Senin, 26 Juni 2023

Keluarga Besar Pangeran Alas Kesultanan Cirebon

 Pangeran Alas adalah putra dari Panembahan Girilaya.Beliau adalah adik dari Sultan Sepuh,Sultan Anom,dan P. Wangsakerta,namun dari ibu yang berbeda.Keturunan Pangeran Alas ini,sekarang terhimpun dalam paguyuban atau perkumpulan yang diberi nama Keluarga Besar Pangeran Alas Kesultanan Cirebon,atau biasa disingkat KBPA KC, Cirebon.

Anggota KBPA KC awalnya berkumpul lewat medsos,dilanjutkan dengan grup whattsapp yang dibuat oleh Ghufron Amin,dan didukung oleh Ikbal,Hedi Karta,Yuli Adam Panji,dan lain-lain.Selanjutnya grup w a diikuti oleh keluarga lainnya.Kehadiran Walid Syaikhun,Adhi,Jahid Syaikhun,dan keturunan-keturunan Pangeran Alas lainnya menjadikan KBPA semakin ramai dan bertambah solid.KBPA pun akhirnya mempunyai struktur organisasi yang ada ketua,bendahar,sekertaris,dan lainnya.

KBPA KC awalnya adalah wadah untuk memperkuat silaturohim antar sesama keturunan Pangeran Alas bin Panembahan Girilaya dari berbagai daerah saja,baik dari jalur silsilah laki-laki atau jalur silsilah perempuan.Pada perkembangan selanjutnya,KBPA KC ikut serta dalam kegiatan-kagiatan yang mengandung nilai-nilai sosial dan keagamaan di masyarakat.

Beberapa kegiatan KBPA KC yang sudah dilakukan adalah silaturohim antar sesama keturunan Pangeran Alas dalam waktu tertentu,memugar makam Pangeran Alas di Luwung,Mundu,membangun mushola dan padepokan Pangeran Alas di Gebang,memeriahkan acara yang berkaitan dengan umat Islam seperti kegiatan bagi-bagi takjil,membuat jurnal dan aneka tulisan yang berbasis penelitian ilmiah,dan lain-lain.

Sekertariat pusat KBPA KC terletak di Gebang,Cirebon,sementara bagian atau sekertariat pendukung ada di Ketandan Kasepuhan,Tuk Karangsuwung,Sindanglaut,dan beberapa daerah lainnya di mana banyak keturunan Pangeran Alas berada.


Makam P. Alas (P. Santri) di Luwung,Mundu,Cirebon.




Kegiatan Romadhon,berbagi takjil

Rabu, 21 Juni 2023

Terbelenggu Doktrin Dzuriah Nabi

Dari saya kecil sampai besar,saya tahu jika ibu saya sangat mencintai dan begitu menghormati para habib dan habibah yang diklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.Saat saya tanya mengapa bisa begitu cinta dan hormat bahkan cenderung takut kualat,beliau hanya menjawab karena mereka keturunan Rosul dan umat Islam harus mencintai dan menghormati mereka tanpa syarat.Sepertinya beliau begitu takut akan kualat kalau membantah ajaran atau doktrin seperti itu.

Saya lihat cinta dan penghormatan ibu sangat berlebihan,bahkan cinta dan penghormatannya itu melebihi cinta dan hormat kepada kedua orangtuanya.Walau tidak setuju dengan apa yang dilakukan ibu,saya hanya diam karena tidak tahu harus bagaimana menyampaikan rasa ketidaksetujuan saya ini,maklum saya masih kecil dan tidak terlalu tahu banyak hal.Yang saya tahu,saya tidak setuju dan tidak akan pernah setuju dengan ajaran atau doktrin yang berlebihan tentang harusnya mencintai,menghormati,bahkan sampai mengorbankan banyak hal yang kadang merugikan diri sendiri tanpa mereka yang dianggap dzuriah Rosul itu mau perduli.

Ketika saya sudah besar,keyakinan ibu tentang ajaran itu masih melekat kuat.Namun sedikit demi sedikit,saya sampaikan ketidak setujuan saya dengan aneka alasan atau dasarnya.Masih agak sulit,namun sedikit demi sedikit pula akhirnya ibu mau berubah.Selain karena salah satu alasan yang saya jelaskan,juga karena didukung oleh kejadian yang betul-betul tidak mengenakkan yang dialami oleh ibu saya,yang dilakukan oleh oknum yang mengaku dzuriah Nabi.

Walau sudah sedikit berubah,namun ibu tetap pada keyakinannya.Bedanya sekarang tidak berlebih seperti dulu.Suatu hari saya dan ibu akhirnya terlibat kembali dalam percakapan mengenai dzuriah Nabi ini.Saya beri alasan tentang manusia sama di hadapan Allah SWT dan yang membedakan hanya taqwanya,ibu sudah tahu.Diberi tahu jika manusia yang yang mulia adalah manusia yang bagus akhlak dan paling berguna bagi sesama umatNya,ibu juga sudah tahu.Dikasih tahu jika Rosul berjanji akan menghukum anaknya jika bersalah dan menyamakan semua di hadapan hukum,ibu juga sudah tahu.Maklum saja,beliau itu guru ngaji Quran yang juga biasa mengisi ceramah di banyak tempat.

Susah juga meyakinkan orang yang sudah meyakini jika ajaran yang didapatnya adalah benar dan tidak perlu dipermasalahkan.Harus bagaimana lagi ini?.

Akhirnya,entah mengapa tiba-tiba saya teringat jika keluarga Keraton Cirebon dan Banten adalah keturunan Walisongo yang bernama Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.Saya juga teringat cerita ibu bila ayahnya adalah seorang lelaki keturunan Sultan Banten.Akhirnya saya pertanyakan kembali,bukankah ibu bercerita jika ayahnya ibu adalah keturunan Sultan Hasanudin yang tak lain adalah termasuk dzuriah Nabi?.Belum lagi nenek dan buyut ibu juga dikenal sebagai dzuriah Nabi yang sama-sama dari jalur  Sunan Gunung Jati,di mana buyut ibu saya adalah memimpin Pesantren Buntet yang punya ribuan santri.Mendengar pertanyaan saya itu,ibu terkejut dan tersenyum.Ya,selama ini beliau lupa atau memang sudah melupakan diri jika beliau adalah masuk golongan dzuriah Nabi.Akhirnya ibu sadar,jika selama ini apa yang diyakininya adalah salah.Ada sesuatu yang membuatnya berhenti berfikir dan mencari tahu pendapat lainnya.Ada sesuatu yang membuatnya terbelenggu pada doktrin dzuriah Nabi.Saya maklumi,karena ibu saya lahir di awal kemerdekaan di mana para habaib dari Yaman pada era kolonial adalah tergolong warga Arab,orang-orang yang dikelompokan sebagai orang yang lebih mulia dari warga pribumi.

Karena tahun-tahun ibu lahir hingga remaja adalah tahin-tahun penuh pancaroba,tak mungkin ibuencari tahu lebih banyak lagi tentang apa itu ahlul bait,dzuriah Nabi,juga apa itu habib dan habibah.Ketika ibu remaja hingga berumah tangga,dari tahun 1960 hingga tahun 1990an mencari referensi kajian ilmiah mengenai pembahasan tentang dzuriah Nabi itu sangat minim dan terbilang susah mencarinya,maka cuma satu doktrin itulah yang ibu dapat.Yang ibu dan masyarakat tahu saat itu adalah habib dan habibah yang berwajah Arab itu lebih mulia,sehingga beliaupun lupa akan darah yang mengalir di tubuhnya.

