mbah Raden Ardisela bersama para ulama,kuwu dan tokoh masyarakat lainnya yang berada di Kademangan Sindanglaut.

Senin, 18 Februari 2019

Catatan Pada Kitab- kitab Tua

Catatan Pada Kitab-kitab Tua

Berikut adalah beberapa catatan mengenai kejadian-kejadian yang terdapat pada sebuah kitab yang dimiliki oleh Raden Djunaedi Kalyubi.Kitab tersebut adalah kitab fikih,tauhid,hadis,sedikit amalan mujarobat,catatan harian,dan lain-lain.Benerapa catatan diperkirakan dibuat akhir tahun 1890 an M,sementara usia kitab ini belum diketahui secara pasti.

Tertulis keterangan yang ditulis oleh Raden Sulaeman (ada yang berpendapat tulisan anak Raden Sulaeman)mengenai sebuah catatan tentang Mama (bisa ayah mertua atau pamannya) yang ada kaitannya denganKuwu Gebang Udik.Tak tertulis dengan jelas di catatan siapa yang menulis catatan tersebut.Nama Niti Atmarja /Atmareja juga tertulis di catatan tersebut,seseorang yang dipanggil kakak (kang) oleh Raden Sulaeman.




Tertulis tentang kelahiran seorang anak perempuan bernama Kusmartini (atas) dan anak laki-laki bernama Muhamad Arsyad/Irsyad.Satu hal yang menarik adalah nama Kiiai Said Gedongan yang disebut di catatan ini,yang diharapkan doa atau berkahnya.



Tulisan ini menjelaskan tentang kelahiran Raden Sunah.

Masih ada beberapa tulisan kaki lainnya yang menyebut nama-nama orang yang ada kaitannya dengan penulis catatan dan pemilik kitab ini.

Sabtu, 09 Februari 2019

Kiai Abdul Jamil dan Dua Jantung Hatinya

Kiai Abdul Jamil dan Dua Jantung Hatinya

Kiai Abdul Jamil,atau sebagian orang memanggilnya Mbah atau Buyut Abdul Jamil.Beliau adalah putra Mbah Mutaad yang melanjutkan kepemimpinan Pondok Pesantren Buntet.Kisahnya sudah banyak ditulis dalam berbagai macam artikel,bahkan beberapa buku.Bagi sebagian santri Pesantren Buntet,tentu tidak asing lagi dengan namanya.

Kali ini bukan sejarah atau kisah kepahlawanan atau ketokohannya yang akan ditulis,tapi kisah lucu (mungkin juga menyedihkan) untuk sebagian orang,yaitu kisah perkawinannya dengan dua orang wanita yang mengharu biru.Yang pertama adalah perkawinannya dengan Nyai Sa'diyah,dan yang kedua adalah dengan Nyai Kariah.Dua wanita yang menjadi jantung hati Kiai Abdul Jamil bin Mbah Mutaad.

Dikisahkan,Kiai Abdul Jamil muda yang sejak kecil diasuh oleh Kiai Anwarudin alias Kiai Krian kakak iparnya,hendak dinikahkan dengan putri Kiai Krian dari istri pertamanya yang bernama Nyai Sa'diah.Hal ini  dilakukan dengan berbagai macam alasan.Selain alasan mempererat hubungan kekeluargaan,juga dengan harapan anak-anaknya kelak dapat melanjutkan perjuangan para leluhurnya dalam mensyiarkan ajaran agama Islam.Hal ini dikarenakan Kiai Krian tahu betul perihal siapa Kiai Abdul Jamil yang sudah diasuhnya sejak kecil tersebut.

Saat dinikahkan oleh ayahnya,usia Nyai Sa'diah masih terlalu muda dan belum mengerti arti pernikahan,sehingga beliau sendiri tidak tahu kalau sudah dinikahkan dengan Kiai Abdul Jamil yang tak lain adalah paman tirinya sendiri.Sedih?,jahat?,begitu tahu ada anak remaja tanggung dinikahkan oleh ayahnya?.Jangan sedih atau berfikir itu adalah perbuatan jahat,karena perkawinan itu hanya sebagai ikatan saja,dengan harapan tak ada lagi orang yang akan melamar atau macam-macam dengan Nyai Sa'diah.Pernikahan itu hanya sebagai tali pengikat saja,tak lebih dari itu.Setelah menikah dengan Kiai Abdul Jamil,Nyai Sa'diah tetap tinggal bersama ayah dan ibunya.Beliau tetap bisa bermain seperti anak-anak dan remaja tanggung lain pada umumnya.Tak ada masa kanak-kanak atau remaja yang terenggut darinya,semua berjalan normal seperti biasanya.

Karena alasan belum bisa berkumpul dengan Nyai Sa'diah  layaknya suami istri,akhirnya Kiai Krianpun mencarikan seorang istri baru untuk Kiai Abdul Jamil.Sebagai ulama Keraton Kasepuhan Cirebon dan guru di beberapa pesantren,Kiai Krian mempunyai banyak teman.Pilihan Kiai Krianpun jatuh kepada anak seorang Penghulu Landraat Cirebon.Akhirnya Kiai Abdul Jamil dijodohkan dan dipertemukan dengan anak sang penghulu tersebut.Nyai Kariah,nama gadis itu,putri seorang penghulu yang masih mempunyai darah Tionghoa dari ibunya.

Pernikahan kali ini dilakukan seperti pernikahan pada umumnya,lengkap dengan acara walimah atau syukuran dan pesta khas tradisi pesantren.Ketika hendak mengantar Kiai Abdul Jamil ke rumah mempelai wanita,Nyai Sa'diah ikut serta rombongan keluarga.Melihat aneka  rangkaian melati yang begitu indah,Nyai Sa'diah yang tak tahu jika Kiai Abdul Jamil adalah suaminya itupun menjadi tertarik dan memintanya kepada paman tiri sekaligus suaminya itu.

"Paman,bolehkah saya minta rangkaian melati ini?",pinta Nyai Sa'diah dengan polosnya.
"Boleh,silahkan saja yi,ambil mana yang kamu suka",jawab Kiai Abdul Jamil sambil mempersilahkan Nyai Sa'diah mengambil sendiri rangkaian melati tersebut.

Entahlah,bagaimana ekspresi Kiai Abdul Jamil saat itu,yang pasti Nyai Sa'diah kecil merasa begitu gembira mendapatkan rangkaian melati tersebut.Nyai Sa'diah tidak tahu bila rangkaian melati itu akan dipakai oleh Kiai Abdul Jamil suaminya dan Nyai Kariah calon istrinya dalam acara pernikahan,calon istri yang tentu saja akan menjadi madu alias istri kedua dari suaminya setelah dirinya.

*Diceritakan oleh Siti Maesaroh,kisah dari Nyai Fatmah putri Nyai Mukminah Abdul Jamil dan Kiai Bakri Kasepuhan

Minggu, 03 Februari 2019

Arti Nama Ardisela

Mbah Raden Ardisela (6)

Nama Ardisela yang dipakai oleh beberapa orang di era tahun 1700 an hingga tahun 1800 an M,sebagian besar bukan nama sebenarnya,melainkan nama lain atau alias.Ada berbagai macam arti dari nama Ardi Sela,ada yang mengatakan bila Ardi berarti bumi atau tanah,sebuah kata yang berasal dari Bahasa Arab,sedangkan Sela sendiri berasal dari bahasa Cirebon yang berarti antara.Pendapat lain mengatakan bila Ardi berarti tanah dan Sela itu batu,Ardi berarti wilayah atau tempat dan Sela berarti batu.

Bila melihat dari beberapa pendapat,bisa jadi semuanya benar,karena satu sama lain masih mempunyai kesamaan arti dengan asal-usul penggunaaan nama Ardisela ini.Beberapa orang yang menggunakan nama Ardisela ini hampir mempunyai kesamaan tindakan atau 'lelakon' nya,yaitu mereka banyak menghabiskan waktu di sebuah wilayah,biasanya duduk di atas batu di antara tanah kosong atau perbukitan sambil berdzikir.

