Selasa, 29 September 2015

Guru Ingusan

Guru Ingusan

Kalau biasanya ada kata anak ingusan untuk menggambarkan anak-anak yang benar-benar beringus atau anak kecil yang belum banyak tahu apa-apa,maka sekarang ada istilah guru ingusan.Merujuk pada siapakah  kata guru ingusan itu?,tak lain dan tak bukan merujuk kepada penulis blog ini.Yap,penulis blog ini memang seorang guru yang ingusan.

Jorok?,jangan berfikir seperti itu dulu ya.Ini kisah nyata dan Insya Allah bermanfaat untuk sesama,termasuk juga untuk para pembaca blog saya yang pasti cantik-cantik dan ganteng-ganteng(he he,cuma sayakan blogger yang muji pembacanya?).

Ya,akulah si guru ingusan itu.Asli ingusan loh,karena memang saya mempunyai alergi di hidung.Alergi saya itu akan muncul bila terkena debu,cuaca dingin atau panas,minum atau makan yang dingin,terkena serbuk,bau menyengat dan lain-lain yang merangsang hidung untuk bereaksi.

Punya alergi di hidung itu repotnya minta ampun,apalagi buat saya  seorang guru yang harus banyak tampil di muka kelas atau juga bertemu dengan banyak orang.Ketika sedang asik-asiknya ngobrol atau menjelaskan,tiba-tiba gatal  menyerang dan bersinpun datang membabi buta tak karuan.Kalau cuma bersin-bersin saja sebenarnya masih untung,yang lebih parah itu kalau sudah bersin langsung disusul dengan ingus yang meluncur bebas.Otomatis hal ini sangat mengganggu kegiatan yang sedang saya lakukan.Bahkan tak jarang malah membuat jijik orang lain.

Sebenarnya saya sudah mempunyai alergi ini dari kecil,tetapi biasanya timbul tenggelam dan tidak berlangsung sampai lama seperti sekarang ini.Kalau dihitung-hitung alergi saya yang parah kali ini sudah berlangsung lebih dari tiga tahun.Berbagai macam obat telah dicoba,dari yang modern sampai yang traditional,tetapi belum ada perubahan yang berarti.Bersin dan ingus tetap selalu datang dan pergi silih berganti.

Selain mencoba aneka obat,beberapa dokterpun sudah saya datangi,tetapi alergi ini belum sembuh juga.Kata dokternya kalau alergi itu hingga sekarang belum bisa disembuhkan.Jadi lebih baik menghindari pemicunya saja.Selain menghindari pemicunya,saya juga dianjurkan menggunakan masker,lumayan buat bertahan dari serangan debu,serbuk atau bau yang menyengat.Memakai masker untuk saya memang lumayan membantu,walau ketampanan saya akhirnya tidak bisa diperlihatkan secara menyeluruh ke khalayak umum.(He he,kalau soal tampan ini cuma pengakuan sepihak saya saja ya).

Terlalu banyak minum obat kimia membuat saya takut terkena sakit ginjal.Minum obat tradisional juga takut alergi saya bertambah parah,karena yang tradisional biasanya berasal dari tumbuhan yang terkadang malah menimbulkan alergi yang lain.Beberapa teman akhirnya  menyarankan agar saya meminum kelapa hijau.Kelapa hijaupun sudah  saya coba tetapi belum sembuh juga.

Adakah obat lain?,entahlah.Tapi yang penting saya tetap berusaha dan biarkan Tuhan yang menentukan.Sayamah positive thinking saja,siapa tahu ada kebaikan dibalik apa yang saya alami ini.

Guru ingusan,itulah saya.