Tapi dari kejadian ini saya bangga sekali pada ibu dan ayahnya,serta keluarga besarnya.Saya bangga karena ayahnya ibu alias kakek saya yang seorang dzuriah Sultan Hasanudin yang bergaris nasab dari jalur laki-laki (pancer laki-laki) itu berarti memang tidak pernah mengajarkan pada anak-anaknya jika derajat mereka lebih tinggi,tidak pernah mengajarkan untuk minta dicintai,tidak pernah mengajarkan untuk minta dihormati,tidak pernah mengajarkan untuk  meminta-minta untuk kepentingan sendiri dengan membawa-bawa nama dzuriah Nabi.Saya bangga karena kakek saya mengajarkan jika manusia adalah sama di hadapan Allah SWT,tanpa memandang status pangkat,jabatan,harta dan nasabnya.Saya juga bangga pada ibu saya,karena beliau sudah menerapkan ajaran ayahnya,agar beliau tidak minta untuk dicintai dan dihormati,meminta untuk kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan dzuriah Nabi,dan juga tidak mengagung-agungkan nasab demi kepentingan pribadi lainnya.

Saya bersyukur,ibu saya akhirnya menyadari,jika semua manusia adalah sama di hadapan Allah SWT,seperti yang telah diajarkan oleh ayahnya,dan juga para leluhurnya terdahulu.Ya,kita semua adalah makhluk yang sama di hadapan Sang Pencipta,yang membedakan adalah iman dan taqwa,serta amal perbuatannya.

Minggu, 18 Juni 2023

Gurunya Males Mandi

Setelah lama tidak mengajar di sekolah,rasanya jadi malas mandi.Kalau dulu setiap bangun pagi langsung mandi dan gosok gigi,kalau sekarang bangun pagi lanjut tidur lagi,kalau tidak tidur ya selancar di dunia maya hingga terbit matahari.

Berkaitan dengan malas mandi ini,saya pernah suatu kali hampir seminggu saya tidak mandi.Rasanya bagaimana?,kata anak sekarang sih ya b saja alias biasa-biasa saja.Seperti apa baunya?,jangan bayangkan lah ya.Kalau sekarang seminggu mandi berapa kali?,tidak tentu,bisa dua kali,bisa tiga kali.Entah mengapa,setelah sehari-hari di rumah,jadi malas mandi dibuatnya.

Saat mengajar biasanya saya agak jaga jarak.Tetapi tetap saja bau badannya tercium oleh murid yang saya ajar.Selain bau badan,seperti biasa bau mulut juga tercium oleh murid saya.Kalau dipikir-pikir,saya ini kok akhir-akhir ini jorok sekali.Tapi anehnya saya merasa nyaman.Sekarang saya ini benar-benar guru yang tak bisa dijadikan teladan.

Sambil mengajar,di rumah saya juga buka arena bermain anak,usaha tambahan kecil-kecilan dengan hasil yang benar-benar tak ada lawan.Hasilnya lumayan?,iya lumayan membuat hati damai karena tak harus ketemu hari Senen pagi yang saya benci.Pokoknya semua harus disyukuri.

Beberapa anak yang datang untuk baca buku atau bermain juga tak sedikit yang mengatakan saya bau badan.Saya marah?,tentu tidak,karena memang itu kenyataanya.Makanya,sama anak-anak yang datang untuk belajar,bermain,atau membaca,saya selalu jaga jarak dengan mereka.Takut mereka keracunan bau badan saya.

Mandi,sebenarnya memang sesuatu yang saya benci.Tapi kalau mandinya di kolam renang,sungai,atau pantai,saya sangat menyukainya.Saat mengajar di sekolah,saya biasa mandi cuma sekali saat pagi.Setelah tidak mengajar di sekolah,awalnya dua hari sekali,tiga hari sekali,dan paling lama seminggu sekali.

Semoga saya kembali rajin mandi,walau tak wangi minimal baunya tidak mencemari dan tidak membuat polusi,yang bisa  mengakibatkan orang-orang menjauh pergi karena hal ini.



Kelompok MuNU?,Apa Itu?

Ketika bertemu dengan orang non Islam,mereka kadang bertanya kepada orang Islam.Kamu Islam Muhammadiyah atau NU?.Lah,kok bisa ada pertanyaan seperti itu?.Ya bisa sekali,karena mereka menganggap Muhammadiyah dan NU itu sebagai bagian dari Islam yang benar-benar berbeda.Orang Kristen atau Katolik ada yang mengira seperti itulah orang-orang Muhammadiyah dan NU.Ada benarnya juga pertanyaan itu.Masjidnya orang Muhammadiyah dan NU itu memang berbeda,berpisah sesuai dengan kelompoknya masing-masing.Lalu,kalau ada pertanyaan seperti itu harus jawab bagaimana?,padahalkan Muhammadiyah dan NU itu ya sama-sama Islam dan satu sama lain tidak jauh berbeda.Tapi,jangankan di pikiran orang non Islam,di pikiran kebanyakan orang Islam saja dianggap Muhammadiyah dan NU itu sebagai Islam yang benar-benar berbeda,apalagi bagi orang non Islam.

Ketika ada pertanyaan seperti itu pada saya,agak susah juga menjawabnya,mau dibilang Muhammadiyah dan NU itu sama nyatanya semua juga tahu jika keduamya ada perbedaan,mau dibilang Muhammadiyah dan NU itu beda tapi keduanya masih sama-sama Islam.Mau jawab Muhammadiyah,wong amalan saya banyakan ikut amalan NU.Mau bilang orang NU saya sendiri juga suka ikut amalan Muhammadiyah dan juga suka dengan Muhammadiyah dalam hal keorganisasiannya.Akhirnya,kalau ada pertanyaan seperti itu saya akan menjawab bahwa saya adalah kelompok MuNU.

Apa itu kelompok MuNU?,kelompok MuNu adalah segolongan orang yang tidak ingin dibatasi sebagai Muhammadiyah dan NU.Kelompok MuNU adalah sekelompok orang yang bisa ikut Muhammadiyah dan NU secara bersamaan.Kok bisa ya?,ya bisa dong.Apa diperbolehkan?,ya boleh dong.Kan Muhammadiyah dan NU itu hanya organisasi Islam,bukan agama.Ajaran keduanya masih sama,hanya berbeda dalam hal-hal tertentu saja.

Lalu,seperti apasih MuNU itu dalam kegiatan ibadah dan lainnya?.Kelompok MuNU itu sangat fleksibel dalam beribadah,mau mengikuti Muhammadiyah atau NU tidak ada masalah.Kalau orang Muhammadiyah dan NU yang militan biasanya ibadah itu harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para ulama kelompoknya saja.Sementara kelompok MuNU bisa memilih dan memakai keduanya.

Contoh yang bisa diambil adalah dalam masalah ibadah sholat.Kalau subuh orang Muhammadiyah tidak memakai qunut,orang NU memakai qunut.Orang MuNU kalau solat subuh bisa baca qunut atau tidak baca qunut,sesuai dengan masjid tempat di mana mereka sholat.Kalau sholat Jumat biasanya Muhammadiyah adzan satu kali langsung khutbah,kalau NU adzan dua kali sebelum khutbah.Adzan pertama biasanya menandakan masuk waktu sholat,diikuti sholat sunnah,kemudian adzan lagi dan dilanjutkan khutbah.Kalau kelompok MuNU biasanya mengikuti masjid tempat di mana sholat.Mau adzan sekali atau dua kali,kalau ada waktu sholat sunnah biasanya akan sholat sunnah terlebih dahulu.Kelompok MuNU itu benar-benar fleksibel,yang penting bukan masalah mendasar.

Contoh lainnya adalah dalam kegiatan tahlil atau selamatan,ziarah kubur,acara maulud,Isro Mi'roj,penetapan hari besar Islam,pandangan terhadap dzuriah Rosul,dan lainnya.Orang-orang MuNU mau ikut mana saja boleh,asal dilakukan tanpa paksaan.Damai tak perlu ada keributan,semua tinggal mengikuti pendapat para ulama dan sudah ada porsinya masing-masing.