Raden Rustam Bin Demang Bratanata sendiri pada akhirnya juga  memakai nama Ardisela.Nama Ardisela ini diambil karena saat itu Mbah Raden Ardisela memang kerap menghabiskan waktu dengan berkhalwat atau uzlah (mengasingkan diri untuk mendekatkan diri pada Allah swt ),dan beliau biasa menghabiskan waktu menyendiri nya di kawasan Gunung Ciremai.Karena beliau biasa duduk sambil berdzikir di atas batu disela-sela tanah,maka nama inilah yang kemudian beliau gunakan.Pendapat lain mengatakan jika nama Ardisela ini diperoleh karena beliau tergabung dalam kelompok 'Ardisela'.Proses mendapatkan atau menggunakan nama ini hampir sama persis seperti para Ardisela lainnya,yaitu melalui proses tertentu melalui tahapan yang tidak mudah dengan aneka macam gemblengan dan ujian.

Setelah selesai mengasingkan diri dan mencari makna kehidupan,Mbah Raden Ardisela yang semula bernama Raden Rustam tak lantas pulang ke rumah orangtuanya.Beliau lalu pergi ke arah timur Cirebon.Di sebuah wilayah yang masih kosong,sunyi dan angker beliau menghabiskan waktunya untuk membuka pedukuhan atau kampung baru,padahal waktu itu tak ada satu orangpun yang mau menempati daerah tersebut.Karena tempatnya sepi dan angker,beliau beri nama daerah itu Karang Suwung.Karang berati tempat atau wilayah dan Suwung berarti angker atau kosong.

Beberapa tahun kemudian setelah beliau mendapat jabatan yang lebih tinggi,beliau akhirnya pindah ke daerah Tuk.Di Tuk Karangsuwung ini beliau hidup bersama istrinya yang bernama  Nyai Maemunah (Nyai Muntreng),dan kedua anak perempuannya yang bernama Nyi Raden Aras dan Nyi Raden Aris.Nama Ardisela yang sudah akrab di telinga banyak orang pada akhirnya tetap beliau gunakan,bahkan hingga akhir hayatnya.Di kemudian hari nama Raden Ardisela ini lebih dikenal dibandingkan dengan nama Raden Rustam atau nama beliau lainnya,termasuk nama gelar jabatan beliau yang tercatat di Keraton Kasepuhan.

Senin, 28 Januari 2019

Ikan Beracun dan Kematian Putri Mbah Raden Ardisela

Mbah Raden Ardisela (36)

Menurut kisah turun-temurun,Nyi Raden Aras meninggal dalam usia yang tidak terlalu tua.Beliau meninggal di usia 30 hingga 40 an tahun.

Ada dua kisah yang melatarbelakangi kisah kematian Nyi Raden Aras ini.Namun yang pasti beliau meninggal karena keracunan ikan.Menurut satu versi,ikan tersebut adalah ikan dari suaminya yang baru pulang memancing di laut.Tanpa diketahui,ternyata ikan yang dibawa adalah ikan yang beracun.Karena tidak mengerti dan mengolahnya seperti ikan biasa saja,maka racun dalam ikan itu tak hilang.Ketika beliau memakannya,beliaupun akhirnya keracunan ikan tersebut.Karena tak mendapatkan obatnya,Nyi Raden Araspun  akhirnya meninggal dunia.

Versi lain menceritakan jika Nyi Raden Aras meninggal karena ikan beracun yang dikirimkan oleh seorang lelaki yang sakit hati karena Nyi Raden Aris adiknya menikah dengan Raden Rangga Nitipraja sepupunya sendiri.Kejadian itu bermula ketika ada seorang pemuda tetaggga Raden Rangga yang sama-sama dari Gebang,ternyata jatuh cinta juga pada Nyi Raden Aris.Begitu tahu Nyi Raden Aris menikah dengan Raden Rangga,maka dia begitu marah dan dendam.Dia berjanji jika dia tidak mendapatkan Nyi Raden Aris,maka siapapun tak boleh mendapatkannya,termasuk Raden Rangga yang sudah jadi suaminya.

Sang lelaki itu akhirnya mengirimkan ikan untuk Nyi Raden Aris.Seorang pesuruh mengantarkan ikan tersebut dari Gebang ke Tuk Karangsuwung dengan harapan bisa dimakan oleh Nyi Raden Aris.Saat pesuruh itu datang,yang menerima ikan tersebut adalah Nyi Raden Aras.Melihat ikan yang baru dilihatnya dan belum pernah dimakan olehnya,beliaupun akhirnya mencicipi ikan tersebut.Beliau tidak tahu sedikitpun jika ikan tersebut beracun.Karena racun yang terdapat dalam ikan itu cukup kuat,akhirnya nyawa Nyi Raden Araspun tak dapat diselamatkan.Beliaupun akhirnya meninggal dunia.

Nyi Raden Aras meninggalkan seorang suami bernama Raden Nurlayaman dan seorang anak bernama Raden Hasan Mudhofat.Di kemudian hari suami Nyi Raden Aras ini menikah lagi dengan wanita dari luar Tuk Karangsuwung dan memutuskan untuk pindah tempat tinggal.Sementara itu Raden Hasan Mudhofat anaknya dirawat oleh Nyi Raden Aris.Oleh Nyi Raden Aris dan Raden Rangga,Raden Hasan Mudhofat dirawat seperti layaknya anak sendiri.Raden Hasan Mudhofatpun tumbuh dalam asuhan bibi kandunh dan paman iparnya,bersama adik-adik sepupunya yang lain,yaitu Raden Raksa,Raden Pali,Nyi Raden Ayu,Raden Sulaeman dan Nyi Raden Kuning.

Aneka foto (2)

Aneka Foto 2




Makam Mbah Raden Arungan,Astana Gunung Amparan,Gebang Cirebon.Beliau adalah kakak sekaligus besan Mbah Raden Ardisela Tuk Karangsuwung.Anaknya yang bernama Raden Rangga NP menikah dengan putri Mbah Raden Ardisela yang bernama Nyi Raden Aris.


                         Makam istri Mbah Raden Arungan



Sabtu, 19 Januari 2019

Kematian,Bukan Kekalahan

Kematian,Bukan Kekalahan

Saat masih muda,kira-kira ketika saya berusia 20 an,kematian adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan.Baik kematian yang menimpa keluarga besar saya,apalagi saya.Baik yang menimpa pada yang tua,maupun yang muda.Tapi ternyata kematian itu ada,dekat dan nyata.Walau tak mau membayangkannya,cepat atau lambat kematian akan datang juga.

Hal ini terjadi pada keponakan saya.Dia yang begitu saya sayangi,pergi mendahului saya.Dia meninggal ketika usianya masih begitu muda,sekitar usia 13 tahun saat dia duduk di bangku sekolah setingkat smp.Masih begitu muda,jauh lebih muda dari saya yang berumur 10 tahun lebih tua darinya.

Masih teringat begitu kuat,saat itu saya yang sedang berada di Jakarta sedang begitu lupa dengan yang namanya kematian.Ketika suatu malam seseorang menelepon saya di rumah teman yang saya tinggali tentang dekatnya kematian,saya masih yakin bila kematian itu masih jauh.'Keponakanmu sedang koma,kamu disuruh pulang'.Begitu isi percakapan telpon malam itu.

Esoknya saya langsung bergegas pulang kampung di Cirebon tercinta.Begitu saya tiba,saya langsung mendatangi rumah sakit tempat keponakan saya dirawat.Tak ada dialog di sana,hanya ada pemamdangan memilukan di ruang rawat.Badan yang kaku,nafas yang tersengal,mata yang terpejam,dan lantunan suara Al Quran.Tapi saya masih tetap berfikir dan yakin jika kematian itu masih jauh.