Kelompok MuNU adalah kelompok yang tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai orang-orang Muhammadiyah atau NU.Kelompok MuNu adalah kelompok yang tidak anti Muhammadiyah atau NU.Kelompok MuNU adalah kelompok yang orang-orangnya tidak terlalu tampak namun sebenarnya cukup banyak.Kelompok MuNU adalah orang-orang yang bisa ikut organisasi Muhammadiyah atau NU,atau tidak mengikuti keduanya.Kelompok MuNU adalah kelompok yang benar-benar bebas tanpa merasa diri yang paling benar.Kelompok MuNU adalah kelompok yang tidak ada ketuanya atau organ-organ lainnya karena memang bukan organisasi.Kelompok MuNU dikelompokkan hanya karena adanya kesamaan ide,gagasan,dan amalannya saja,di mana mereka tidak ingin dibatasi sebagai kelompok Muhammadiyah dan NU,yang merupakan dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Ribut-ribut Masalah Habib di Indonesia

Sedang ramai dibicarakan masalah keabsahan Bani Alawi atau Baalawi yang biasa disebut habib,yang selama ini mengklaim sebagai keturunan Rasulullah Mihammada SAW.Hal ini bermula dari buku buah karya K.H. Imaduddin Al Bantani,yang mana di dalam tulisannya menjelaskan jika Baalawi itu bukan keturunan Rasulullah.Untuk lebih lanjut,silahkan baca saja sendiri buku atau kitabnya,di mana linknya bisa diakses di website resminya,dan beberapa sosial media yang turut membagikannya.

Pro dan kontra terhadap kitab karya K.H. Imaduddin tersebut akhirnya tak terelakkan.Pembahasan,diskusi,perdebatan,gontok-gontokan,saling caci maki,dan entah namanya apalagi,baik yang tatap muka langsung atau online juga bermuculan di mana-mana dan berlangsung hingga berbulan-bulan lamanya.Melelahkan,menjemukan,memuakkan,membingungkan,dan entah apalagi efek yang ditimbulkannya.

Orang-orang yang pro K.H. Imaduddin ada yang pro karena meyakini jika tulisan hasil karya kiai muda tersebut ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan,ada juga yang pro karena orang-orang tersebut sudah muak dengan para oknum-oknum Baalawi yang selalu membanggakan diri dengan nasabnya,oknum-oknum yang memberikan doktrin jika tak mencintai atau membenci mereka akan masuk neraka,oknum-oknum Baalawi yang suka menghina,mencela,meminta-minta,tidak mau dikritik,merasa suci,merasa terjaga dari dosa,dan beberapa perangai buruk lainnya.Sementara sebagian lain pro karena perpaduan dua sebab tersebut.

Sama seperti yang pro,orang-orang yang kontra dengan tulisan Kiai Imaduddin juga ada beberapa sebabnya,ada yang berpendapat jika tulisan karyanya tersebut tidak ilmiah,ada juga yang berpendapat jika Kiai Imaduddin hanya mengada-ada,memfitnah,iri dengki,dan lain-lain.Atau juga karena perpaduan dua sebab tersebut.

Lalu bagaimana dengan saya?.Saya yang bukan siapa-siapa awalnya cenderung ke yang pro dengan karya Kiai Imaduddin,hal ini dikarenakan saya terbiasa melihat sepak terjang beberapa oknum Baalawi yang berperilaku negatif di sekitar saya,yang sudah berlangsung cukup lama,dari saya kecil hingga dewasa.Tapi saya pada akhirnya sampai pada titik tidak ikut yang pro atau yang kontra,karena saya memposisikan diri sebagai orang 'merdeka dan bertanggung jawab'.Saya memposisikan diri sebagai orang yang tidak cinta atau benci kepada Baalawi atau dzuriah Rosul lainnya.Saya memposisikan diri sebagai orang yang tidak terlalu mempermasalahkan apakah Baalawi atau habib adalah dzuriah Raulullah atau bukan.Saya memposisikan diri debagai makhluk yang sama-sama ciptaan Allah SWT,sama dan tiada beda di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kiai Imaduddin tentu sudah tahu konsekwensinya dalam menulis kitab tersebut,apa manfaatnya,apa untung ruginya,juga apa dampak-dampak lainnya.Pihak Baalawi tinggal menjawab saja dengan karya tulis lainnya,yang bisa mematahkan isi buku karya ulama yang masih terbilang keturunan Sultan Hasanuddin Banten tersebut.Lanjutkan dialog,lanjutkan berdiskusi,lanjutkan adu data dan argumen,kalau mau lanjut 'gontok-gantokkan' juga silahkan.Karena dari cara menyelesaikan masalah,akan terlihat seberapa jauh dan dalamnya keilmuan dan adab seseorang.

Berkaitan dengan pro kontra tersebut,saya,sebagai orang yang memposisikan diri sebagai orang yang merdeka dan bertanggungjawab,hanya sesekali ikut nimbrung,untuk menambah ilmu pengetahuan,yang sesekali ikutan 'nyemprot' kalau ada orang yang sudah mulai menghina,mengadu domba,memfitnah,atau perilaku buruk lainnya.Mau pro atau kontra,semua ada pertanggungjawbannya.

Berkaitan dengan Baalawi atau keturunan Rasulullah lainnya ini,saya sudah mempunyai sikap sedari dulu,bahwa manusia adalah sama,tidak ada yang lebih mulia atau hina di hadapan Yang Maha Kuasa.Tidak ada yang perlu ditinggikan,dan tak ada yang perlu direndahkan.Tak perlu dicinta atau dibenci secara berlebihan.Sikap ini sesuai berdasarkan ilmu yang saya perolah saat saya sekolah dan dan ngaji di pesantren.Jadi bukan asal jeplak atau asal bersikap,tapi semua ada dasarnya.

Allah tidak melihat orang dari rupa,suku,ras,harta,tahta atau nasabnya,melainkan karena taqwanya.Itu ilmu yang saya dapat ketika belajar Al Quran hadist saat saya sekolah dan mondok dulu.Nabi Muhammad bersabda jika manusia yang paling baik adalah manusia yang bagus akhlaknya,dan manusia yang bisa memberikan manfaat bagi sesama Makhluk ciptaanNya.Nabi Muhammad juga tak membedakan orang dalam hukum,hal ini juga dikatakannya dalam sebuah hadis dengan ucapan 'Jika Fatimah mencuri,maka dia juga akan aku hukum'.Dari Quran dan hadist itu sebenarnya sudah jelas,jika semua manusia itu sama di hadapan Sang Pencipta.Dan di hadapan hukum,sama juga seharusnya.

Semoga akibat dari sikap pro dan kontra tersebut pada akhirnya bisa membawa kebaikan bagi semuanya.Semoga akibat dari sikap pro dan kontra tersebut pada akhirnya menjadikan peringatan bagi oknum-oknum yang selama ini sudah arogan dan berbuat menyalahi aturan.Sebagai manusia merdeka dan bertanggung jawab,saya yang bukan siapa-siapa ini lebih memilih bersikap netral.Untuk yang pro silahkan,untuk yang kontra silahkan.Yang terpenting selesaikan masalah dengan cara elegan.

Dari dulu saya sudah bergaul dengan para habib atau keturunan  Baalawi,juga orang-orang yang mengaku dzuriah Rasulullah lainnya.Saya perlakukan mereka sama dengan cara saya memperlakukan orang-orang lain pada umumnya.Saya memperlakukan mereka sama seperti mereka memperlakukan saya.Tidak mengistimewakan,tidak juga menyepelekan.Karena pada hakikatnya kita adalah sama di hadapan Sang Pencipta Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.


Senin, 09 Januari 2023

Uang

Uang

Uang
Aku ingin uang
Uang
Aku butuh uang
Uang
Maukah kau mendekat padaku
Maukah kau masuk kantongku
Uang
Aku mau uang
Uang
Aku harap uang
Uang
Maukah kau menemaniku
Maukah kau membahagiakanku
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Uang
Segeralah kau datang

Selasa, 14 September 2021

Kiai Gozali dan Keluarganya

Kiai Gozali dan Keluarganya

Kiai Gozali adalah salah seorang yang tergabung dalam kelompok Ardisela di waktu belakangan.Beliau adalah seorang ulama keturunan Syekh Bentong yang menikah dengan Nyai Fatimah,putri atau cucu Mbah Muqoyim dari istrinya yang tinggal di Tuk Karangsuwung.Sepeninggal Mbah Muqoyim,Kiai Gozali lah yang melanjutkan keberadaan Pesantren Tuk Karangsuwung yang pernah didirikan oleh Mbah Muqoyim di masa tuanya setelah beliau kembali dari pelariannya ke Pemalang.Pengelolaan Pesantren Tuk Karangsuwung yang letaknya tak jauh dari Makam Mbah Muqoyim ini disokong juga oleh Mbah Mutaad,yang di kemudian hari lebih aktif mengurusi Pesantren Buntet.Hingga beberapa generasi Pesantren Tuk Karangsuwung ini terus berjalan,dan tutup sekitar tahun 1960 an.Sekarang ini lokasi Pesantren Tuk Karangsuwung  lebih dikenal dengan nama Blok Kamer atau Gang Kiai Kamali.

Dari pernikahannya dengan Nyai Fatimah binti Mbah Muqoyim Kiai Gozali dikarunia beberapa putra,salah satu putranya yang dikenal pada zamannya adalah Kiai Abdussalam.

Kiai Gozali dan Mbah Mutaad juga akhirnya menjadi besan,karena 
Kiai Abdussalam menikah dengan Nyai Saodah binti Mbah Mutaad.Dari pernikahannya dengan Nyai Saodah ini Kiai Abdussalam dikarunia empat orang putra dan satu putri,yaitu :
1.Kiai Ilyas
2.Kiai Hamzah
3.Kiai Ahmad Dahlan
4.Nyai Ruhilah
5.Kiai Ahmad Hud.

Memgenai putra atau putri lainnya dari Kiai Ardisela Gozali ini belum diketahui,karena anak cucunya tidak terbiasa membuat daftar silsilah atau nama-nama anggota keluarga.

Informasi dan data selanjutnya adalah tentang putra-putri Kiai Abdussalam,di antaranya adalah Kiai Ilyas dan Nyai Ruhilah.Cucu Kiai Gozali yang bernama Kiai Ilyas bin Kiai Abdussalam ini diketahui menikah dengan Nyai Fatonah,putri dari Nyai Kulak dan Kiai Abdul Mu'thi bin Mbah Mutaad.Dari perkawinannya dengan Nyai Fatonah ini Kiai Ilyas dikaruniai sembilan putra dan putri,yaitu :
1.Kiai Haji Arsyad
2.Nyai Naimah
3.Nyai Siti Aminah
4.Kiai Aqib
5.Kiai Abdullah
6.Nyai Aisyah
7.Nyai Khadijah
8.Nyai Saodah
9.Nyai Fatimah

Nyai Ruhilah menikah dengan Raden Abdullah Raksa,cucu Raden Rangga Nitipraja dan Nyi Raden Aris binti Mbah Raden Ardisela.Dari perkawinannya dengan Raden Abdullah Raksa Nyai Ruhilah dikaruniai seorang putra dan seorang putri,yaitu :
1.Raden Kalyubi
2.Nyi Raden Maksunah

Anak cucu Kiai Gozali banyak yang menikah dengan para keturunan Mbah Muqoyim,Mbah Mutaad dan keturunan para Ardisela lainnya,baik itu dengan keturunan Kiai Ardisela,Ardisela Jaha atau Buyut Jaha,dan Mbah Raden Ardisela.Sebagaian besar keturunannyapun masih ada kaitannya dengan keturunan yang berada di beberapa pesantren yang ada di Cirebon,seperti Pesantren Buntet,Pemijen,Gedongan,dan Pesantren Tuk Karangsuwung.(Hingga tahun 1970,hanya Pesantren Tuk Karangsuwung yang tutup).

Ketika meninggal,Kiai Gozali dimakamkan dekat Mbah Muqoyim dan anak keturunan Mbah Muqoyim lainnya di Pemakaman Tuk Lor.Jadi,makam Ardisela yang berada di dekat makam Mbah Muqoyim seperti yang tertulis dalam 'Buku Buntet Perlawanan dari Tanah Pengasingan' adalah makam Kiai Gozali atau yang dulu biasa disebut Ardisela Gozali.

*Penulis 'Buku Buntet Perlawanan dari Tanah pengasingan' yang bernama H. Ahmad Zaini Hasan adalah cucu dari Nyai Saodah binti Mbah Mutaad dan Kiai Abdussalam bin Kiai Gozali.

Kiai Gozali

Kiai Gozali

Salah seorang Ardisela yang tergabung dalam kelompok pejuang Ardisela adalah Kiai Gozali.Beliau adalah ulama yang tak lain adalah menantu dari Mbah Muqoyim dari istrinya yang berada di Tuk Karangsuwung.Nyai Fatimah,demikian nama putri Mbah Muqoyim yang dinikahi oleh Kiai Gozali.(Ada yang berpendapat Nyai Fatimah ini anak,ada juga yang berpendapat beliau adalah cucu dari Mbah Muqoyim).

Kiai Gozali adalah ulama keturunan Syekh Bentong,namun tidak ada data pasti keturunan keberapa.Data tersebut didapat secara lisan dari keturunannya yang tinggal di Buntet Pesantren,Tuk Karangsuwung,Lemahabang,dan Kaseouhan.

Tak banyak kisah yang berkaitan dengan Kiai Gozali yang biasa disebut Ardisela Gozali ini.Sebagian besar anak cucunya sendiri tidak tahu jika Kiai Gozali ini termasuk ke dalam kelompok pejuang Ardisela.Hal ini baru diketahui dari peneliti Ardisela yang memberitahukan kepada anak cucunya.Informasi ini memperkuat kisah tentang seorang Ardisela yang tak lain adalah menantu atau cucu mantu dari Mbah Muqoyim yang sudah lama terdengar dari mulut ke mulut secara turun temurun,baik di Buntet Pesantren maupun di Tuk Karangsuwung.

Dari segi usia,Kiai Gozali ini tidak jauh usianya dengan usia Buyut Jaha atau Mbah R. Ardisela namun lebih muda.Sementara jika dibandingkan dengan Raden Rangga Nitipraja,Mbah Mutaad dan Kiai Takrifudin pendiri Pesantren Pemijen,usianya sedikit lebih tua.Kiai Gozali termasuk pejuang Ardisela yang bergabung belakangan.Sedikit sekali informasi mengenai dirinya ini.Kiprahnya sebagai Ardisela juga tidak begitu diketahui oleh banyak orang,termasuk oleh keturunannya sendiri.