Setelah melalui serangkaian pengobatan yang tak membuat baik keadaan keponakan saya,dokter menyarankan agar keponakan dibawa ke Jakarta,di mana rumah sakit dengan fasilitas lengkap dan memadai tersedia.Masih ada asa.Harapannya,walaupun tak ada obatnya paling tidak ada keajaiban di sana.Lebih-lebih ketika mengetahui usaha kedua orangtuanya,dan juga lantunan banyak doa dari orang-orang yang menengoknya.

Membawa seseorang yang dicintai ke rumah sakit itu rasanya seperti berperang,dan berharap kita yang akan memenangkan peperangan tersebut.Usaha dan doa tak pernah berhenti,semua dijalani tanpa lelah dan keluh.Menunggu berhari-hari di rumah sakitpun tak apa-apa,karena berharap kesembuhan itu masih ada.Hingga pada akhirnya dokter memberitahu jika keponakan saya telah tiada.Saat itu saya benar-benar seperti kalah perang.Entahlah keluarga yang lainnya,yang pasti sedih dan kecewa jadi satu.

Setelah beberapa waltu,akhirnya saya tersadar juga,walau segala usaha seperti sia-sia dan doa serasa tiada guna,kematian tetap bukan kekalahan.Kematian adalah takdir Yang Maha Kuasa,yang cepat atau lambat akan datang kepada kita semua.Teruslah berusaha dan berdoa,karena usaha dan doa yang dilakukan secara maksimal adalah wujud rasa cinta.Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita semua,kalau tidak untuk kitaaling tidak yang terbaik untuk seseorang yang telah pergi meninggalkan kita.

Ya,bila kematian datang menjelang pada siapapun,tak perlu merasa kalah,karena sejatinya kematian adalah teman kita sehari-hari,yang akan datang tepat pada waktunya,seberapapun kita berusaha dan berdoa.

Selasa, 16 Oktober 2018

Kamplongan Lemahabang dan Tuk Karangsuwung

Kamplongan Lemahabang dan Tuk Karangsuwung

Saat tinggal di Tuk Karangsuwung dan Lemahabang,Mbah Muqoyim mendapatkan tanah yang cukup luas.Tanah tersebut mulai dari sisi selatan,yaitu jalan yang berbatasan dengan makam (sekarang jalan kereta),dan sisi utara adalah hingga dekat Pasar Lemahabang.Di sisi timur berbatasan dengan sungai,dan di sisi barat berbatasan jalan yang menghubungkan Tuk Karangsuwung dan Lemahabang.Sementara mulai jalan kereta api hingga Leuwidingding adalah tanah milik Mbah Raden Ardisela.

Memiliki tanah yang sangat luas pada masa tersebut bukanlah hal yang aneh,karena penduduk belum terlalu banyak seperti sekarang ini.Tanah yang begitu luas itu dimanfaatkan oleh Mbah Muqoyim dengan baik.Di sisi barat jalan beliau gunakan untuk tempat pengajian atau pesantrennya.Tanah kosong diseberangnya digunakan untuk orang-orang kepercayaannya.Tanah yang dimiliki oleh Mbah Muqoyim ini sebagian digunakan untuk tempat pengajian,sementara sebagian lainnya ditempati dan digarap oleh orang-orang kepercayaannya.

Pesantren Buntet dan Pesantren Tuk yang didirikan oleh Mbah Muqoyim berjalan dengan baik.Pesantren Tuk semakin banyak didatangi oleh para santri dari berbagai wilayah.Setelah mereka menyelesaikan pendidikannya,tak sedikit dari para santri tersebut yang ingin menetap dekat dengan Mbah Muqoyim.Karena tanahnya masih luas,Mbah Muqoyimpun akhirnya memutuskan untuk menghibahkan sebagian besar tanahnya tersebut kepada para santri dan orang kepercayaannya.Lambat laun tanah atau blok di mama para santri dan orang kepercayaannya tinggal itu diberi nama Kamplongan.

Para santri Mbah Muqoyim yang menempati Blok Kamplongan ini pada akhirnya banyak yang menikah dan tetap tinggal di Kamplongan.Lambat laun mereka ini banyak yang mempunyai keturunan dan turut tinggal di tempat tersebut.Blok Kamplonganpun akhirnya semakin ramai.

Seiring berganti waktu,Blok Kamplonganpun terbagi menjadi dua.Yang pertama adalah Blok Kamplongan yang letaknya berada di Desa Lemahabang Wetan,dan Blok Kamplongan yang lainnya masuk wilayah Desa Tuk Karangsuwung.Kedua blok dengan nama Kamplongan ini telah menjadi pemukiman yang cuckup padat.Sementara itu Pesantren Tuk yang dulu didirikan oleh Mbah Muqoyim berada di Desa Lemahabang Kulon,di seberang Blok Kamplongan Lemahabang Wetan.Sayangnya pesantren ini sudah tak beroperasi lagi dan tutup semenjak era awal kemerdekaan.

Senin, 15 Oktober 2018

Melanjutkan Perjuangan Para Leluhur

Melanjutkan Perjuangan Para Leluhur

Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati adalah ulama sekaligus umaro.Kegiatan sebagai ulama atau da'i ini sudah beliau lakukan sejak muda dan berlanjut hingga akhir hayatnya.Beliau menyebarkan ajaran Agama Islam dari satu daerah ke daerah lain dan dilakukan bersama-sama dengan anggota Dewan Wali Songo dan juga para wali serta ulama lainnya.Sebagai umaro atau pemimpin,Syarif Hidayatullah dikenal sebagai Sultan Pertama Kesultanan Cirebon.

Kemampuan Syarif Hidayatullah memang luar biasa hebat,karena beliau mampu menjalankan kedua perannya itu dengan baik secara bersama-sama.Setelah kepergiannya,nyaris tak ada keturunannya yang bisa melakukan hal seperti apa yang beliau lakukan.Oleh karena itu dalam sistem Kesultanan,tugas sebagai ulama dan umaro ini dibagi dengan baik sesuai dengan kemampuan masing-masing.Ada keturunannya yang bertugas sebagai ulama,ada juga yang bertugas sebagai umaro.

Sebagai umaro atau pemimpin,hampir sebagian besar keturunan Syarif Hidayatullah ini mempunyai pengetahuan ilmu agama yang cukup mumpuni juga,karena memang ada pendidikan khusus agama untuk para keturunannya,baik itu untuk yang tinggal di dalam atau di luar keraton.Sultan,demang,bupati,adipati,dan para pejabat lainnya yang merupakan keturunan Syarif Hidayatullah diharuskan mampu menguasai ilmu agama dengan baik.Walau tidak harus merangkap sebagai ulama,yang terpenting kehidupan para pemimpin tersebut tidak asing dan tidak jauh dengan agama.

Sultan dan para pejabat yang merupakan keturunan Syarif Hidayatullah sebagian besar memang tetap melanjutkan perjuangan leluhur mereka,perjuanagn para wali dan ulama lainnya dalam syiar Islam.Mereka memberikan perhatian lebih pada pendidikan agama di wilayah masing-masing.Para pemimpin tersebut mengambil tenaga ahli dari kalangan ulama yang memang sudah dikader untuk mengajarkan aneka ilmu agama.

Para pemimpin wilayah yang lebih kecil seperti pemimpin kademangan juga tak sedikit yang bertindak sebagai pemimpin namun mempunyai kemampuan yang cukup mumpuni dalam bidang agama.Hal ini jugalah yang dilakukan oleh Mbah Raden Ardisela.Beliau adalah demang yang dikenal mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam bidang ilmu agama dan sangat memperhatikan pendidikan agama.

Melanjutkan perjuangan para wali pendahulu mereka adalah tanggung jawab sebagian besar keturunan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.Berbagai usaha kerap kali dilakukan untuk mencapai tujuan yang baik dalam berdakwah tersebut.