Masa-masa menuju Indonesia merdeka hingga tahun 2000 an M sebelum diketahui oleh umum jika Ardisela adalah nama sekelompok pejuang,sering kali terjadi perdebatan panjang dan tak ada habisnya mengenai siapa istri dari Kiai Ardisela.Ada yang berpendapat jika istrinya adalah adik,keponakan atau anak Mbah Muqoyim.Sementara anak cucu Mbah R. Ardisela membantah ketiga pendapat tersebut karena memang bukan ketiga wanita yang ada hubungan dengan Mbah Muqoyimlah yang menjadi istrinya.
Setelah melalui penelitian panjang mengenai Ardisela,baik meneliti dari asal usul,silsilah,keluarga dan keturunan,kisah dan lain sebagainya,ternyata semua pendapat itu benar,karena baik adik,keponakan atau anak Mbah Muqoyim memang menjadi istri dari Ardisela,namun Ardisela yang berbeda.Kiai Ardisela menikah dengan adik Mbah Muqoyim yang bernama Nyai Alfan,Kiai Ardisela Jaha atau buyut Jaha menikah dengan putri Kiai Ardisela yang bernama Nyai Khafiun yang tak lain adalah keponakan Mbah Muqoyim,sementara Ardisela Gozali atau Kiai Gozali menikah dengan putri atau cucu Mbah Muqoyim yang bernama Nyai Fatimah dari istrinya yang berasal dari Tuk Karangsuwung.Sementara Mbah R. Ardisela atau Ardisela Tuk Muara Bengkeng menikah dengan putri seorang ulama yang bernama Nyai Maemunah yang bukan bagian dari keluarga Mbah Muqoyim.

Makam Kiai Gozali berada di Tuk Karangsuwung,berada di dekat makam Mbah Muqoyim mertuanya.Karena itu banyak yang menyangka jika makam Ardisela yang berada di dekat makam Mbah Muqoyim tersebut adalah makam Kiai Ardisela Buntet.Hal ini seperti yang tertulis dalam buku 'Buntet,Perlawanan dari Tanah Pengasingan'.

Minggu, 01 September 2019

Makam Ki Layaman

Makam Ki Layaman

Ki Layaman dikenal sebagai seorang yang sakti mandraguna dan juga sebagai seorang ahli ilmu agama yang tawadhu.Ki Layaman diyakini banyak orang sebagai seorang waliyullah,sehingga tak aneh jika makamnya hingga kini banyak diziarahi oleh banyak orang.Para peziarah yang datang tak hanya dari Cirebon saja,tetapi juga dari luar Cirebon.

Makam Ki Layaman ini terletak di Blok Rancang,Dawuan,Tengah Tani,Cirebon.Untuk menuju makam ini tidaklah susah,karena letaknya begitu strategis yaitu dekat dengan jalan raya yang menghubungkan Cirebon Bandung atau Cirebon Jakarta.Jika dari arah Bandung atau Jakarta,letak makamnya berada di sebelah kanan,bila dari Cirebon atau Jawa Tengah,letaknya ada di sebelah kiri.Hanya berjarak sekitar 20 meter,di belakang rumah penduduk.

Makam Ki Layaman dapat dengan mudah dijangkau dengan kendaraan umum atau pribadi.Apabila naik kendaraan umum dari Bandung atau Jakarta,turun setelah pertigaan Tengah Tani,jika dari arah Cirebon atau Jawa Tengah turun sebelum pertigaannya.Dari terminal Cirebon biasanya para peziarah bisa naik angkutan elf jurusan Bandung,Gegesik atau Indramayu.Bila dari Kota Cirebon,naik saja angkot jurusan Plered atau Palimanan.Di tepi jalanpun sudah ada tulisan nama makamnya.Hampir sebagian besar Mobil umum atau angkot tahu makam ini,karena letaknya yang memang begitu dekat denga jalan raya.


Jumat, 30 Agustus 2019

Aneka Foto 7

Aneka Foto (7)


Makam Mbah Raden Dikrama dan istrinya.Mbah Raden Dikrama adalah salah seorang teman seperjuangan dan orang kepercayaan Mbah Raden Ardisela.Beliau dikenal sebagai ahli pembuat senjata dan mpu keris.



Salah satu tombak buatan Mbah Raden Dikrama yang disimpan dan dirawat oleh keturunannya.

Rabu, 28 Agustus 2019

Kiai Layaman,Waliyullah yang Tawadhu

Kiai Layaman,Waliyullah yang Tawadhu

Ki Layaman dikenal sebagai seorang yang ahli dalam ilmu agama Islam dan seorang yang sakti mandraguna,sama seperti Buyut Muji ayahnya.Di kalangan masyarakat di sekitarnya saat itu,beliau dikenal sebagai seorang yang tawadhu.Ketawadhuan tersebut lakukan dalam kehidupannya sehari-hari.Hal inilah yang membuatnya dikenal sebagi seorang yang rendah hati dan tidak sombong.

Dalam bidang pekerjaan,Kiai Layaman tidak pernah mau  memandang sebelah mata pekerjaan apapun.Baginya semua pekerjaan adalah sama baiknya,yang penting pekerjaan itu halal.Sehingga walau beliau dikenal mempunyai kemampuan lebih dibanding orang kebanyakan pada umumnya,beliau memilih pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan yang tidak terlalu dianggap bergengsi di kalangan banyak orang.Kiai Layaman memilih pekerjaan sebagai pengurus kuda-kuda milik Kesultanan Kasepuhan Cirebon.Pekerjaan yang dulu dilakukan oleh ayahnya itu dilanjutkan olehnya tanpa rasa sungkan.

Sebagai seorang yang ahli dalam bidang agama dan dikenal sebagai orang sakti yang bisa mengobati aneka macam penyakit,Ki Layaman sebenarnya bisa saja  mendapatkan pekerjaan lain dan memperoleh uang lebih dari keahliannya itu.Kalau mau,beliau bisa saja memanfaatkan kemampuannya tersebut,sehingga beliau tak harus repot-repot bekerja sebagai pengurus kuda yang cukup menguras tenaga.

Kesempatan lain juga bisa diperolehnya,karena para iparnya termasuk orang-orang terpandang dan mempunyai jabatan yang baik di Kesultanan Cirebon.Namun walau kakak dan adik ipar Ki Layaman hampir semuanya mempunyai jabatan,tak sedikitpun beliau mau memanfaatkan peluang tersebut untuk kepentingan pribadinya.Padahal jika mau,tentu sangat mudah baginya untuk melakukan hal tersebut.

Ketawaduan atau kerendah hatian memang begitu melekat pada diri Ki Layaman.Ketawadhuan ini  beliau terapkan dalam kehidupannya sehari-hari,termasuk dalam hal pekerjaan yang belum tentu bisa dilakukan oleh banyak orang pada umumnya.Karena ketawadhuannya ini,di kemudian hari akhirnya beliaupun dikenal sebagai seorang waliyullah yang tawadhu.

Selasa, 27 Agustus 2019

Kolam-kolam Milik Mbah Raden Ardisela

Kolam-kolam Milik Mbah Raden Ardisela

Mbah Raden Ardisela dikenal sebagai orang yang suka memancing ikan,baik itu memancing di sungai,di laut,atau di kolam.Kebiasaan ini sudah beliau lakukan sejak kecil.Ketika beranjak dewasa hingga masa tuanya,kebiasaan itu tetap dilakukannya.

Ketika menjabat sebagai pemangku wilayah atau demang Sindanglaut,Mbah Raden Ardisela membuat kolam untuk memelihara aneka jenis ikan.Selain karena hobi,tujuan pembuatan kolam tersebut adalah upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui bidang perikanan.Kolam atau balong pertama yang beliau buat di Sindanglaut,tepatnya di Desa Cipeujeuh,di kemudian hari lebih dikenal dengan nama Balong Raden yang berada di Blok Peradenan.Untuk mengalirkan air dari sungai di sekitarnya yang letaknya lebih rendah,Mbah Raden Ardisela meminta orang-orang kepercayaannya untuk membendung sungai untuk mengalirkan air ke kolam tersebut.

Ketika Mbah Muqoyim melarikan diri dari kejaran penjajah di Pesawahan Sindanglaut,Mbah Raden Ardisela menyembunyikan Mbah Muqoyim di kediamannya di Tuk Karangsuwung.Mengetahui jika Mbah Muqoyim suka dengan ikan,kembali Mbah Raden Ardisela membuat beberapa kolam ikan lagi di Tuk Karangsuwung.Sehingga ketika Mbah Muqoyim ingin makan ikan,maka tak perlu repot-repot pergi ke kolam yang ada di Sindanglaut,cukup mengambilnya di Tuk Karangsuwung,di sekitar rumah Mbah Raden Ardisela.