Jumat, 28 September 2018

Kiai Ardisela (20)

Kiai Ardisela 'Guru Para Laskar Ardisela' (20)

Wafatnya Kiai Ardisela

Kiai Ardisela dan Mbah Muqoyim yang selamat dari sergapan penjajah akhirnya pergi meninggalkan Pesantren Pesawahan Sindang Laut,guna mencari tempat yang lebih aman untuk berdakwah.Setelah berpamitan kepada Kiai Ismail adik Kiai Muqoyim yang tak lain adalah kakak ipar Kiai Ardisela,keduanya pergi ke arah yang berbeda.Kiai Ardisela pergi ke arah Indramayau,sedangkan Mbah Muqoyim pergi menuju Pemalang.Sebelum menuju Pemalang inilah untuk beberapa lamanya Mbah Muqoyim tinggal dekat Mbah Ardisela di Tuk Sindang Laut (Tuk Karangsuwung),sementara Kiai Ardisela langsung pergi menyelamatkan diri ke arah Indramayu.

Tidak terlalu lama,rupanya tempat baru Kiai Ardisela yang merupakan tempat mengajar para santri ini berhasil diendus oleh pihak penjajah,sehingga keberadaannya menjadi tidak aman.Pihak penjajah akhirnya mengirim mata-mata dari keturunan pribumi yang menyamar sebagai santri.Kiai Ardisela yang tidak menaruh curiga,dengan senang hati menerima santri tersebut menjadi santrinya dan berbaur dengan para santri lainnya.

Hari berganti,kehidupan di pesantren baru Kiai Ardisela ini berjalan seperti biasanya.Secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan Kiai Ardisela,keluarga juga para santri lainnya,rupanya mata-mata penjajah yang menyamar menjadi santri itu mencari tahu kelemahan Kiai Ardisela.Hingga suatu hari,kelemahan Kiai Ardisela dapat diketahui oleh si mata-mata.Kiai Ardisela yang terkenal sakti mandraguna ini bisa dikalahkan bukan dengan senjata,tapi dengan racun.Mengetahui itu,sang mata-mata segera memberi tahu atasannya.

Ada yang mengatakan pada akhirnya Kiai Ardisela diracun oleh mata-mata tersebut,namun ada juga yang mengatakan jika Kiai Ardisela meninggal karena tubuhnya terkena senjata yang diberi racun.Sebelum meninggal,Kiai Ardisela sakit beberapa hari karena racun yang masuk ke dalam tubuhnya.Berbagai usaha telah dilakukan untuk menyelamatkan nyawa Kiai Ardisela,tapi tak satupun yang bisa membuatnya bertahan hidup.Akhirnya Kiai Ardiselapun menghembuskan nafas terakhirnya.Beliau dimakamkan dekat mushola tempat beliau biasa mengajarkan aneka macam ilmu kepada para santrinya.

*Makam Kiai Ardisela terletak di Desa Sleman,Kecamatan Sliyeg,Kabupaten Indramayu.

Senin, 10 September 2018

Dua Sekolah yang Bikin Galau

Dua Sekolah yang Bikin Galau

Mengajar di sekolah tingkat dasar itu gregetnya kurang sekali dan rasanya minim tantangan.Maka,setelah setahun mengajar di sebuah madrasah ibtidaiyah atau MI,akhirnya saya bertekad untuk kembali pindah haluan.Saya ingin kembali mengajar di sekolah tingkat atas,agar rasa kangen ini terpuaskan.He he,mungkin cuma saya yang ngajar di sekolah dengan alasan kangen,baik itu kangen karena suasananya,juga uang honornya.

Karena ingat pesan almarhum ayah yang meminta saya untuk tidak meninggalkan mengajar di MI,maka dengan aneka cara saya mencoba menghilangkan rasa bersalah dalam hati ini,salah satu caranya adalah dengan menziarahi makam ayah.

Kalau mau mengajar di sekolah dekat rumah itu sebenarnya tidak terlalu susah,karena kakek buyut saya sendiri adalah seorang pendiri pesantren dengan banyak sekolah yang letaknya tak jauh dari rumah.Kebetulan juga,yang mengelola sekolah tersebut adalah saudara dari almarhum ayah atau ibu.Teman-teman almarhum ayah atau ibu juga banyak yang punya sekolah.Jadi kalau mau pdkt atau pendekatan demi untuk mengajar,sebenarnya sangat banyak sekali kesempatan yang bisa didapat.Tapi saya tak ingin melakukan hal tersebut.Biarlah saya mencari sendiri sekolah untuk mengajar,agar ketika ada suatu hal yang tidak diinginkan,nama baik keluarga tak terkena dampaknya.

Kalau mau mengajar di sekolah negeri dan pakai jalur khusus juga sebenarnya bisa.Salah seorang kerabat ayah bahkan langsung menawarkan tempat mengajar di sekolah negeri karena teman baiknya ada yang punya posisi penting di dinas pendidikan di kota tempat saya tinggal ini.Tapi dengan tegas saya menolaknya.Bukan apa-apa,saya justru menolak tawaran tersebut karena saya takut mengecewakan dan membuat malu pada orang yang sudah  menolong saya ketika saya tak bisa berbuat seperti yang diharapkan.

Berkat informasi dari Facebook,akhirnya saya berhasil mendapatkan tempat mengajar di sebuah sekolah tingkat atas.Ketika tahun baru dimulai,akhirnya sayapun resmi menjadi bagian dari guru di sebuah sekolah MA di sebuah pondok pesantren di kawasan Cirebon Barat.Setelah tahu gaji yang diterima saya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama satu bulan,akhirnya saya memutuskan untuk mengajar di sekolah lain.Maklum,karena mengajarnya siang hingga sore hari dan selama enam hari penuh,membuat saya tidak mungkin mengajar les privat yang lokasinya kadang berjauhan satu sama lain.

Setelah mencari informasi lewat medsos lagi,akhirnya saya mendapat tempat mengajar baru di Kota Cirebon,di sebuah sekolah kejuruan yang sedang berkembang.Ternyata sekolah baru tempat saya mengajar ini meminta guru tetap yang mengajar dengan waktu penuh dan tidak boleh mengajar di tempat lain.Kegalauan dimulai,harus pilih sekolah yang mana?,sekolah yang pertama atau yang kedua.Untunglah sekolah kedua ini memberikan waktu untuk berfikir sambil tetap mengajar di dua sekolah tersebut.

Sebulan lebih saya mengajar di kedua sekolah tersebut.Kedua sekolah tersebut meunyai plus minus tersendiri.Setelah melalui pertimbamgan yang cukup matang,akhirnya saya memutuskan untuk mengajar di sekolah pertama alias MA.Kegalauan bukannya berhenti,tapi cuma berganti.Ternyata honor saya di smk yang saya tinggalkan tak juga kunjung dibayarkan dengan alasan belum ada uang untung membayarnya.Hem,benar-benar dua sekolah yang bikin galau.Walau salah satunya sudah saya tinggalkan,masih saja menyisakan kegalauan yang memilukan.

Beberapa bulan setelah tak mengajar di sekolah kedua,Alhamdulillah,akhirnya uang honor cair juga,walau harus menunggu sekian lama dengan kegalauan tiada tara.

Minggu, 09 September 2018

Murid yang Tidak Tahu Gurunya

Murid yang Tidak Tahu Gurunya

Mengajar di sekolah yang berbeda,sensasinya juga berbeda.Berbeda peraturan sekolahnya,teman mengajarnya,anak didiknya dan lain sebagainya.Semua yang saya alami dan rasakan ini menambah pengalaman hidup saya,dan tentu saja menambah cerita untuk blog saya yang gak penting ini.