Selain di Peradenan Cipeujeuh Wetan dan Tuk Karangsuwung,Mbah Raden Ardisela juga membuat kolam di daerah Ciburuy Wangkelang.Ketiga kolam tersebut dirawat dengan baik hingga menghasilkan ikan-ikan yang lumayan banyak setiap kali dipanen.Karena kolam ikan dan ikan-ikannya semakin banyak,maka ikan-ikan tersebut tak hanya dinikmati oleh Mbah Raden Ardisela,keluarga dan para pegawainya saja.Setiap kali memanen ikan di kolam,ikan-ikan tersebut pada akhirnya beliau bagikan kepada masyarakat umum,terutama masyarakat yang berada di sekitar kolamnya.Kebiasaan ini beliau lakukan hingga akhir hayatnya.

Sepeninggal Mbah Raden Ardisela,kolam-kolam di Peradenan Cipeujeuh Wetan,Blok Muara Bengkeng Tuk Karangsuwung dan Ciburuy Wangkelang tersebut diwariskan kepada anak cucu dari Nyi Raden Aras dan Nyi Raden Aris.Hingga beberapa generasi,kolam-kolam tersebut masih ada dan dipelihara dengan baik oleh keturunan yang mendapat hak atau bagian waris dari kedua putri Mbah Raden Ardisela tersebut.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Kisah Unik Seputar Ardisela

Kisah Unik Seputar Ardisela

Penulis yang lahir dan besar di Tuk Karangsuwung,di mana ada makam Mbah Raden Ardisela dan makam Mbah Muqoyim berada,seringkali mendapati hal-hal unik berkaitan dengan kisah Ardisela.Ketika berkunjung ke beberapa pesantren atau tempat lainnya yang ada kaitannya dengan kedua tokoh tersebut,hal yang didapati juga tak jauh berbeda.Beberapa hal yang menarik adalah cerita beserta aneka perdebatan karena berbedanya kisah dan pendapat tentang siapa sebenarnya Ardisela ini.Hal ini terjadi sebelum penulis dan banyak orang tahu jika Ardisela adalah nama sekelompok pejuang,sama seperti orang-orang yang bercerita dan berdebat tersebut.Beberapa hal unik yang seeing diceritakan atau menjadi perdebatan di antaranya adalah :

1.Mengenai asal-usulnya

Asal-usul Ardisela ini seringkali jadi perdebatan panjang.Karena di Tuk Karangsuwung dan beberapa pesantren lainnya itu memang terdiri dari banyak keturunan para Ardisela yang berbeda,maka perdebatan itu tak bisa dihindarkan.Yang satu bilang berasal dari Indramayu,yang lain bilang berasal dari Cirebon,sementara yang lain bilang berasal dari Arab alias Timur Tengah.Perdebatan panjang yang tak ada habisnya,bahkan hingga penulis dewasa.Ternyata semuanya benar,karena Ardisela adalah sekelompok pejuang yang berasal dari wilayah berbeda namun mempunyai kesamaan visi dan misi dalam berjuang.

2.Mengenai pekerjaannya

Apasih profesi atau pekerjaan Ardisela?.Mengenai hal ini juga selalu dibahas hingga tak selesai-selesai.Ada yang bilang ulama atau kiai,ada yang bilang pemangku wilayah atau demang,atau lainnya.Profesi para Arsisela itu nyatanya bermacam-macam,ada yang pemangku wilayah,ulama atau kiai,ahli senjata,ahli pengobatan atau ahli hikmah,dan profesi lainnya.

3.Mengenai istrinya

Hal lain yang sering diperdebatkan adalah nama istri Ardisela.Siapakah istri Ardisela itu?,ada yang bilang adik Mbah Muqoyim,ada yang bilang keponakannya,ada yang bilang anaknya,ada yang bilang bukan ketiganya.Ternyata semuanya benar.Yang menikah dengan adik Mbah Muqoyim adalah Kiai Ardisela yang menikah dengan adik Mbah Muqoyim yang bernama Nyai Alfan.Yang menikah dengan keponakannya adalah Ardisela Jaha atau Buyut Jaha,beliau menikah dengan keponakan Mbah Muqoyim,yaitu Nyai Khafiun binti Kiai Ardisela.Yang menikah dengan anak Mbah Muqoyim adalah Kiai Gozali yang biasa disebut Kiai Ardisela Gozali.Beliau menikah dengan Nyai Fatimah,putri Mbah Muqoyim dari istri yang tinggal di Tuk Karangsuwung.Sementara yang menikah dengan wanita yang tidak ada kaitannya dengan Mbah Muqoyim adalah Mbah Raden Ardisela,dan Ardisela lainnya.

4.Mengenai silsilahnya

Ada yang bilang Ardisela itu satu,tapi banyak kiai atau keturunan para Ardisela yang mempunyai silsilah yang berbeda.Di sebuah catatan milik kiai dari Losari,Kiai Ardisela adalah keturunan Sunan Kalijaga dan Ardisela yang satunya tertulis sebagai menantu Kiai  Ardisela.Sementara kiai lain memegang silsilah jika Kiai Ardisela adalah keturunan Sunan Gunung Jati.Hal ini tentu saja menimbulkan kebingungan.Mengapa satu orang tapi ayah atau silsilah jalur laki-lakinya berbeda-beda.Setelah diketahui jika Ardisela yang sezaman dengan Mbah Muqoyim adalah nama sekelompok pejuang,barulah orang-orang sadar jika silsilah yang dipegang oleh masing-masing keturunan adalah benar.Kalau ada yang mempunyai silsilah yang berbeda dalam satu keluarga,itu karena antara keturunan para Ardisela satu sama lain saling menikah.

5.Mengenai keluarga dan anak keturunannya

Setiap keturunan Ardisela yang berbeda mencatat nama istri,anak,dan keturunan yang berbeda.Nama anak keturunan Ardisela yang satu dengan nama keturunan Ardisela yang lainnya tentu saja berbeda-beda.Yang satu mencatat istri dengan dua anak,sementara yang lainnya lebih dari dua.Yang satu mencatat satu laki-laki dan satu perempuan,yang satu lagi mencatat semua anaknya perempuan,yang lain mencatat anaknya laki-laki saja,sementara yang lainnya mencatat anaknya berbeda lagi.Karena hal ini,anak keturunan Ardisela yang satu dengan Ardisela yang lainnya sering saling klaim dan saling menghina.Sungguh sangat disayangkan,karena hal yang tidak terpuji terjadi karena ketidaktahuan akan sejarah.Karena tidak ingin ada saling klaim dan saling  menghina itulah yang akhirnya memutuskan penulis meneliti Ardisela secara mendalam selama bertahun-tahun hingga akhirnya tahu jika 'Ardisela di era Mbah Muqoyim adalah sekelompok pejuang dengan orang yang berbeda'.

6.Mengenai kisah hidupnya

Karena berbeda asal usul,pekerjaan,silsilah,istri,anak keturunan dan beberapa hal lainnya,tentu saja kisah hidupnyapun berbeda-beda.Hal inilah yang sering membuat banyak orang menjadi bingung.Kisah hidup yang berbeda ini sering diceritakan oleh para orangtua,bahkan oleh para kiai ketika sedang berceramah.Hal ini terjadi selama puluhan tahun.Contohnya yang dikhauli adalah Ardisela Tuk,yang diceritakan Ardisela lainnya.Yang jadi panitia,anak keturunan,jamaah hanya bisa manggut-manggut sambil merasa kebingungan.Ketika yang diceritakan tentang perjuangannya hampir semua tak terlalu masalah,karena semuanya adalah pejuang,tapi ketika bercerita mengenai anak keturunannya,barulah banyak yang bertanya-tanya.Mau interupsipun tidak bisa,karena dalam ceramah atau tabligh biasanya tak ada tanya jawab.