Kali ini saya mendapat kesempatan mengajar di sebuah sekolah menengah atas yang berbasis pesantren.Anak-anak didik alias murid di sekolah ini sebagian besar adalah anak-anak yang  rajin,sementara sebagian murid lainnya adalah anak-anak yang malas seperti saya.Yang malasnya minta ampun tentu saja murid yang laki-laki,bahkan sampai ada yang malasnya gak ketulungan.

Suatu hari saya yang sedang kosong dari jadwal mengajar duduk-duduk di depan mushola yang ada di lingkungan sekolah,sambil menunggu jadwal mengajar di jam berikutnya.Ternyata,saat itu beberapa guru sedang aktif memberi hukuman pada siswa yang ketahuan terlambat masuk sekolah.Seorang murid yang terlambat dengan santainya duduk di dekat saya,sambil berusaha menyelamatkan diri dari patroli para guru yang sedang memberi hukuman kepada para murid yang terlambat tersebut.

Dialog hangatpun terjadi antara saya dan murid tersebut,berbincang tentang banyak hal,termasuk tentang hukuman yang sedang diberikan kepada teman-temannya yang terlambat tersebut.Dengan santainya dia bercerita tentang banyak hal tanpa dia tahu kalau saya adalah gurunya.Rupanya dia selama ini tidak pernah masuk saat pelajaran saya,padahal sudah tiga bulan saya mengajar di sekolah tempatnya belajar tersebut.Ada rasa miris,ada rasa kecewa,ada rasa kesal,tapi ada juga rasa lucu yang membuat saya tertawa sendiri.Ternyata ada seorang anak didik yang sampai tidak tahu gurunya sendiri karena jarang sekali masuk sekolah.

Semenjak kejadian tersebut,akhirnya membuat saya semakin rajin memantau murid-murid yang saya ajar.Beberapa anak yang tidak pernah ikut pelajaran saya,saya perhatikan betul absennya.Ketika mereka akhirnya masuk,satu persatu dari mereka saya foto dengan kata-kata kid zaman now,yaitu karena mereka sudah terciduk setelah sebelumnya tak pernah masuk pelajaran saya.Gaya mereka saat difoto itu keren habis,malu-malu kucing sambil menatap kamera hp karena terpaksa.(Tapi fotonya gak diunggah di sini ya,tidak boleh).

Hem,kalau ada guru yang tidak tahu muridnya satu persatu karena banyak sekali muridnya,mungkin itu wajar.Tapi murid yang tidak tahu gurunya yang mengajar itu namanya kurang ajar karena gak pernah belajar.

Selasa, 21 Agustus 2018

Bangunan Makam Mbah Raden Ardisela

Bangunan Makam Mbah Raden Ardisela

Makam Mbah Raden Ardisela dulunya sangat sederhana.Sebelum ada bangunan permanen,hanya ditutupi oleh bangunan yang terbuat dari bilik bambu.Seiring berjalannya waktu,makam Mbah Raden Ardiselapun akhirnya diberi tembok dari bata yang menyerupai bangunan rumah.Saat itu bangunannya berbentuk segi empat seperti sekarang namun dengan tembok berwarna putih dan atap genting yang tak bersusun seperti sekarang ini.Lantainya terbuat dari lantai ubin jaman dulu,bukan lantai keramik.Di depannya hanya ada bangunan selasar yang menghubungkan pintu masuk  menuju halaman utama di depan bangunan utama makam.

Sekitar tahun 1993 M,para keturunan Mbah Raden Ardisela,masyarakat Desa Tuk Karangsuwung,para ulama,dan peziarah melakukan perbaikan bangunan makam.Tidak semua keturunan Mbah Raden Ardisela setuju dengan pembangunan makam tersebut,sehingga ketika hendak dibangun,terjadi perdebatan panjang antara beberapa keturunan Mbah Raden Ardisela tentang perlu tidaknya pembangunan makam Mbah Raden Ardisela tersebut.

Yang pro berpendapat jika memang sudah seharusnya makam Mbah Raden Ardisela diperbaiki dan dipercantik,karena Mbah Raden Ardisela adalah seorang pemimpin,pejuang dan pendiri desa yang sudah selayaknya mendapatkan tempat yang layak.Sementara yang kontra berpendapat lebih baik uangnya digunakan untuk memperbaiki sarana ibadah,sarana pendidikan atau untuk tujuan lainnya demi memajukan masyarakat Desa Tuk Karangsuwung dan sekitarnya,yang saat itu masih terbilang kurang bila dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Karena yang pro terhadap pembangunan lebih banyak,maka mau tidak mau pembangunan makam Mbah Raden Ardisela pun berlangsung.Sebelum acara pemugaran,diadakan sebuah acara doa bersama yang dihadiri oleh masyarakat Desa Tuk Karangsuwung,Pesantren Buntet,dan orang-orang dari berbagai daerah yang mendukung pembangunan makam tersebut.

Hampir sebagian besar bangunan makam Mbah Raden Ardisela dirombak,mulai dari tembok,lantai,atap,dan halaman depan.Selain bagian makam yang terbuat dari batu bata yang sudah berusia seabad lebih,bagian lain yang tetap tidak dihilangkan adalah pintu tengah yang berukir.

Rabu, 01 Agustus 2018

Makam Ki Buyut Muhyi Kempek

Makam Ki Buyut Muhyi Kempek

Di Desa Kempek yang terkenal dengan pesantrennya ini terdapat sebuah makam yang usianya sudah cukup tua.Makam ini adalah makam Ki Buyut Kempek,sesepuh Desa Kempek.Beliau hidup seera dengan Pangerna Cakrabuana dan ada hubungannya dengan kisah Nyi Mas Gandasari yang saat itu diutus oleh Sunan Gunung Jati untuk menaklukkan Raja Galuh yang dikenal sakti dan tak bisa dikalahkan oleh utusan Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati lainnya.

Makam Ki Buyut Kempek terdapat di dalam sebuah bangunan yang mirip rumah,dengan pintu dan jendelanya yang hampir tak ada bedanya dengan rumah biasa.Yang membedaknnya dengan rumah biasa lainnya,yaitu bangunan ini tepat berada di tengah-tengah pemakaman dan di dalamnya beirisi makam.Selain makam Ki Buyut Muhyi,di dalam bangunan tersebut terdapat juga makam istrinya yang bernama Nyai Pakungwati.(Ada kesamaan nama dengan putri Sunan Gunang Jati,tapi orangnya berbeda).

Hampir tiap hari makam Ki Buyut Muhyi selalu didatangi oleh para peziarah.Pada hari Kamis,Jum'at dan hari-hari besar umat Islam lainnya,makam Ki Buyut Muhyi akan semakin ramai.Puncak keramaian makam Ki Buyut Muhyi ini terjadi saat diadakan ngunjung buyut sekaligus sedekah bumi yang diadakan oleh masyarakat dan aparat desa setempat.Biasanya acara sedekah bumi ini diadakan bertepatan dengan awal musim tanam menjelang musim hujan,sehingga waktunya tidak tentu.

Makam Ki Buyut Muhyi ini berdekatan dengan makam para kiai Pesantren Kempek,tempatnyapun tak jauh dari Pesantren Kempek.Bila dari arah Bandung turun saja di pintu masuk Pesantren Kempek di Gempol,dari Indramayu atau Jakarta bisa turun di pintu masuk Pesantren Kempek di Pegagan,dan bila dari arah kota Cirebon,bisa turun di kedua tempat tersebut.

Makam Ki Buyut Muhyi,Kempek Palimanan

Senin, 30 Juli 2018

Pesantren Kempek

Pesantren Kempek

Pesantren Kempek adalah pesantren yang sudah terbilang cukup tua usianya.Pesantren ini berdiri sekitar tahun 1908 M,oleh seorang ulama bernama Kiai Harun.Beliau adalah putra dari Kiai Abdul Jalil Kedondong.Nama Pesantren Kempek sendiri diambil dari nama desa tempat di mana pesantren ini berdiri,yaitu Desa Kempek yang memang keberadaan desanya sudah berdiri sejak awal Cirebon sebagai kerajaan mulai terbentuk.

Semula Pesantren Kempek adalah sebuah pesantren yang hanya mengajarkan Al Qur'an dan kitab-kitab kuning saja,sehingga selama beberapa tahun lalu,pesantren ini lebih dikenal sebagai pesantren tradisional atau salafi.Lambat laun,di Pesantren Kempek ini akhirnya berdiri juga lembaga pendidikan formal berupa sekolah yang bernaung di bawah yayasan Kiai Aqil Siroj atau yang biasa disebut Yayasan KHAS Kempek,yang menaungi beberapa sekolah antara lain Sekolah Menengah Pertama (SMP),Madrasah Tsanawiyah (MTs),dan Madrasah Aliyah (MA).

Pesantren Kempek terdiri dari beberapa komplek pesantren yang dikepalai oleh seorang ulama atau kiai,yang hampir semuanya masih keturunan dari Kiai Harun,baik itu keturunan dari anak perempuannya maupun dari anak laki-lakinya.Beberapa nama komplek pesantren di antaranya adalah komplek yang berada di wilayah Al Qodiem putra seperti Komplek Imam Ibnu Hisyam,Imam Ibnu Malik,Imam Zamakh Sari,Imam Sibawaih,dan Imam Akhfasi.Wilayah Al Qodiem putri terdiri dari Asrama Tsuwaibatul Aslamiyah,Sayyidah Zaenab,Robiatul Adawiyah dan As-Syifa.Di Wlayah Al Ghadier putra dan putri terdapat komplek  Imam Ghozali dan Az-Zahra.Terakhir adalah Wilayah Am Jadied putra dan putri,yang terdiri dari komplek Al Maturidi,Al Bukhori,Al Muslim,asrama Sayyidah Aisyah,Khodijah,dan beberapa komplek serta asrama lainnya.


Masjid Pesantren Kempek yang sudah berumur seabad lebih

Salah satu asrama santri

Santri-santri sedang mengaji 

Salah satu bangunan MA KHAS Kempek

Selasa, 24 Juli 2018

Makam Buyut Tampa Baya

Makam Buyut Tampa Baya
Buyut Tampa Baya adalah seorang lelaki yang berasal dari Mataram.Menurut juru kunci yang bernama Pak Satori,Buyut Tampa Baya ini hidup sezaman dengan era Wali Sanga.
Makam Buyut Tampa Baya terletak di Blok Wana Giri,Klangenan Cirebon.Dari arah kota Cirebon,Majalengka,Sumedang dan Bandung,makam beliau bisa dicapai dengan naik kendaraan umum jurusan Cirebon-Bandung.Untuk lebih mudahnya,minta turun saja di Pasar Palimanan.Kalau dari arah Cirebon harus menyeberang jalan,sementara kalau dari arah Bandung tidak perlu menyeberang.Makamnya tidak terlalu jauh dari jalan,sehingga dari jalan umum bisa ditempuh dengan jalan kaki,naik becak atau ojek bagi yang malas.Dari mulut jalan raya Cirebon-Bandung,makam Buyut Tampa Baya hanya berjarak beberapa ratus meter saja.
Seperti kebanyakan makam sesepuh pada umumnya,makam Buyut Tampa Baya juga ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu,seperti hari Kamis,Jum'at,dan hari-hari besar umat Islam seperti maulid.Setiap malam Jum'at,biasanya diadakan tahlil yang dipimpin oleh kunci makam ini.Pada malam Jum'at Kliwon,peserta yang mengikuti selamatan atau tahlil biasanya akan lebih banyak.

                    Gapura depan makam Buyut Tampa Baya

Senin, 28 Mei 2018

Ardhi Sela Sumedang (Kiai Raden Asyrofudin)

Ardhi Sela Sumedang (Kiai Raden Asyrofudin)

Pangeran Asyrofudin atau Raden Asyrofudin adalah anak dari Sultan Kasepuhan yang bernama Sultan Zainudin.Menurut sebuah sumber,sebenarnya beliau adalah putra yang akan diserahi kekuasaan untuk melanjutkan kepemimpinan ayahnya.Tapi karena beliau seringkali berbeda pendapat dan selalu bertolak belakang dengan pemikiran dan keinginan ayahnya,maka kesempatan itupun akhirnya hilang.

Sultan Zainudin yang terlalu dekat dan bekerjasama dengan penjajah,merasa tidak senang dengan pemikiran anaknya yang justru ingin bermusuhan secara terang-terangan dengan pihak penjajah.Karena hal ini,maka akhirnya Raden Asyrofudinpun diusir oleh ayahnya keluar dari istana.Beliau harus pergi meninggalkan wilayah Kesultanan Cirebon dan tak boleh lagi menginjakkan kakinya di wilayah kekuasaan Kesultanan Cirebon.Karena tak punya pilihan lain,akhirnya Raden Asyrofudinpun pergi meninggalkan Cirebon.

Setelah melakukan perjalanan panjang,akhirnya Raden Asyrofudin sampai di Sumedang.Di kota yang dulunya termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang ini beliau akhirnya memutuskan untuk mendirikan pesantren dengan nama Pesantren Ardhi Sela Singa Naga.Beliau sendiri akhirnya lebih dikenal dengan nama Ardhi Sela.

Pesantren Ardhi Sela Singa Naga ini berdiri sekitar tahun 1846 M.Setelah Raden Asyrofudin meninggal,pesantren ini dilanjutkan oleh keturunannya.Di kemudian hari nama pesantren ini dirubah oleh para penerusnya tersebut menjadi Pesantren Asyrofudin.

Belum ada informasi yang pasti apakah nama Ardhi Sela Sumedang ini ada kaitannya atau tidak dengan para Ardisela yang ada di Cirebon dan sekitarnya.Bila merunut pada waktu pendirian pesantrennya yang berdiri sekitar tahun 1846 dan kejadian yang melatarbelakangi kepergian Raden Asyrofudin tersebut,sangat dimungkinkan sekali jika Raden Asyrofudin ini masih ada kaitannya dengan para Ardisela yang ada di Cirebon dan sekitarnya.Selain itu juga mereka sama-sama berjuang di era yang sama,yaitu sekitar tahun 1700 an akhir hingga awal atau pertengahan tahun 1800 an M.

Jumat, 25 Mei 2018

Saya Muslim,Pilih Pelihara Anjing atau Kucing?

Saya Muslim,Pilih Pelihara Anjing atau Kucing?

Dalam ilmu fiqih yang saya pelajari,anjing adalah binatang yang hukumnya najis,bahkan termasuk najis besar atau najis mugholadhoh.Kalau kena najisnya,kita harus mencucinya sebanyak tujuh kali,satu di antaranya harus disertai debu.Tapi entah mengapa dari kecil hingga besar,saya senang sekali sama binatang yang satu ini.Tapi,walau suka saya tak berminat memeliharanya,karena selain repot sama najisnya,saya juga tak mau menelantarkan binatang peliharaan saya,mengingat saya yang orangnya malesan dan terkadang suka jalan-jalan.

Suatu hari,tiba-tiba ada anjing tersesat di belakang rumah.Awalnya anjing itu berteduh di bawah kayu-kayu rumah tetangga.Anjing itu sehat dan gemuk.Bulunya perpaduan coklat dan hitam,dilehernya terdapat kalung yang menandakan kalau anjing itu adalah anjing peliharaan.Sepertinya ia terbiasa diberi makan,sehingga ia tak pandai mencari makan sendiri ketika ia jauh dengan pemiliknya.Lama kelamaan tubuhnyapun menjadi kurus,sangat berbeda dengan keadaan saat ia baru datang dulu.