7.Mengenai makamnya

Ada banyak makam Ardisela dan tersebar di banyak tempat atau wilayah berbeda.Di Tuk Karangsuwung saja ada beberapa makam Ardisela.Ada yang di Muara Bengkeng,ada juga yang dekat Mbah Muqoyim.Sementara yang lainnya ada yang di Sleman Indramayu,Cirea Kuningan,Sumedang,Banyuwangi, dan lain sebagainya.Karena belum tahu sejarah Ardisela,banyak orang yang mengira jika makam-makam Ardisela yang banyak tersebut adalah petilasan atau tempat persinggahan Kiai Ardisela.Setelah tahu sejarahnya,barulah orang-orang itu tahu jika makam tersebut adalah asli dan benar adanya.
Kalau nama asli Ardisela sudah diketahui dan diberitahukan kepada banyak orang,biasanya sebutan Ardisela ini sudah tidak terlalu sering diucapkan lagi,bahkan seringkali sudah dilupakan.Sebutan makamnya hanya disebut dengan nama makam tokohnya langsung tanpa tambahan Ardisela,baik itu di depan ataupun di belakangnya.Contohnya adalah makam Ardisela yang berada di Keradenan,Dukuh Puntang Cirebon.

Rabu, 14 Agustus 2019

Kiai Hasan,Sang Kiai Penyabar

Kiai Hasan,Sang Kiai Penyabar

Kiai Hasan adalah anak pertama dari dua bersaudara,putra dari Kiai Muhammad dan Nyai Ning.Adiknya bernama Kiai Husain.Hasan dan Husain,dua nama yang diambil dari nama cucu Nabi Muhammada SAW.Tak banyak informasi tentang ayah atau ibu dari Kiai Hasan ini,namun yang pasti ayah Kiai Hasan ini termasuk kiai dan ibunya juga putri seorang kiai atau ulama juga.

Kiai Hasan kecil berguru kepada beberapa guru mengaji,salah satu guru yang diketahui secara pasti adalah Kiai Anwarudin atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Krian,ulama Keraton Kasepuhan yang paling dikenal saat itu.Tak diketahui di mana Kiai Hasan belajar pada Kiai Krian,apakah di sekitar Kasepuhan di dekat Kiai Krian tinggal,Pesantren Benda Kerep,ataukah di Pesantren  Buntet,karena selain dikenal sebagai ulama Keraton Kasepuhan,Kiai Krian juga diketahui turut mengajar para santri di kedua pesantren tersebut.

Setelah dewasa Kiai Hasan menikah dengan Nyai Nurhanid dan dikarunia seorang putri bernama Nyai Mukhsinah.Beliaupun memulai langkahnya sebagai guru mengaji di sekitar rumahnya di Jati Sari Plered.Di sini beliau mendirikan Pesantren yang biasa disebut Pesantren Jati Sari,sebuah pesantren yang hingga kini masih berdiri dan diteruskan oleh anak keturunanya.Saat mengajar santrinya inilah akhirnya Kiai Hasan diminta menikah lagi dengan adik dari Kiai Maksum,santri senior yang diajarnya.Dari istri keduanya ini Kiai Hasan dikaruniai seorang putra bernama Kiai Ibrohim.

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman dalam mengajar,Kiai Hasanpun semakin dikenal oleh berbagai kalangan saat itu.Semakin lama akhirnya semakin banyak pula ulama Cirebon dan sekitarnya yang mempercayai dan menitipkan anaknya untuk dididik oleh Kiai Hasan.Beberapa santrinya yang di kemudian hari dikenal sebagai ulama di Cirebon di antaranya adalah Kiai Jauhari (Pesantren Balerante),Kiai Harun (pendiri Pesantren Kempek),Kiai Hanan (Pesantren Babakan),Kiai Abas (putra Kiai Abdul Jamil Pesantren Buntet),Habib Syekh (Pesantren Jagasatru),dan beberapa ulama lainnya.Setelah wafatnya Kiai Krian,Kiai Hasanlah yang sering menjadi rujukan para ulama Cirebon pada saat ada masalah dalam urusan agama yang tidak terpecahkan.

Selain dikenal sebagai ulama yang pandai,Kiai Hasan juga dikenal sebagai ulama yang penyabar.Hampir tak pernah ada orang yang  melihat bila beliau pernah marah atau menunjukkan rasa kesalnya di hadapan orang lain.Karena kesabarannya yang sangat kuat itulah yang membuat beberapa orang penasaran dan ingin sekali melihat Kiai Hasan marah.Berbagai carapun dilakukan.Suatu saat seorang santrinya berulah dengan maksud agar Kiai Hasan marah,namun ulah santrinya itu tak membuahkan hasil juga.Di lain waktu seorang penjahit dengan sengaja membuat baju pesanan Kiai Hasan yang tak sesuai dengan keinginanya,namun bukannya marah tetapi beliau malah tetap memakai baju tersebut tanpa sedikitpun menunjukkan ekspresi kesalnya.

Kiai Hasan Sang Kiai Penyabar,begitulah kesan yang diberikan oleh para santri dan orang-orang yang pernah berhubungan langsung dengannya.

Sabtu, 10 Agustus 2019

Aneka Foto (6)

Aneka Foto (6)


Muara Benteng yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Muara Bengkeng.Kolam berisi air buatan Mbah Raden Ardisela yang didoakan oleh Mbah Muqoyim agar bisa memberi manfaat.Letaknya berada di depan/utara Masjid Mbah Raden Ardisela.



Sumur Jimat Tuk Karangsuwung dibuat oleh Mbah Raden Dikrama sang empu keris dan senjata.Beliau adalah sahabat sekaligus orang kepercayaan Mbah Raden Ardisela.Sumur ini terletak di perbatasan Desa Tuk Karangsuwung dan Leuwidingding.

Aneka Foto (5)

Aneka Foto (5)



Masjid Mbah Raden Ardisela Tuk Sida Parta,Tuk Karangsuwung,Lemahabang,Cirebon.


Mushola yang didirikan oleh Mbah Muqoyim yang dulunya berada di tengah-tengah Pesantren Tuk.Sekarang masuk blok Kamer/Gang Kiai Kamali,Lemahabang Kulon,Lemahabang,Cirebon.

Aneka Foto (4)

Aneka Foto (4)


Makam Mbah Muqoyim di Tuk Karangsuwung,Lemahabang.Beliau adalah guru sekaligus teman seperjuangan Mbah Raden Ardisela.


Makam Mbah Muta'ad,cucu mantu Mbah Muqoyim yang tak lain adalah teman seperjuangan Raden Rangga Nitipraja.Makamnya berada tak jauh dari makam Mbah Muqoyim.


Makam Mbah Takrifudin pendiri Pesantren Pemijen,Asem Lemahabang.Beliau adalah teman seperjuangan sekaligus besan dari Raden Rangga Nitipraja.

Jumat, 09 Agustus 2019

Aneka Foto (3)

Aneka Foto (3)



Kitab tulisan tangan milik Raden Kalyubi Abdullah,yang merupakan warisan dari leluhurnya.Kitab ini berisi catatan ilmu fikih,tauhid,dan lain-lain (foto atas).Beberapa catatan kaki yang ditulis oleh anak cucu Mbah Raden Ardisela yang terdapat di kitab ini (foto bawah)





Mbah Raden Ardisela,Mbah Raden Arungan dan Nyi Raden Katijem

Mbah Raden Ardisela,Mbah Raden Arungan dan Nyi Raden Katijem

Mbah Raden Ardisela dan Mbah Raden Arungan adalah dua kakak beradik yang sama-sama putra dari Mbah Raden Demang Bratanata.Sebagai kakak dan adik,hubungan keduanya terbilang begitu dekat.Dari segi usia,usia keduanya terpaut cukup jauh dan diperkirakan lebih dari sepuluh tahun.Mbah Raden Arungan adalah anak kedua,sedangkan Mbah Raden Ardisela adalah anak kesepuluh dari sebelas bersaudara.Walau usia keduanya terpaut cukup jauh,namun hubungan keduanya terbilang dekat.

Bila Mbah Raden Ardisela bertempat tinggal di Karangsuwung dan Tuk Karangsuwung,maka Mbah Raden Arungan bertempat tinggal di Gebang.Hubungan kakak beradik ini sering dikisahkan oleh keturunan keduanya secara turun temurun.Lebih-lebih anak keduanya ada yang menikah,yaitu antara putri Mbah Raden Ardisela yang bernama Nyi Raden Aris dan anak Mbah Raden Arungan yang bernama Raden Rangga,yang di kemudian hari lebih dikenal dengan nama Raden Rangga Nitipraja.

Di dalam sebuah catatan kitab tua yang kebetulan selamat dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab,terdapat kisah yang menjelaskan tentang kepergian cucu Mbah Raden Ardisela dan Mbah Raden Arungan yang bernama Raden Sulaeman beserta anak dari Raden Niti Atmareja kakaknya.Dalam catatan itu Raden Sulaeman pergi ke Gebang Udik.Kunjungan itu dilakukan untuk melayat seseorang yang disebut mama,yang diduga adalah paman dari Raden Sulaeman dan Raden Nitiatmareja,anak Mbah Raden Arungan yang meninggal dunia.

Selain dekat dengan kakaknya yang bernama Mbah Raden Arungan,Mbah Raden Ardisela juga diketahui dekat dengan kakak perempuannya yang bernama Nyi Raden Katijem.Bila Mbah Raden Arungan tinggal di Gebang,Nyi Raden Katijem tinggal tak jauh dengan Mbah Raden Ardisela di Tuk Karangsuwung.Keduanya tinggal di desa ini hingga akhir hayatnya.Keturunan dari keduanya banyak yang bertempat tinggal di desa Tuk Karangsuwung,Sindanglaut dan sekitarnya secara turun temurun hingga saat ini.

Sujud Terakhir Kiai Ilyas Abdussalam

Sujud Terakhir Kiai Ilyas Abdussalam

Kiai Ilyas bin Kiai Abdussalam adalah putra dari Kiai Abdussalam dan Nyai .....Beliau adalah menantu dari Kiai Mu'thi bin Mbah Mutaad,suami dari putrinya yang bernama Nyai Fatonah.Dari pernikahannya dengan Nyai Fatonah ini Kiai Ilyas Abdussalam dikarunia sembilan anak,yaitu Kiai Arsyad,Nyai Naimah,Nyai Siti Aminah,Kiai Aqib,Kiai Abdullah,Nyai Aisyah,Nyai Khodijah,Nyai Saodah dan Nyai Fatimah.Masa hidup Kiai Ilyas Abdussalam banyak dihabiskan di Pesantren Buntet bersama istri dan anak-anaknya,dekat dengan keluarga besar Mbah Mutaad dan Mbah Muqoyim lainnya.

Saat usianya tak lagi muda,ada beberapa masalah yang berkaitan dengan prinsip hidupnya,baik itu berkaitan dengan masalah keluarga maupun dengan lingkungan sekitarnya,terutama kaitannya dengan masalah tarekat.Sepupu istrinya yang bernama Kiai Abas Abdul Jamil yang dikenal sebagai sesepuh Pesantren Buntet sempat menasihatinya agar Kiai Ilyas Abdussalam lebih lunak dan fleksibel dalam menghadapi aneka masalah,namun Kiai Ilyas Abdussalam yang dikenal tegas ini tetap pada pendiriannya.

Suatu hari Kiai Ilyas Abdussalam pergi ke Pesantren Benda Kerep guna menemui saudaranya yang tak lain adalah putra dan putri dari Mbah Soleh.Setelah selesai silaturohim,Kiai Abdussalam yang pergi bersama istri dan putri bungsunya itupun berpamitan pulang.Perjalanan dari Pesantren Buntet ke Benda Kerep dan sebaliknya ditempuh dengan cara berjalan kaki melewati Kanggraksan.Sebuah perjalanan yang melelahkan namun umum dilakukan oleh orang yang hidup di awal tahun 1900 an hingga masa kemerdekaan.

Ketika sampai di Kanggraksan beliau mampir di rumah saudaranya di Kanggraksan selama beberapa jam.Ketika hendak melanjutkan perjalanan pulang,entah mengapa beliau memutuskan untuk tak pulang ke Pesantren Buntet tapi pergi ke Tuk Karangsuwung,ke rumah anak dan menantunya yang tinggal di Blok Muara Bengkeng.Setelah mengantarkan anak dan istrinya pulang ke Pesantren Buntet,beliau melanjutkan perjalanan ke Tuk Karangsuwung seorang diri.

Di Tuk Karangsuwung ini Kiai Ilyas tinggal di rumah Nyai Siti Aminah anaknya,yang menikah dengan Raden Kalyubi keponakannya sendiri,putra dari Nyai Ruhilah adiknya yang menikah dengan Raden Abdullah Raksa.Di sini beliau merasa betah karena jauh dari hiruk pikuk aneka masalah,terutama permasalahan tarekat yang sedang memanas di Pesantren Buntet dan Benda Kerep.Selain Nyai Aminah,di dekat Tuk Karangsuwung ini tinggal juga dua putri Kiai Ilyas lainnya,yaitu Nyai Naimah yang menikah dengan Kiai Abu dan tingal di Dongkol Asem,serta Nyai Khodijah yang menikah dengan Kiai Sahid dan tinggal di Lemahabang,dua tempat yang saat itu masih merupakan pesantren dengan banyak santri.

Di Tuk Karangsuwung ini Kiai Ilyas Abdussalam menghabiskan masa tuanya untuk beribadah.Kiai Ilyas Abdussalam sangat gemar berpuasa dan melaksanakan sholat sunah.Selain suka puasa dan sholat sunah,beliau juga dikenal sebagai orang yang suka berbagi kepada fakir miskin.Saat tinggal di Pesantren Buntet atau di Tuk Karangsuwung,kebiasaan ini tak berubah.Ketika hendak makan beliau seringkali mencari atau mendatangi orang yang kemungkinan belum makan.

Saat sakit,Kiai Ilyas Abdussalam tak sedikitpun mau merubah kebiasaannya dalam beribadah.Suatu hari,Kiai Ilyas melaksanakan sholat sendirian.Tak dijelaskan apakah sholat wajib atau sunah,namun yang pasti beliau begitu lama saat bersujud.Ketika anaknya memanggil,Kiai Ilyas tetap diam dalam sujudnya.Setelah beberapa lama,barulah anak menantunya memberanikan diri menghampirinya.Kiai Ilyas tetap tak bergerak.Barulah anak menantunya sadar jika ternyata Kiai Ilyas Abdussalam sudah meninggal,itu adalah sholat sekaligus sujud terakhir Kiai Ilyas Abdussalam.

Ada dua pemakaman  yang terdapat di Tuk Karangsuwung,yaitu pemakaman Tuk Lor dan Tuk Kidul.Walau sebagai keturunan Mbah Muqoyim yang makamnya ada di Tuk Lor,namun anak dan menantu Kiai Ilyas Abdussalam memutuskan untuk memakamkannya di Tuk Kidul.Hal ini karena beliau tinggal bersama anak menantunya di Muara Bengkeng yang tak jauh dari makam Tuk Kidul.Akhirnya beliaupun dimakamkan satu blok dengan keluarga besar Raden Abdullah Raksa yang tak lain adalah adik ipar sekaligus besannya itu.