Karena sering diganggu oleh anak-anak,akhirnya ia mencari tempat baru.Tak disangka,ternyata tempat baru yang anjing itu pilih adalah bagian belakang rumah baca yang biasa digunakan untuk membaca dan belajar anak-anak jika ruang baca utama penuh.Semula saya juga abai akan anjing itu,karena saya yang hanya bekerja sebagai guru honorer dan guru les di desa ini tak mungkin mampu memeliharanya.Perlu biaya besar untuk memberi makan anjing,sementara gaji dan pengjasilan saya cuma bisa untuk makan dan merawat rumah baca saja.

Lama-kelamaan anjing itu semakin kurus,benar-benar kurus karena makan ala kadarnya saja,bahkan mungkin sering tak makan.Memberi makan anjing?,tiba-tiba saja kalimat itu terbersit di fikiranku.Kenapa harus memberi makan anjing?,sementara kucing liar juga banyak berkeliaran di sekitar rumah.Saya bingung,saya harus pilih mana?,harus lebih perduli pada anjing atau kucing?.Setelah berfikir lama,akhirnya saya putuskan untuk lebih perduli pada anjing.Kenapa?,karena di desa tempat saya tinggal hampir semuanya muslim,pasti mereka banyak yang perduli pada kucing.Kalau sama anjing?,hem,kalau rumah mereka didatangi pasti anjing itu akan diusirnya,bukan karena alasan najis saja,tapi visa juga karena alasan takut atau lainnya.

Saya Muslim,pilih pelihara anjing atau kucing?.Akhirnya saya memutuskan,kali ini saya pilih memelihara anjing saja,karena sekarang ini anjinglah yang benar-benar membutuhkan perhatian dan uluran tangan saya.Sebisanya akan saya rawat anjing itu,karena saya tahu ia tak biasa hidup sendiri di dunia luar ini,karena ia terbiasa dirawat dan diberi makan minum oleh pemiliknya terdahulu.Lalu bagaimana dengan najisnya?.Itu bukan masalah,karena saya bisa menghindar semampu saya dari najisnya,toh tempatnya terpisah,makan dan minumpun tak harus disuapi.

Anjing memang najis,tapi bukan berarti kita tak boleh perduli dan merawatnya,karena anjing juga makhluk ciptaan Allah.

                      Anjing yang akhirnya saya pelihara....

Senin, 23 April 2018

Kiai Layaman

Kiai Layaman
Kiai Layaman atau biasa disebut Kilayaman adalah putra dari Buyut Muji atau Syekh Abdul Muhyi /Syekh Muhyidin Dawuan,Tengah Tani Cirebon.Buyut muji ayah Kilayaman ini adalah seorang yang dikenal sakti mandraguna.Karena kesaktiannya ini,banyak orang yang meminta pertolongan kepadanya.Buyut Muji mempunyai lima orang anak,empat putri dan satu putra.Mereka adalah :
1. Nyai Jamaliyah
2. Kyai Layaman
3. Nyai Layyinah
4. Nyai Maemunah
5. Nyai Julaekhah Gintung
Sebagai satu-satunya putra dari Buyut Muji,Kiai Layaman mewarisi bakat dan kemampuan ayahnya sebagai orang sakti.Sebagai seorang yang sakti,Kiai Layaman dikenal juga sebagai seorang pejuang yang gigih dalam melawan penjajah.Beliau sendiri adalah salah satu dari anggota pejuang yang tergabung dalam kelompok 'Ardisela'.Ada yang mengatakan beliau dikenal dengan nama Ardisela Layaman,namun ada juga yang berpendapat lain.Selain dikenal sebagai Buyut Rancang,tak banyak orang yang mengetahui jika beliau adalah bagian dari kelompok pejuang dengan julukan Ardisela,termasuk sebagian besar keturunannya.Karena hal ini,sering sekali terjadi kesalahpahaman di antara para keturunan Kiai Layaman,keturunan Ardisela,para penggiat atau penggemar sejarah,peneliti,dan kalangan masyarakat pada umumnya.
Kiai Layaman menikah dengan seorang wanita yang bernama Nyai Ratu Solihah atau yang dikenal dengan nama Ratu Gemulung.Dari perkawinannya dengan Ratu Gemulung ini beliau dikaruniai dua orang putra,yaitu :
1. Kiai Nurhasan
2. Kiai Nursafin
Makam Kiai Layaman sendiri berada di kawasan Tengah Tani,Dawuan Plered,tak jauh dari makam Buyut Muji,namun terletak di pemakamn yang berbeda.
Selama hidupnya Kiai Layaman dikenal sebagai seorang yang sakti.Setelah kepergiannya,kesaktiannya tetap dikenal dan dikenang oleh banyak orang.Makamnya sering juga dikunjungi oleh para peziarah.Di kemudian hari,anak keturunan Kiai Layaman banyak juga yang dikenal sebagai orang yang sakti mandraguna,mewarisi jejak Buyut Muji leluhurnya.Tak sedikit dari keturunan Kiai Layaman ini yang berprofesi sebagai tabib atau juru pengobat,paranormal,pelatih silat atau ilmu kanuragan.Mereka dikenal mempunyai kemampuan dalam bidang supranatural atau ilmu kebatinan yang bisa mengobati aneka macam penyakit,baik penyakit medis maupun non medis.

Selasa, 17 April 2018

Tiga Ardisela yang Dikira Satu Orang

Tiga Ardisela yang Dikira Satu Orang

Kiai Ardisela Dawuan atau Buntet,Kiai Mas Khanafi atau Ardisela Jaha (Buyut Jaha),dan Mbah Raden Ardisela Tuk adalah tiga orang dengan nama Ardisela yang sering kali disangka atau dianggap satu orang.Hal ini tak jarang memantik perdebatan di antara orang-orang yang tidak mengetahui sosok dan kisah ketiganya.Yang sering menjadi perdebatan antara lain berkaitan dengan nama istri,silsilah dan anak-anak mereka.

Ada yang mengatakan jika Kiai Ardisela mempunyai istri bernama Nyai Alfan (Nyai R. Alifan) binti Kiai Abdul Hadi,adik dari Mbah Muqoyim pendiri Pesantren Buntet.Apabila ada orang yang berpendapat seperti itu,maka sebenarnya pendapat itu benar,karena memang demikian kenyataannya.Namun yang dimaksud di sini adalah Kiai Ardisela Dawuan atau Buntet.Dari perkawinan Kiai Ardisela Dawuan dan Nyai Alfan,keduanya dikarunia dua orang anak,yaitu Kiai Muhamad Imam dan Nyai Khafiun.Kiai Ardisela Dawuan adalah kakek buyut Kiai Anwarudin (Kiai Krian).Makamnya berada di Sleman,Sliyeg Indramayu.

Bila ada yang mengatakan jika Kiai Ardisela menikah dengan keponakan Mbah Muqoyim,maka pendapat ini juga tidak salah.Karena Kiai Ardisela memang menikah dengan keponakan Mbah Muqoyim.Yang dimaksud di sini adalah Kiai Ardisela Jaha yang di kemudian hari lebih dikenal dengan nama Buyut Jaha,di mana kedua nama tersebut adalah sebutan atau julukan untuk Kiai Mas Khanafi.Kiai Mas Khanafi ini memang diketahui menikah dengan Nyai Khafiun,putri Kiai Ardisela Dawuan dan keponakan Mbah Muqoyim.Kiai Mas Khanafi dan Nyi Khafiun mempunyai empat orang anak,yaitu Nyai Lathifah,Kiai Idris,Nyai Asfiah,dan Nyai Qona'ah.

Jika ada yang berpendapat jika Kiai Ardisela ini menikah dengan seorang wanita yang bernama Nyai Maemunah (Nyai Muntreng) yang menurut banyak orang adalah putri Buyut Muji,maka pendapat ini juga betul.Karena Kiai Ardisela memang menikah dengan wanita bernama Nyai Maemunah.Yang dimaksud Kiai Ardisela yang menikah dengan Nyai Maemunah adalah Kiai Ardisela Tuk yang tak lain adalah seorang pemangku wilayah atau demang,yang mempunyai nama lain Raden Rustam atau Raden Bratakusuma.Dari perkawinan Kiai Ardisela Tuk dan Nyai Maemunah ini,keduanya dikaruniai dua orang putri yang bernama Nyi Raden Aras dan Nyi Raden Aris.Kiai Arisela Tuk atau biasa disebut Mbah Raden Ardisela ini tidak mempunyai anak laki-laki.

Nama Ardisela yang hidup sezaman dan sama-sama berjuang dengan Mbah Muqoyim memang tak hanya satu orang,karena nama Ardisela di sini hanya sebagai nama julukan atau nama sandi yang digunakan saat berjuang atau berperang.Bahkan Mbah Muqoyim sendiri punya menantu yang tergabung ke dalam kelompok Ardisela,yaitu Kiai Gozali atau yang biasa disebut Kiai Ardisela Gozali.

Minggu, 15 April 2018

Buyut Jaha Cirebon (Kiai Mas Khanafi)

Buyut Jaha Cirebon (Kiai Mas Khanafi)

Kiai Mas Khanafi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Buyut Jaha yang makamnya berada di Desa Sampiran,Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon,adalah seorang ulama sekaligus pejuang yang begitu gigih melawan penjajah.Beliau tergabung dalam kelompok pejuang yang mempunyai nama 'Ardisela'.Oleh sebab itu,selain dikenal dengan sebutan Buyut Jaha,Kiai Mas Khanafi juga dikenal dengan nama Ardisela Jaha.

Menurut beberapa sumber,kata Jaha ini erat kaitannya dengan nama sebuah kawasan di Banten,tepatnya dekat dengan pantai  Anyer.Sekitar tahun 1700 an M,di sekitar pantai itu terdapat sebuah kampung bernama Jaha,di mana di kampung tersebut banyak dihuni oleh para pendatang yang berasal dari Arab dan Yaman.Sebagian dari mereka adalah pedagang,dan beberapa diantaranya terdapat kelompok habib yang memang berniat membantu penyebaran ajaran Islam di Jawa bagian barat,khususnya Banten.Selain di Anyer,kampung atau kawasan dengan nama Jaha juga ditemukan di Serang dan di Cikaduen Pandeglang Banten.Belum diketahui secara pasti apakah daerah-daerah itu hanya mempunyai kesamaan nama atau memang ada kaitan antara satu tempat yang bernama Jaha dengan yang lainnya.

Berkaitan dengan Kiai Mas Khanafi Jaha sendiri,tak diketahui tempat di mana beliau dilahirkan.Tak ada pula yang mencatat masa lahir dan tanggal kematiannya.Namun diketahui jika masa hidup Kiai Mas Khanafi masih satu era dengan Mbah Muqoyim dan Kiai Ardisela Dawuan Sela (Buntet).Hanya saja usianya diperkirakan jauh lebih muda,karena beliau adalah menantu dari Kiai Ardisela Buntet dan keponakan ipar Mbah Muqoyim.Sementara dengan Mbah Ardisela Tuk,usia Kiai Mas Khanafi diperkirakan tidak terlalu jauh berbeda,karena keduanya sama-sama sebagai murid dari Kiai Ardisela Buntet dan juga Mbah Muqoyim.Diketahui juga jika anak perempuan dari Kiai Mas Khanafi yang bernama Nyai Latifah dan anak perempuan dari Mbah Ardisela Tuk yang bernama Nyi Mas Aris ini di kemudian hari menjadi besan.

Kiai Mas Khanafi adalah anak dari Kiai Hasyim bin Abdullah bin Hasyim bin Musayyakh bin Ahmad bin Yahya.Seorang ulama keturunan Rasulullah SAW bermarga Yahya.Ayah dan kakeknya dimakamkan di Ketingkring Wonosobo,sementara makam buyutnya yang bernama Kiai Hasyim bin Musyayyakh dimakamkan di Kutai Kartanegara,Kalimantan.Makam keluarga yang saling berjauhan ini dikarenakan mereka semua suka berpindah tempat ketika berjuang dan berdakwah.

Seperti leluhurnya yang lain,Kiai Mas Khanafi menghabiskan banyak waktunya untuk berjuang dan berdakwah juga,dari satu daerah ke daerah lainnya.Selain kawasan Cirebon Selatan,kawasan Cirebon Timur juga menjadi tempat berdakwah baginya.Di sinilah beliau banyak menghabiskan waktu untuk berjuang dan berdakwah bersama Kiai Ardisela mertuanya,Mbah Muqoyim paman iparnya,dan Mbah Ardisela Tuk sahabatnya.

Kiai Mas Khanafi menikah dengan Nyai Khafiun,putri dari Kiai Ardisela Buntet dan Nyai Alfan.Secara tidak langsung,Kiai Mas Khanafi ini termasuk keponakan Mbah Muqoyim,yaitu keponakan ipar.Karena Nyai Alfan adalah adik dari Mbah Muqoyim (Pendiri Pesantren Buntet),Kiai Yahya,dan Kiai Ismail (Pendiri Pesantren Pesawahan,Cirebon).Mbah Muqoyim,Kiai Yahya,Kiai Ismail,dan Nyai Alfan adalah anak-anak dari Kiai Abdul Hadi.
Dari pernikahannya dengan Nyai Khafiun,Kiai Mas Khanafi dikaruniai tiga orang putri dan seorang putra,yaitu :
1. Nyai Latifah
2. Kiai Idris
3. Nyai Asfiah,dan
4. Nyai Qona'ah.

Nyai Latifah menikah dengan Kiai Takrifudin atau biasa juga disebut dengan nama Kiai Abdul Latif,pendiri Pesantren Pemijen-Asem Lemahabang Sindang Laut.Kiai Idris menikah dengan tiga wanita dan dikarunia beberapa anak,dan putra beliaulah yang akhirnya melanjutkan jejak Kiai Mas Khanafi dalam berjuang dan berdakwah.Makam Kiai Idris sendiri berada di Mekah.Konon,hal ini terjadi lantaran beliau meninggal saat melaksanakan ibadah haji.Sementara itu Nyai Asfiah menikah dengan Kiai Mustofa,dan Nyai Qona'ah menikah dengan Kiai Nurhasan.Dari keempat putra-putrinya ini,keturunan Kiai Mas Khanafi banyak menurunkan para ulama yang banyak tersebar di pesantren-pesantren,terutama di Cirebon.

Semasa hidupnya,Kiai Mas Khanafi dikenal sebagai ulama yang berilmu dan berwawasan luas.Karena keilmuannya yang mumpuni dalam bidang agama,maka pada akhirnya beliau dikenal luas oleh berbagai kalangan masyarakat.Karena hal ini pulalah yang membuat pihak Keraton Kanoman yang mengetahuinya hendak menjadikannya sebagai seorang mufti atau ulama keraton.Namun tawaran sebagai mufti dari Keraton Kanoman itu ditolak oleh Kiai Mas Khanafi dengan berbagai alasan,salah satunya adalah karena beliau ingin lebih dekat dengan masyarakat umum dan memberikan pendidikan agama bagi semua kalangan masyarakat.

Jabatan memang tidak membuat Kiai Mas Khanafi terlena dan menjadikannya tergoda.Justru sebaliknya,beliau malah menolak jabatan tersebut dan memilih sebagai ulama yang hidup di tengah-tengah masyarakat umum.Padahal menjadi mufti atau ulama keraton adalah sebuah jabatan dan pemberian kepercayaan yang tidak sembarang orang bisa mendapatkannya.Jabatan tersebut sangat berarti bagi sebagian orang,lebih-lebih di era di mana keraton masih begitu sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat .